Full Moon - 35

463 43 21
                                        

Sephia berusaha untuk menerima

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sephia berusaha untuk menerima. Setidaknya meskipun sedih, ia masih akan menangis di dalam mobil Porsche yang dibelikan Johnny untuknya. Bukan di dalam mobil LCGC yang harus ia beli karena putus dari Johnny, mesin uangnya.

🌕🌕🌕

Andrea keluar dari kursi belakang mobilnya dengan gerakan elegan. Ia membawa satu kantong kertas berisi keik marmer di tangan kanannya dan tersenyum saat mendapati seorang pria paruh baya sedang menunggunya di teras rumah. Wanita itu segera menaiki beberapa anak tangga dengan langkah ringan lalu menghambur ke pelukan pria tersebut.

"Papa, An kangen banget sama Papa," ucapnya dengan nada ceria di dalam pelukan Legi, ayahnya.

Legi tak kuasa menahan haru. Ia menepuk pelan punggung Andrea beberapa kali dan menjawab. "Papa juga kangen sama putri cantiknya Papa," pria itu membiarkan anak perempuan satu-satunya melepas pelukan dan melanjutkan ucapannya. "Gimana keadaanmu, An. Kamu sehat, kan?"

Andrea mengangguk. "An sehat, Pa. Papa sendiri gimana kabarnya?" wanita itu perlahan mencebikkan bibirnya. "Maaf, Pa. Akhir-akhir ini ada beberapa hal yang harus An kerjakan. Jadi, An baru sempat pulang hari ini."

"Papa juga sehat," Legi tersenyum teduh sembari mengusap rambut Andrea. "Bukan masalah, Sayang," tatapan Legi sungguh menenangkan, membuat Andrea semakin tersentuh.

"An akan sering-sering pulang ke rumah setelah kerjaan An agak longgar," janji Andrea kepada ayahnya.

Legi kembali mengangguk, mengamini keinginan putrinya. "Tapi, yang terpenting buat Papa adalah kamu sehat, suamimu juga sehat-eh, ngomong-ngomong soal suami, Johnny nggak ikut ke sini?" Legi seketika teringat Johnny, menantunya. Pria itu lantas melongok ke belakang Andrea dan mencari-cari keberadaan Johnny yang belum juga nampak batang hidungnya.

Andrea berusaha mengulas senyum. "Johnny nggak bisa ikut karena ada janji main golf sama kolega bisnisnya," wanita itu buru-buru mengangkat kantong kertas yang ia bawa dan mengalihkan pembicaraan. "An bawa keik marmer bikinan An sendiri, kesukaannya Papa."

Legi sontak tersenyum lebar. "Wah, makasih, Sayang. Ayo ayo masuk, kita ngobrol di dalam saja. Di luar agak dingin."

Pria itu tampak mengambil alih kantong kertas yang awalnya dipegang Andrea, kemudian menggandeng tangan anaknya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sebab memang sejak pagi mendung sudah menghiasi langit. Membawa serta udara yang cukup dingin untuk disebut udara di siang hari.

Andrea mengimbangi langkah ayahnya masuk ke dalam rumah yang menyimpan banyak kenangan masa kecilnya itu. Di rumah tersebut, telah terekam beragam emosi yang membuat Andrea sejenak bernostalgia. Seperti saat ia melihat kolam renang yang ada di samping ruang keluarga. Di sana adalah tempat Andrea biasanya menonton Asher, kakak laki-lakinya, yang sedang berenang. Atau saat ia melihat lukisan bergambar anggrek bulan yang tergantung di dinding sisi kanan yang menyekat ruang keluarga dan ruang makan. Lukisan itu adalah hasil karya ayahnya enam belas tahun yang lalu, sekaligus benda yang menyimpan kesedihan mendalam untuk keluarga mereka.

Under The Full MoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang