🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lidah Johnny semakin kelu. Pukulan telak yang baru saja diberikan Anang kepadanya adalah bukti bahwa serapi apapun ia membungkus pernikahannya. Keganjilan itu selalu menemukan jalan untuk ditemukan.
🌕🌕🌕
Ketika Johnny berjalan masuk ke dalam restoran tempat ia janjian makan siang dengan ayahnya, pria tersebut mendapati ponselnya mengeluarkan sebuah suara notifikasi. Ia lantas berhenti sejenak, melihat siapa gerangan yang baru saja mengiriminya pesan. Dan nama yang muncul di layar adalah nama Andrea, istrinya.
Johnny tak kuasa menahan senyum ketika ia melihat foto yang baru saja dikirimkan Andrea kepadanya. Lengkap dengan imbuhan pesan singkat setelahnya.
Andrea : Bunganya cantik banget, makasih banyak, Sayang.
Johnny masih mempertahankan senyumannya kala jari-jarinya bergerak cepat membalas pesan.
Johnny : Anything for you, Wifey.
Andrea : Aku nanti mau ke rumah Mama, Joe. Mungkin aku sekalian makan malam juga di sana.
Johnny : Oke, aku nggak bisa nyusul karena harus lembur hari ini.
Andrea : Nggak pa-pa. Kamu jangan lupa makan, ya. I love you.
Johnny mematung dengan jempol yang tertahan di atas layar ponsel. Ia ingin membalas pesan terakhir Andrea. Namun ada banyak keraguan di dalam hatinya setelah membaca kalimat terakhir yang diketik oleh istrinya itu. Cinta. Hingga detik ini, Johnny belum bisa memastikan apakah ia benar-benar mencintai Andrea.
Keraguan di dalam dirinya itu membuat Johnny menahan diri untuk memberikan Andrea kepastian atas perasaannya. Untuk sekarang Johnny pikir selama ia bersikap lembut kepada Andrea, itu sudah cukup untuk menyatakan bahwa ia ingin melakukan perubahan dalam hubungan pernikahan mereka.
Hanya saja kata cinta masih terlalu berat untuk ia ucapkan. Bahkan jika itu hanya sebatas ketikan di dalam pesan singkat. Johnny butuh waktu untuk memproses segala perubahan yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Termasuk perasaannya terhadap Andrea.
Pria itu akhirnya memilih untuk menutup ponselnya dan berjalan menuju salah satu meja yang sudah ada ayahnya di sana.
"Sudah lama nunggunya, Pa?" tanya Johnny basa-basi sambil menaruh ponselnya di atas meja, lalu mengambil tempat duduk tepat berada di depan Anang. "Maaf telat, tadi ada pekerjaan yang harus aku selesaiin dulu."
"Belum lama," jawab Anang singkat, lalu menoleh ke arah pintu restoran. "Kamu nggak ketemu om kamu di luar?" tanya sang ayah sedikit penasaran.
Johnny ikut menoleh sejenak ke arah pintu sebelum kembali menatap ayahnya. "Nggak, aku datang sendiri," ia meraih buku menu yang ada di dekatnya dan melihat-lihat isinya. "Papa juga ngajak Om Radi makan siang bareng?"