🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kita harus segera bikin makhluk yang mata, senyuman, dan otaknya mirip aku, kan?"
🌕🌕🌕
Johnny sedang berbincang berdua dengan Oma Endang sambil menikmati teh chamomile di pinggir kolam. Dan Andrea sengaja tidak ikut bergabung di sana, sebab ia ingin memberikan Johnny waktu untuk melepas rindu dengan sang nenek. Toh, setiap hari Andrea selalu bisa melihat Johnny, berbanding terbalik dengan Oma Endang yang hanya bisa bertemu dengan cucunya itu di momen-momen tertentu saja.
Selagi menghabiskan waktu di kamar seraya menunggu Johnny. Andrea yang telah selesai mengenakan rangkaian skincare-nya itu tertarik dengan album foto yang berada di rak buku yang ada di kamar lama Johnny itu. Benar. Malam ini Andrea dan Johnny akan tidur sekamar. Mengingat mereka berada di rumah orang tua Johnny, yang terdengar aneh jika Andrea meminta kamar lain untuk ia tiduri. Maka dengan hati yang senang, Andrea meraih dua album foto dari total lima album foto yang ada sambil menunggu sang suami memasuki kamar mereka.
Satu album foto saja sudah tebal, maka Andrea memutuskan hanya akan melihat dua saja. Lagipula ia sudah pernah melihat semuanya. Hanya saja malam ini rasanya Andrea ingin merasakan kembali perasaan hangat tatkala memandangi foto-foto Johnny semasa bayi hingga remaja.
Setelah membawanya ke ranjang. Andrea mulai membuka album pertama dan senyumnya langsung mekar seketika. "Lucu banget," gumam Andrea seraya membolak-balikkan lembaran album foto yang berada di pangkuannya itu. "Senyumnya manis. Sayang, sekarang jarang senyum," cibir Andrea sambil menunjuk-nunjuk kertas yang terdapat gambar Johnny yang sedang tersenyum lebar sambil memegang bola basket.
Andrea lalu membaca tulisan tangan Sarah yang berada di caption untuk foto tersebut. Johnny yang sudah berumur 4 tahun dengan cita-cita pertamanya. Dia bilang dia pengin jadi pemain basket.
"Gedean bola basketnya daripada orangnya," komentar Andrea sambil terkekeh jenaka.
Mata Andrea terus memandangi foto demi foto yang terpasang rapi di album itu, sampai ia tidak menyadari pintu kamar sudah terbuka dan disusul oleh Johnny yang masuk setelahnya. Bahkan, langkah kaki Johnny yang berjalan mendekat sama sekali tidak mengusik Andrea yang sedang larut di dalam dunianya sendiri.
"Seru banget. Sampai ketawa-ketawa gitu," komentar Johnny lalu mengambil duduk di samping Andrea. "Lagi liatin apa?" pria itu ikut melongok ke arah album foto terbuka yang berada di pangkuan Andrea.
"Eh, John. Kamu udah selesai ngobrol sama Oma?" Andrea yang baru saja tersadar kembali itu menanyai Johnny yang sudah duduk di sampingnya.
Johnny mengangguk ringan. "Oma udah aku antar ke kamarnya."
Andrea ikut mengangguk. Lalu ia kembali menatap ke arah foto Johnny yang sedang berkacak pinggang di bawah Menara Pisa. "Lihat deh, gaya banget ini bocil satu," komentar Andrea ringan. "Kalau kita punya anak nanti, aku yakin banget pasti mirip kamu."