Full Moon - 20

982 66 17
                                        

Tidak ada hal lain yang bisa ia pikiran selain Andrea

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak ada hal lain yang bisa ia pikiran selain Andrea. Betapa kini yang memenuhi dadanya adalah rasa tak nyaman yang entah apa artinya.

🌕🌕🌕

Johnny meraih segelas sampanye yang ditawarkan oleh seorang pelayan saat dirinya sedang dalam perjalanan kembali kepada sang istri. Dari beberapa meter jarak dirinya dengan Andrea, tiba-tiba terlihat seorang pria asing yang menghampiri wanita itu. Terlebih yang membuat Johnny semakin tidak menyangka adalah senyuman Andrea yang ikut terbit saat menyalami pria tersebut.

Mereka tampak seperti kawan lama yang baru saja bertemu setelah sekian lama. Apalagi saat Johnny menyadari bahwa senyuman manis Andrea yang biasanya tertuju hanya untuknya kini terbit untuk pria itu.

Siapa dia? Johnny menyesap sampanyenya sejenak sebelum kemudian melangkah mendekat.

Namun pergerakannya justru gagal saat seorang teman lama tiba-tiba menghampirinya. "Hai, John, apa kabar lo?"

Johnny terpaksa memberikan senyuman basa-basi andalannya. "David, lama nggak ketemu. Kabar gue baik, lo sendiri gimana?"

Setengah meringis pria bernama David itu menjawab. "Nggak begitu baik."

"Kenapa?"

"Panjang ceritanya."

David tampak berusaha tersenyum ceria meski Johnny masih bisa menangkap kegalauan di mata teman lamanya itu. Jika harus menebak, sepertinya kisah asmaranya tidak berjalan baik. Melihat ia yang hanya datang seorang diri tanpa ditemani plus one di sampingnya. Namun, demi menjaga suasana agar tetap normal, Johnny tidak ingin repot-repot melontarkan isi pikirannya.

"Yang penting lo nggak sampe mabuk aja di acara ini," tutur Johnny setengah bercanda. "Masih ada after party entar malem soalnya," lanjutnya seraya terkekeh.

David ikut tertawa. Ia menyesap sampanyenya dan menatap Johnny ringan. "Memangnya lo nggak mau tanya gue kenapa?"

"Kan tadi udah," timpal Johnny sambil lalu. "Memangnya kalau gue tanya lebih rinci lo bakal bersedia cerita?" lanjutnya dengan matanya yang sesekali mencuri pandang ke arah Andrea yang masih bercakap-cakap ringan bersama pria asing yang tidak dikenalnya itu.

David menggelengkan kepalanya, hapal dengan sifat sang teman yang sama sekali tidak berubah meski mereka sudah tak bertemu sekian lama. "Dasar, Johnny Soeseno. Sama sekali nggak berubah lo dari dulu."

Johnny menaikkan sebelah alisnya. Dan meski tidak membuka mulut, David tahu maksud pria itu.

"Tapi meski sikap lo masih aja kaku kayak gini. Lo tetap bisa dapet istri kayak Andrea. Lo itu beruntung banget, Man," David menepuk ringan bahu Johnny beberapa kali, berusaha menyalurkan rasa bangganya terhadap pencapaian sang teman.

Namun ada satu hal yang tidak David sadari. Bahwa kata-katanya barusan telah menjadi pemicu pikiran Johnny untuk ikut melontarkan sebuah pertanyaan. Apakah ia memang seberuntung itu mendapatkan Andrea?

Under The Full MoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang