🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cantik, anggun, pintar, dan sopan.
Kehidupan Andrea sungguh sempurna ... kelihatannya.
🌕🌕🌕
Dua tahun kemudian ....
Ranjang yang bergoyang dengan selimut serta seprai yang berantakan. Mereka adalah saksi bisu atas pergumulan panas yang sedang terjadi di kamar mewah milik salah satu pasangan suami istri yang telah menikah selama dua tahun itu. Mereka adalah Johnny Soeseno dan Andrea Kartika Lapada, pasangan yang terlibat di dalam sebuah pernikahan bisnis yang saling menguntungkan. Khas perjodohan ala orang kaya yang didasari oleh kepentingan masing-masing keluarga.
Meski hubungan itu terikat tanpa perasaan cinta, keduanya sepakat bahwa seks adalah salah satu hal yang harus mereka lakukan secara rutin, dua sampai tiga kali seminggu. Selain karena kebutuhan biologis masing-masing, ada satu hal penting yang menjadi alasan kenapa hubungan seksual itu dilakukan meski tanpa kobar-kobar api asmara di antara mereka.
"Kamu harus hamil kali ini," ucap Johnny sambil mengecupi leher Andrea penuh napsu. Lidahnya yang liar menjelajahi ceruk leher mulus nan jenjang itu dengan gerakan serampangan. Tidak peduli jika Andrea sedang kepayahan di bawahnya.
Terlebih lagi, pria itu selalu tegas mengutarakan apa yang ia inginkan. Tidak bertele-tele, tanpa bujuk rayu, dan terkesan tanpa perasaan di dalamnya. Johnny Soeseno adalah lambang dari batu yang bernyawa. Kaku namun hidup. Dingin tapi bernapas. Begitulah gambaran seorang Johnny di mata Andrea, istrinya.
Andrea, yang tidak punya kuasa apapun atas pernikahan itu, hanya menjawab dengan desahan—tanda persetujuan tersirat. Karena, sejak awal, Andrea memang tidak pernah diberi pilihan.
Layaknya sebuah boneka Barbie yang cantik, Andrea dikelilingi oleh barang-barang mewah serta tinggal di sebuah rumah megah bak istana. Ia harus hidup sebagai lambang kesempurnaan dari suaminya.
Cantik, anggun, pintar, dan sopan.
Kehidupan Andrea sungguh sempurna ... kelihatannya. Sebab jika ditilik lebih jauh, ada sebuah kekosongan yang berdebu di sana. Meminta untuk diisi, tapi tidak ada satu orangpun yang sudi melakukannya. Dan jadilah, tempat itu masih terus kosong tak terurus. Meski di luarnya telah dihiasi oleh segala macam kemewahan dan martabat duniawi yang mampu menyilaukan pandangan siapapun yang melihat.
"Rea—ahh," Johnny menumpahkan cairannya ke dalam tubuh Andrea. Dengan niat kuat kalau kali ini benihnya akan tumbuh di dalam rahim istrinya.
Sambil memeluk tubuh sang istri, Johnny belum juga melepaskan miliknya. Membiarkan benda yang perlahan layu itu tetap di sana, diselimuti oleh dinding hangat milik Andrea. Sementara Andrea yang masih berada di bawah pria itu hanya dapat diam di dalam dekapan, tentu saja telah pasrah tanpa perlawanan.