Tiga Puluh Lima.

23 5 0
                                        

Hari pembagian rapot adalah hari yang paling menyeramkan, menakutkan serta menegangkan bagi seluruh murid. perasaan resah dan gelisah membuat mereka semua yang sedang menunggu nilai-nilai itu dibagikan pun sampai membuat suasana tegang di sana.

Semua duduk dengan tenang walaupun hati sudah berdebar kencang, satu-persatu nama akan dipanggil kedepan untuk mengambil rapot mereka masing-masing. Nabila menautkan kedua tangannya, raut wajah khawatir tercetak jelas disana. dalam hati ia sudah berdoa agar nilai yang ia raih dengan susah payah mendapatkan hasil yang bagus.

'Tolong.. gue engga mau ngerasain sakit lagi..'

Waktu terus berdetik dengan jarum yang terus berputar bergantian pada angka-angka yang menggantung di dinding. keempat gadis yang biasa bersamanya telah di panggil namanya sedari beberapa menit yang lalu dan kini hanya tersisa ia sendirian, tanpa teman yang mendukung nya dan menenangkan keresahannya. berusaha menyemangati dirinya sendiri.

"NABILA YAZA DERANDRA"

Nama itu menggema seiring diteriaki oleh benda untuk membesarkan suara tersebut. ia mematung sesaat tak menyangka kini giliran dirinya, segera gadis itu melangkah maju hingga kehadapan wali kelas. wajah guru itu menampilkan senyum manisnya, seolah bangga akan sesuatu.

"ini rapot nya, selamat nilai kamu sedikit meningkat dari semester sebelumnya. dan saat ini kamu menduduki peringkat..."

ALNA

Saat ini para remaja yang mulai beranjak dewasa itupun sedang berkumpul disebuah tempat yang dipenuhi oleh aroma harum masakan, hingga membuat siapapun yang mencium nya akan membuat perut berontak minta diisi. tempat itu sangat ramai oleh anak anak Diaksara School. berkumpul membicarakan tentang nilai yang mereka dapatkan dan ceramah an apa yang akan diberikan emak saat dirumah nanti jika mendapatkan nilai merah.

"kenapa lo?" Alana bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya, suaranya yang menggelegar hingga membuat semua pasang mata mengarah pada seorang gadis yang baru saja tiba dengan pandangan menunduk dan bibir melengkung kebawah.

Karna tidak menyadari jika orang yang dimaksud dirinya, gadis itu tak mendongakkan pandangan. pikirannya berkelana kemana-mana, dadanya berdebar dipenuhi rasa takut. merasa bingung dengan tingkah tak biasa dari gadis itu, Azalea bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Nabila. menepuk dua kali pundaknya, sampai membuat gadis itu tersentak kaget.

"ada apa? ada masalah?"

Sontak ia menaikkan pandangannya, menatap manik Azalea. merubah raut wajahnya menjadi seceria mungkin. "ah- engga kok! gue baik-baik aja kale." Nabila mengalihkan matanya kearah lain menghindari tatapan menyelidik dari teman-temannya.

Melihat semua kursi sudah terisi penuh di sekitar temannya membuat ia mendesah kecewa. seseorang yang memperhatikannya sejak tadi pun peka akan ekspresi gadis itu. "Sini! disamping gue kosong." Nabila menatap orang itu, kaki jenjangnya menghampiri sang pemuda. karna memang hanya tinggal kursi itu saja yang kosong, sepertinya tadi ia tidak terlalu memperhatikan jika masih ada yang tersisa.

"Thanks." ucap Nabila dan hanya di balas anggukan singkat. cukup lama berdiam diri dan hanya memperhatikan murid satu sekolahnya sedang bercanda ria membuatnya bosan dan tidak betah.
ia teringat oleh janji pria itu yang akan mengajaknya ke taman. dengan ragu ia mulai mengeluarkan suara. "emm.. tentang janji lo waktu itu- "

"kenapa?" herannya karna gadis disampingnya ini tidak melanjutkan ucapannya. "nilai gue- ituu.. eum.." pria itu mulai paham kemana arah pembicaraan gadis itu.

IMDLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang