🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hening. Seperti yang Andrea duga. Kata cinta yang baru saja terucap dari bibirnya tidak mendapat jawaban apapun dari suaminya. Sudah biasa. Membuat sang wanita semakin yakin bahwa selama ini Johnny hanya menyukai keberadaannya saja, bukan karena ia menyukai Andrea.
🌕🌕🌕
Sebuah rintihan yang lamat-lamat Andrea dengar membuat kesadaran wanita itu perlahan terkumpul. Matanya mengerjap beberapa kali dan menyadari bahwa suara itu rupanya bukanlah sebuah ilusi. Melainkan nyata adanya, berasal dari Johnny yang tengah terbaring di sampingnya. Andrea lantas penasaran, ia mengubah posisinya demi menatap Johnny yang rupanya masih memejamkan mata.
"Sayang, are you okay?" Andrea semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Johnny dan menaruh telapak tangannya ke kening sang pria. "Astaga, panas sekali," kagetnya saat mendapati telapak tangannya menyerap panas yang berasal dari kening suaminya itu.
Buru-buru Andrea memungut gaun tidur yang tergeletak di bawah ranjang dan memakainya dengan cepat. Kemudian wanita itu memilih segera turun dari ranjang dan meraih ikat rambut yang ada di atas nakas—mencepol rambutnya asal. Sesungguhnya Andrea cukup panik sekarang meski ia masih berusaha untuk tetap tenang dan berpikir jernih.
"Termometer. Ya, aku butuh termometer," Andrea bicara seorang diri seraya berjongkok di depan nakasnya dan membuka laci ketiga. "Ketemu!" serunya saat mendapati sebuah termometer digital yang dicari memang ada di sana.
Dengan sigap Andrea duduk di tepi ranjang di dekat Johnny, Andrea lantas menempelkan termometer yang ia pegang itu ke kening sang pria sambil menekan tombol ukurnya. Dan betapa terkejutnya Andrea tatkala mendapati angka yang tertera di layar termometernya. "Astaga, 39,4 derajat," mata Andrea membola seketika.
Andrea buru-buru meraih ponselnya di atas nakas dan mencari kontak dokter pribadi Johnny yang tersimpan di sana. Pada deringan ketiga, akhirnya telepon Andrea pun diangkat.
Tanpa menunggu suara dari seberang, Andrea lebih dulu berkata. "Halo, selamat pagi, Dok. Tolong datang ke rumah secepatnya. Suami saya demam. Saat saya cek suhu barusan, suhunya 39,3 derajat."
Andrea menggigit bibirnya sambil menatap wajah sang suami yang pucat dan keningnya yang berkerut cukup dalam. Sambil mendengarkan penuturan dari sang dokter yang berada di seberang telepon dengan seksama dan mengangguk sesekali. "Baik, Dok. Akan segera saya lakukan. Tolong datang secepatnya, ya. Terima kasih banyak," ucapnya sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.
Sementara itu, Johnny yang masih merintih di dekatnya membuat Andrea yang semula terdistraksi itu akhirnya kembali memperhatikan sang suami. Andrea mengusap pipi Johnny lembut. "Sabar, ya, Sayang. Dokter Fatih akan segera ke sini. Kamu aku bantu kompres dan pakai baju dulu, ya?"
"Rea ...," Johnny menggumamkan namanya meski matanya belum kunjung terbuka.
Andrea penggenggam tangan Johnny dengan kedua tangannya dan membawanya ke pipinya sendiri. Dengan mata yang berkaca-kaca Andrea menjawab. "Iya, Sayang, aku di sini. Aku izin ambil piama sama air hangat dan handuk buat kamu dulu, ya?" Andrea lantas meninggalkan Johnny sejenak menuju walk in closet untuk mengambil piama sang pria dan menghubungi Teh Suti untuk menyiapkan air hangat dan handuk untuknya. Lalu Andrea kembali setelahnya dan membantu Johnny berpakaian sambil sesekali mengusap kening sang pria yang terasa panas menyengat baginya.