🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika tidak denganmu, maka tidak dengan siapapun.
🌕🌕🌕
Langit biru membentang tanpa batas, pantulan warnanya menyatu sempurna dengan laut yang jernih hingga tampak seperti kaca. Pulau-pulau kecil dengan pasir putih seperti bubuk berlian tersebar di tengah samudra, dihiasi pohon kelapa yang melambai lembut mengikuti irama angin. Maladewa, tempat di mana waktu seolah melambat, menyuguhkan pemandangan yang hanya bisa ditemukan dalam mimpi.
Andrea berdiri di tepi dermaga kayu, memandangi air yang begitu bening hingga ia dapat melihat ikan-ikan kecil berenang di antara terumbu karang yang berwarna-warni. Angin laut membawa aroma asin yang segar, bercampur dengan wangi bunga kamboja yang ditanam di sekitar pantai. Belum lagi pemandangan indah dari vila-vila terapung yang tersusun rapi di depannya. Ini adalah surga, pikir Andrea, tempat yang membuat segala kekhawatiran tentang duniawi terasa jauh dan tidak berarti.
Suara langkah kaki Johnny di belakangnya mengalihkan perhatian Andrea. Ia menoleh, mendapati suaminya tersenyum kecil sambil membawa sebotol air minum. “Aku bilang apa, kan? Tempat ini bahkan lebih indah dari Bali,” katanya, menyerahkan botol air yang tutupnya sudah dibuka itu pada Andrea.
Andrea mengambil botol itu, tersenyum tipis. “Kamu benar, di sini indah dan tenang banget,” gumamnya sambil kembali memandang cakrawala. Namun di sudut hatinya, Andrea tahu, keindahan Maladewa tidak akan mampu menghapus kegelisahan yang perlahan muncul setiap kali ia memikirkan Johnny dan rahasianya yang mulai ia ketahui itu. Tak ingin terus berkutat dengan pikiran buruk, Andrea lantas memejamkan mata sejenak demi mengenyahkan segala energi buruk yang berusaha menguasainya. "Aku harap dengan apa yang sudah kita lakukan sejauh ini. Aku bisa memberimu keturunan sesegera mungkin."
Ada nada sedih yang terselip di dalam kata-katanya. Dan saat Andrea membuka matanya, Johnny sudah berdiri tepat di depannya. Menangkup kedua pipi Andrea dengan sesekali mengusap salah satu pipi Andrea dengan ibu jarinya. "Aku sangat menantikan hal itu, Rea," Johnny tersenyum lembut, menjelma layaknya pria yang penuh kasih dan perhatian, sesuatu yang jarang Andrea rasakan sejak awal pernikahan mereka. Sentuhan Johnny terasa hangat, tapi Andrea tahu di balik kelembutan itu, ada pisau yang akan terus mencabik hatinya sedikit demi sedikit.
"Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar," ujar Andrea pelan, matanya menatap Johnny dengan penuh harap. "Aku ingin kita benar-benar merasa seperti ... keluarga."
Johnny tersenyum kecil, namun tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. "Kita akan sampai ke sana," katanya. "Aku janji."
Andrea mengangguk, meskipun hatinya tidak sepenuhnya yakin. Selama ini, ia terus berusaha menjadi istri yang baik, memenuhi harapan Johnny, dan menjaga hubungan mereka tetap utuh. Namun ada sisi lain dari Johnny yang seolah selalu berada di luar jangkauannya. Dan baru ia ketahui alasannya sekarang, bahwa ada wanita lain yang lebih menarik minatnya.