Tiga Puluh Satu

28 4 1
                                        

Happy Reading 🌷
Jangan jadi siders! ⚠️

Hari menjelang sore, semua orang tengah beristirahat lelah sehabis materi. Kini waktu senggang itu mereka nikmati untuk bersenang-senang, di antara banyaknya orang terdapat sekumpulan pemuda dan beberapa gadis bersama mereka, sedang mengobrol ringan di bawah pohon rimbun.

"gue mau cerita." perkataan Nabila mengalihkan atensi semua teman temannya yang sedang sibuk bercanda.

"gak nerima gosip." tolak Alana.

"Eh, Lo tau gak?" pancing Nabila sekali lagi sambil tersenyum smrik.

"Apaan-apaan?!" tanyanya antusias

Gotcha! masuk perangkap juga, seorang Alana menolak di ajak gosip? tidak mungkin!

teman temannya menatap malas setelahnya mereka tertawa, lawak sekali gadis itu. mereka berkumpul dan bersikap seperti biasa karna memang yang tau hanya beberapa orang saja.

bersikap seolah baik baik saja setelah masalah itu, ternyata gak gampang

Sebuah tatapan yang mengarah pada seseorang, mengisyaratkan kesedihan namun raut wajahnya tenang seperti baik baik saja, padahal tidak.

Semua terasa berbeda walau sama, terasa janggal walau lengkap. ada perasaan yang ingin disampaikan tapi tertahan, ingin berteriak tapi seakan suara itu hilang. luka dengan darah mengalir itu sudah diobati namun bekasnya masih ada dan takkan pernah hilang. seperti gelas pecah yang berusaha untuk disatukan, bersatu namun tak utuh.

Ingin berlari memeluknya tapi seakan ada sesuatu yang menahan, menangis pun sudah tidak ada gunanya lagi.

"Lu ngomong setengah-setengah bikin gue penasaran." Natasha sejak tadi menunggu kelanjutan cerita Nabila tapi malah tertunda, ia jadi kesal sendiri.

Nabila tertawa pelan. "Iya iya gue lanjut, jadi pas jurit malam kita denger suara cewe loh.. kaya teriak gitu tapi gue gak yakin." ia bercerita dengan sangat seru, Alexa mengangguk semangat. Jika diingat ingat serem juga sih, apalagi posisinya malem malem.

"Kalau ketemu sama gue sih, gue udah tarik rambutnya." Sahut Alana sambil mencomot cemilan yang sedang ia pegang.

Danu menatap tak yakin. "Masa sih? Bukannya Lo takut ya? Nanti yang ada lari ke pelukan gue lagi." Alana tersedak dan berhenti mengunyah, Azalea reflek menyodorkan sebuh botol minum.

Secepat kilat ia mengambil botol itu dan meminumnya hingga tandas, menyeka mulutnya dan wajah garang nya terlihat. "Idih, pede banget! Peluk Lo sama aja kaya peluk pohon kaktus." Jawabnya kesal.

"Pohon kaktus memang menyakiti, tapi ia sanggup berdiri dengan kakinya sendiri. Tak pernah menunggu seseorang untuk selalu ada untuknya." Danu tersenyum tipis dan itu membuat Alana merona, sejak kapan Danu yang receh dan suka bercanda bisa se-puitis ini?

"Alay ah kata kata Lu." Reza melempar kulit kuaci yang telah ia kupas pada Danu, sang empu sedikit meringis.

"Alay singkatan dari A Lap Yu." Natasha terbahak bahak sendiri dengan ucapannya, Alana yang mendengar pun tertular oleh tawa itu dan begitupun dengan yang lain.

Reza melotot tajam, sangat gemas dengan kekasihnya ini sampai sampai ia mengunyel - unyel pipi Natasha. "Bukan ke Danu tapi ya? A Lap Yu too Natasha Rizki Amelia pacarnya Reza Mahardika Putra yang paling cantikk." Natasha mengerucutkan bibirnya, alisnya menukik tajam. Lama lama pipi itu memerah dan membuatnya semakin gemas.

"Geli sumpah! gue geli sama sikap Reza," Reza menatap kesal pada Danu yang bergidik geli melihatnya sedang bucin pada Natasha. "Iri bilang boss! Makanya anak orang jangan lu gantungin mulu perasaannya!" Sindirnya balik dan tersenyum kemenangan melihat wajah masam Danu.

IMDLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang