Full Moon - 27

1.4K 85 80
                                        

Kepura-puraan ini terlalu melelahkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kepura-puraan ini terlalu melelahkan. Tidak hanya untuk hatinya, juga untuk tubuhnya yang sudah memberikan reaksi tak biasa.

🌕🌕🌕

Amarah Sephia semakin memuncak kala Johnny memutus sepihak sambungan telepon mereka. Tanpa memberikan kesempatan baginya untuk sekadar mengucapkan kata cinta, sebuah penutup yang sudah menjadi rutinitas Sephia sejak lama bersama sang pria. Wajahnya memerah setengah mabuk, tapi Sephia cukup sadar dengan apa yang sedang ia rasakan. Sakit hati yang teramat menyesakkan di dalam dadanya.

"Brengsek! Andrea sialan! I'll make sure that bitch pays for it," umpat Sephia penuh kemarahan.

Sephia tidak peduli kepada beberapa orang yang menatap heran ke arahnya. Bahkan ada yang sengaja berbisik seraya melirik remeh ke arahnya. Meski saat ini Sephia sedang berada di pelataran salah satu kelab malam yang biasa ia kunjungi secara rutin. Wanita itu benar-benar membiarkan orang-orang melihatnya yang sedang mengamuk seorang diri.

"Gue nggak bisa terima ini semua. Nggak bisa," gumamnya sambil menggeleng keras.

Sephia menyugar rambutnya kasar, kekesalannya sama sekali belum reda. Sesekali ia masih memperhatikan layar ponselnya yang sudah berubah hitam. Sedikit berharap bahwa Johnny akan kembali meneleponnya, meskipun hal itu hampir mustahil terjadi. Fakta pahit yang belum ingin Sephia terima sepenuhnya.

"Gue harus bikin Johnny bercerai dari Andrea," Sephia mengangguk seraya menyeringai saat dirinya menemukan ide cemerlang yang tiba-tiba datang di tengah kekalutannya. "Ya, gue akan bikin Johnny nggak bisa lepas dari gue," gumamnya seorang diri.

Perlahan ide-ide lain pun bermunculan di otaknya. Membuat Sephia semakin melebarkan senyumannya yang sama sekali tidak hangat itu. Tidak peduli bahwa pada akhirnya ia juga ikut merasakan sakit hati. Yang terpenting sekarang adalah ia harus menghancurkan Andrea agar ia bisa merebut posisi wanita itu.

Tangan Sephia terlihat bergerak-gerak cepat di atas layar ponsel. Sebelum kemudian menempelkan benda pipih itu ke depan telinga, menghubungi seseorang. Hanya butuh dua deringan sebelum akhirnya telepon itu diangkat.

"Halo, Anton, bisa ketemuan malam ini? I need you so bad," Sephia tidak ingin berbasa-basi kepada pria yang sedang ia hubungi. Saat ini yang ia butuhkan adalah sebuah hiburan, dan orang pertama yang muncul di dalam kepalanya adalah pria itu.

Ada kekehan ringan di seberang telepon sebelum Anton menjawab santai. "Tentu, di tempat biasa, kan?"

Sephia tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Ia mengangguk meski Anton tidak bisa melihatnya. "Hm, aku tunggu, ya."

"Yes, Love. I'll be there as soon as possible."

"That's my man. Hurry up, I need to kiss you to stay sober, Babe."

"Sounds great but I think I wanna fuck you instead."

"No condom then. Aku lagi nggak dalam masa subur."

Under The Full MoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang