🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kita punya banyak waktu. Yah, seandainya saja.
🌕🌕🌕
Perasaan bahagia yang Andrea rasakan saat Johnny membawanya makan siang di restoran bawah laut itu masih tersisa. Sudah beberapa jam berlalu, bahkan Andrea sedang berdandan di depan cermin demi menghadiri makan malamnya bersama Johnny dua jam lagi, namun ia tak kunjung menyudahi senyumnya. Terkenang oleh seluruh momen manis yang tersimpan rapi di dalam memori otaknya. Hatinya pun terasa penuh, bahkan mungkin tidak muat untuk menerima kebahagiaan lain yang lebih besar. Johnny berhasil membuat Andrea merasakan indahnya bulan madu yang diimpikan setiap wanita. Malah, ia sangat layak diberi predikat suami romantis yang penuh kejutan.
"Kamu cantik," kata Johnny yang sedang duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan Andrea yang sedang berdandan. "Bahkan tanpa riasan," lanjutnya santai, lengkap dengan senyumnya yang mampu membuat Andrea terbuai.
Andrea meliriknya. "Dan aku dandan biar makin cantik. Biar nggak jomplang sama kamu yang selalu ganteng meski nggak diapa-apain."
Johnny tertawa lebar, bahkan ia menutup mulutnya sendiri dan ambruk di atas ranjang. "Kamu benar-benar bermulut manis, Rea," pria itu mengubah posisi menjadi berbaring miring, menopang kepalanya dengan sebelah tangan. "Jago banget kalau urusan ngasih makan egoku."
"Aku belajar banyak dalam hal itu, Sayang," Andrea memiringkan posisi duduknya agar menghadap ke arah Johnny. "Karena kamu selalu suka dipuji, maka aku akan memberimu banyak pujian."
"Apa terlalu jelas?"
"Apanya?"
"Kalau aku terkadang masih mencari validasi dari luar?"
Andrea mengembuskan napas panjang. "Kalau boleh jujur, sedikit kelihatan. Tapi aku mengerti kenapa bisa seperti itu. Terlebih karena aku sudah menjadi bagian dari keluargamu, aku tahu lingkungan yang membentuk karaktermu bisa menjadi seperti ini," jelasnya lirih.
"Oh, maksudmu lingkungan keluargaku?"
"Ya, kompetisinya sengit," desah Andrea, lalu memalingkan wajah kembali ke arah cermin di mana ada pantulan dirinya di sana.
Johnny kembali duduk di pinggir ranjang dan terdiam cukup lama. Ia membiarkan Andrea menyelesaikan riasannya yang tertunda. Sementara dirinya sibuk dengan pikirannya sendiri. Merenungkan apa yang baru saja dikatakan Andrea kepadanya.
Waktu terus bergulir hingga akhirnya menunjukkan pukul lima sore. Johnny yang sudah sejak tadi selesai dengan persiapannya terlihat menunggu Andrea. Wanita itu tampak tengah memilih anting mana yang harus ia kenakan untuk acara makan malam mereka.
Pria itu memperhatikan dengan seksama sang istri yang sedikit bingung. Berniat membantu, Johnny pun berjalan mendekat dan berkata. "Butuh bantuan?"
Andrea setengah terkejut, ia menoleh cepat ke arah Johnny dan meringis masam. "Aku bingung harus pakai yang mana," katanya seraya menunjukkan dua jenis anting yang berbeda di masing-masing tangannya. Anting dengan permata hitam di tangan kanan dan anting mutiara di tangan kiri.