Tiga Puluh Enam'

35 6 7
                                        

Alvino sangat menikmati setiap detiknya bersama gadis yang berada dalam dekapan nya ini. Kali ini pria itu merasa jika waktu sangat berharga, bahkan dia sungguh takut jika semua ini tidak akan bisa ia rasakan lagi.

"gue sayang sama lo, sayang banget." gumamnya pelan nyaris seperti tiupan angin, bahkan Nabila pun tak mendengarnya jelas.

"hm? lo bilang sesuatu?" tanya gadis itu, Alvino menggeleng pelan dan mengeratkan pelukannya. berharap pelukan hangat itu bisa ia rasakan kembali.

Pria itu menguatkan hatinya, pikirannya kembali bertarung. menarik nafasnya panjang, dan menghembuskan nya secara perlahan. digenggamnya kedua tangan Nabila hingga membuat gadis itu mengerutkan keningnya, menunggu tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pria didepannya.

"gue udah engga mau nunda-nunda waktu lagi. gue emang engga bisa seromantis laki-laki lain, dan juga belum bisa menjadi pria idaman para wanita diluar sana. tapi cowo didepan lo ini datang dengan segala kekurangannya— "

"meminta lo, wanita yang berhasil membuat gue terpikat sejak pertama kali mata kita berdua saling bertatapan. dan yang sudah membuat gue nyaman dengan segala tindakan lembut yang lo lakuin ke gue."

"gue emang cowo berandal Bil, dan cowo berandal didepan lo ini rela kalau harus ngelakuin apapun demi lo. gue emang nakal, tapi kalau masalah cewe gue engga berani. bagi gue semua cewe wajib diperlakukan baik sebagai mana gue memperlakukan mama gue."

Nabila menyela dengan raut wajah kesalnya. "Ck! lo ini mau baca puisi atau apa? bertele-tele banget!" tapi laki-laki itu tidak tersinggung melainkan malah tersenyum.

"Engga sabaran banget jadi cewe." Alvino menghembus nafasnya kasar,
dan kembali mempersiapkan mental nya. Mata pria itu menatap manik indah gadis di depannya, tatapan yang penuh akan harapan besar. "Lo mau engga, jadi cewe gue?"

"engga minat." Alvino melebarkan matanya setelah mendengar jawaban tak terduga dari Nabila, bagaimana bisa segala effort dan hal yang dia lakuin hari ini butuh pertimbangan yang matang tetapi malah ditolak mentah-mentah. ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, mau taruh dimana muka tamvan nya itu.

Raut wajahnya seketika berubah, rahangnya mengeras. matanya menatap tajam sang gadis, bagaimana pun caranya gadis itu harus menjadi miliknya. "Lo milik gue, dan gue engga nerima penolakan apapun!" ucapnya tegas tanpa mau ada bantahan.

"Cih, minimal mah modal kek! Kasih bunga gitu? Atau coklat!" Jawab nya sebal pada pemuda di depan nya ini.

"Ck! Gampang itu mah, lo mau berapa? Se-truk atau sepabrik?"

"Kurang banyak gak sih? Yakali gue semurah itu!"

"Terus mau berapa hm? Baby?"

Nabila bergidik geli mendengarnya, panggilan itu sangat menggelitik di telinganya. benar-benar tidak cocok untuk dirinya yang sangat cetar membahana ini. "ihh.. udah kaya sugar Daddy lo begitu." komentarnya spontan.

"sugar Daddy mata lo! gue masih muda gini juga, masih imut-imut kaya bayi."

"imut-imut?! amit amit lo mah! gue yakin bayi kalo bisa protes juga udah ngomel, mana mau disamain sama tua bangkotan kaya lo gini." gadis itu menahan sebisa mungkin tawa nya yang akan meledak itu, ketika melihat raut tak menyenangkan dari Alvino.

"tapi orang yang lo bilang tua bangkotan ini masih bisa gendong lo keliling taman ini— "

"contohnya kaya gini!" Nabila memekik kencang, terkejut akan aksi nekat yang dilakukan Alvino. pria itu benar-benar menggendongnya di belakang punggung dan berlari mengelilingi taman.

Suara tawa mereka berdua pun tak bisa dicegah, Nabila mengalungkan tangannya pada leher Alvino. menghirup aroma mint segar yang masih saja menguar dari badan cowo itu padahal ia sudah banyak berkeringat.

Gadis itu semakin berteriak kala Alvino mempercepat larinya, kedua remaja itu sama-sama menghiraukan semua orang yang menatap aneh kearah keduanya. bisikan dari mulut ke telinga pun terdengar samar-samar.

'jaman sekarang gini ya? anak muda pacaran tidak tau tempat."

'iya ya? padahal masih pakai seragam sekolah.'

'malu-maluin saja.'

'ih, kaka itu lucu ya? gue juga mau!'

'halu dulu sana! lo engga secantik kaka yang digendong itu.'

'manja banget jadi cewe, segala di gendong-gendong.'

'dasar dua bucin caper.'

Alvino mengeratkan pegangannya pada dua kaki Nabila yang melingkar di pinggangnya. dan berusaha menutup telinga kala suara bisik-bisik itu semakin terdengar disekitarnya.

"gue engga perduliin apa yang mereka bilang, gue bahagia sama lo." ucapnya dengan nada lembut disertai senyuman yang tidak bisa Nabila lihat.

"gue juga." sahutnya tepat ditelinga Alvino, tapi dengan jahil pria itu malah mengerjainya. "hah? apa? gue engga denger lo ngomong apa?" sedangkan Nabila mencibirkan bibirnya kesal.

"engga jadi."

Alvino menggeleng pelan ketika mendengar nada merajuk dari gadis digendongnya. "lagian lo ngomong engga jelas, gue engga paham."

"GUE JUGA BAHAGIA SAMA LO, ALVINO PUTRA REYNAGA!!!" teriak Nabila dengan suara lantang hingga membuat semua pasang mata tertuju pada mereka berdua yang sedang berada di tengah taman, Alvino melebarkan senyumnya.

Tanpa memperdulikan mereka menjadi pusat perhatian Alvino pun mengikuti apa yang dilakukan gadis itu. "LO MAU ENGGA JADI PACAR GUE?" serunya dengan suara yang menggema, tak lama kemudian terdengar suara tepukan tangan dari sekeliling disertai sorakan kata 'terima' dari beberapa remaja seusia mereka yang juga berada disana.

Pipi Nabila bersemu merah, ditembak didepan banyak orang seperti ini sedikit menguji nyali ya. tapi tak sedikit pun membuatnya malu akan perbuatan pria itu, dan dia sangat bangga akan keberaniannya.

"IYAA GUE MAU!"

Raut bahagia tidak bisa Alvino sembunyikan lagi, dia berhenti sejenak dan memutar-mutarkan tubuhnya hingga membuat Nabila yang berada dibelakangnya menjadi pusing tak terkira. "gue pusing, Vin!" protes nya sambil memukul punggung lebar Alvino.

Kalimat permintaan maaf pun Nabila dengar setelahnya dari mulut pria itu, perlahan ia menurunkan Nabila dari gendongannya. dan tetap memegang kedua tangan gadis itu karna tadi sempat oleng sedikit. dan kembali menatap Nabila dengan tulus, kali ini wajah itu sudah bisa ia lihat kapan pun tanpa harus berusaha mengalihkan pandangannya.

"Terimakasih banyak ya? udah terima gue, dan gue akan berusaha memperlakukan lo seperti ratu setelah mama dan adek gue."

Nabila hanya bisa mengangguk sambil menahan senyuman yang hampir mengembang sempurna, dirinya juga sangat bahagia hari ini. bahkan dia bisa melupakan masalah yang akan datang beberapa jam dari sekarang, cuma karna perlakuan manis pria itu.

"asal lo tetep sama gue, gue merasa bisa menjalani hari-hari yang berat. ketika ada lo, gue merasa bisa melawan dunia yang penuh dengan manusia bertopeng ini, Vin."

"gue emang engga bisa janji, tapi gue usahain ya? lo harus tetep baik-baik aja walaupun nanti tanpa gue." Alvino memeluk Nabila dengan sangatt erat, seolah tak ada hari esok untuk mereka berdua. dan Nabila juga membalas pelukan itu tak kalah erat.

Menikmati detik-detik terakhir sebelum matahari benar-benar tenggelam diujung sana, suasana yang sangat mendukung dengan kegiatan yang sedang mereka lakukan saat ini.

"mau semua semua orang dibumi ini membenci lo, lu harus ingat kalau bakalan ada satu manusia yang siap sedia merentangkan tangannya buat lo kapanpun." kata Alvino dengan tangan yang mendarat di rambut Nabila dan mengacak nya pelan.

"iya, dan gue tau kalau itu lu."

Keduanya saling melempar senyuman manis, dan setelahnya Alvino mengajak gadisnya itu untuk pulang. dikarenakan langit sudah mulai berganti shift dengan malam, menaiki motor bersama Alvino dan melajukannya cepat hingga membuat Nabila memeluk pria itu dengan erat.

IMDLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang