🌕𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒊𝒓𝒔𝒕 𝑩𝒐𝒐𝒌 𝒇𝒓𝒐𝒎 𝑴𝒐𝒐𝒏 𝑺𝒆𝒓𝒊𝒆𝒔🌕
Warning : 🔞
Akibat sebuah perjodohan yang dipaksakan, Andrea Kartika Lapada harus menanggung rasa kesepian meski tinggal di rumah mewah bersama Johnny Soeseno, suaminya. Hari-harinya ter...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Andrea menggigit bibirnya sendiri, kegalauan yang ia rasakan semakin memuakkan. Ia terbayang apa yang akan Johnny lakukan jika ia tiba-tiba mendatangi Sephia dan mengkonfrontasi perselingkuhan mereka. Andrea belum ingin menerima akibat dari perbuatannya. Ia belum siap menerima risiko jika ia mengusik wanita kesayangan sang suami.
🌕🌕🌕
Hai, aku update lagi. Sekadar info, additional part untuk bab 28 udah aku upload di karyakarsa, ya. Bagi yang mau baca bisa mampir ke sana~
🌕🌕🌕
Setelah mengantar Johnny yang akan berangkat ke kantor, Andrea tampak memasuki mobilnya sendiri dan keluar dari pekarangan rumah bersama sopirnya. Jika biasanya tujuan wanita itu adalah restoran miliknya, kali ini tidak. Ia punya sesuatu yang harus segera ia lakukan. Demi keutuhan rumah tangganya yang perlu ia pertahankan.
Tempat itu adalah rumah Gani, salah satu sahabat Andrea yang juga mengetahui tentang perselingkuhan Johnny dan Sephia. Setengah jam yang lalu, saat menemani Johnny sarapan, Andrea menghubungi Gani dan berencana untuk ke rumahnya. Alasan yang Andrea pakai adalah memberi oleh-oleh—sesuatu yang lumrah bagi persahabatan mereka yang sudah terjalin lama. Ia pun berdalih demikian saat Johnny bertanya apa yang akan Andrea lakukan hari ini.
Tetapi yang membuat hati Andrea merasa tak nyaman adalah saat ia mengatakan akan ke rumah Gani, ekspresi Johnny terlihat tak berubah sama sekali. Seolah tidak ada apapun yang sedang ia tutup-tutupi. Pria itu benar-benar mengabaikan peringatan Gani yang mengancam akan melaporkan perselingkuhannya dengan Sephia. Mungkin Johnny mengira sampai saat ini Andrea masih menjadi istrinya yang polos dan belum mencium bau busuk yang ia simpan sejak lama.
Sayang sekali. Andrea sudah tahu pengkhianatan itu lebih dari yang bisa Johnny kira.
"Sudah sampai, Bu," ujar si sopir saat mobil mereka telah terparkir di depan rumah Gani.
Andrea tersenyum kecil sambil menenteng kantong kertas di sampingnya. "Pak, saya agak lama. Bapak bisa langsung ke restoran aja. Saya bisa ke sana sama Gani nanti."
Si sopir mengangguk kecil dan tersenyum sopan. "Baik, Bu."
"Oh, iya, satu lagi. Nanti sore saya mau ke rumah Mama Sarah, tolong ambilin oleh-oleh di rumah. Bilang aja sama Teh Suti," ujar Andrea sambil membuka pintu mobil. "Makasih, ya, Pak," lanjutnya sebelum akhirnya keluar dari mobil dan melangkah santai ke arah pintu rumah Gani.
Hanya butuh kurang dari satu menit sejak ia menekan bel, Gani sudah berdiri di celah pintu yang kini setengah terbuka. Senyuman cerahnya menyambut Andrea yang berada tepat di depannya.
Setelah bercipika-cipiki, Andrea mengangkat kantong kertas yang ia bawa seraya berkata. "Gue bawa oleh-oleh."
"Asyik, beneran dibawain," Gani kegirangan sambil memberi gestur mempersilakan Andrea masuk ke dalam rumahnya.