🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiba-tiba terbesit keinginan cerai yang mulai menguasai Andrea. Bersamaan dengan rasa putus asanya yang pelan-pelan menghancurkan keyakinannya.
🌕🌕🌕
Johnny akhirnya bangun setelah empat jam tertidur. Hal terakhir yang ia ingat sebelum kesadarannya hilang adalah ia sempat berterima kasih kepada Andrea yang sudah merawatnya. Lalu Johnny merasa Andrea membelai rambutnya sementara ia berbaring sembari memeluk pinggang Andrea. Namun, ia tidak mendapati sang istri di sampingnya saat ini. Kemana perginya Andrea?
Johnny mengecek suhu tubuhnya sendiri dengan menaruh telapak tangannya di atas kening. Kali ini panasnya rupanya sudah turun, hanya menyisakan tubuhnya saja yang masih sedikit lemah. Pria itu mengubah posisi tidurnya yang semula menghadap ke kiri menjadi telentang dan matanya yang kemudian menatap langit-langit kamar. Ia mengerjap beberapa kali sampai kemudian sebuah suara pintu kamar di buka terdengar dan menampakkan sosok Andrea di sana. Sedang membawa baki berisi makanan yang sepertinya wanita itu bawa untuknya.
"Sayang, sudah bangun?" tanya Andrea sambil berjalan mendekat.
Johnny menyongsong kedatangan Andrea dengan pandangan yang hangat. Pria itu beranjak duduk dan menunggu Andrea yang sudah berjarak beberapa langkah saja darinya. "Pas aku bangun kamu nggak ada," adu Johnny dengan nada agak dingin.
"Maaf," sahut Andrea seraya tersenyum hangat. "Aku tadi lagi di dapur, bikin sup buat kamu," wanita itu duduk di pinggir ranjang dan menaruh baki makanan di atas nakas sebelum kemudian fokus kepada Johnny seutuhnya.
"Kan ada banyak staf di rumah. Seingatku kita punya empat ART, satu tukang kebun, dua sopir, dan dua satpam. Pekerjaan di dapur nggak seharusnya masih kamu kerjain sendiri," nada dingin itu semakin terasa dari kalimat yang ia lontarkan dan ajaibnya tidak membuat Andrea kesal mendengarnya.
Wanita itu tersenyum hangat. Ia menggenggam tangan Johnny dan menatap lembut ke arah pria itu. "Aku cuma mau bikin sup buat suami aku," Andrea menoleh sejenak ke arah sup buatannya sebelum kembali menatap Johnny. "Tadi pagi kan bubur buatan Teh Suti nggak habis kamu makan. Aku pikir mungkin aku harus masak sendiri biar kamu mau habisin makananmu."
"Tadi pagi beda case, napsu makanku beneran hilang," jawab Johnny membela diri.
"Memangnya siang ini napsu makan kamu sudah balik?" Andrea kembali bertanya.
Johnny ingin membuka mulut. Namun ia tidak punya sanggahan apapun atas pertanyaan Andrea. Sebab sampai sekarang pun napsu makannya belum juga kembali.
"Kalau gitu sekarang makan siang dulu, ya?" bujuk Andrea yang sudah mengambil mangkuk berisi sup ayam yang terlihat lezat dengan tambahan sayuran yang berwarna-warni.
Johnny menggeleng enggan. "Aku belum lapar, Re."
"Meskipun belum lapar, perutmu tetap harus diisi, Joe."