Tiga Puluh Dua

39 5 4
                                        


Happy Reading teman teman 🌷
Jangan lupa buat vote sama komen
Jangan jadi siders loh! ⚠️





Alvino beranjak dan mendekati Nabila, kecantikan gadis itu malam ini mengalahkan keindahan langit. Ia berhenti tepat dibelakang Nabila, rasanya mengeluarkan sepatah kata pun sesulit itu. Cukup lama menguatkan diri akhirnya lelaki itu memberanikan dirinya untuk meminta maaf.

"G-gue.. minta maaf." Alvino gugup, takut permintaan maafnya tidak di terima. Sedangkan Nabila hanya menatapnya sekilas. "Minta maaf untuk apa?" Tanyanya tenang.

Ia semakin gugup, tatapan gadis itu nampak kosong bagai raga tanpa jiwa. "Pokoknya gue minta maaf." Kekeh Alvino.

"Gak usah minta maaf kalau gatau alasannya, percuma." Jawabnya sangat lirih, mata indahnya terbuka perlahan dan senyuman manisnya luntur.

Melihat ke arah lelaki yang menatapnya dengan wajah penyesalan nya. "Huh.. jujur aja gue masih sakit hati dengan ucapan Lo tadi malam." lanjut gadis itu.

Lelaki itu tertunduk, seraya memilin tangannya. "M-maaf..." Lirih lelaki itu. Nabila menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan. "Meminta maaf itu hal yang mudah tapi tidak dengan memaafkannya.." ujar Nabila, setelah itu ia memilih cepat pergi sebelum air matanya meluruh.

Alvino menatap kepergiannya dengan perasaan bersalah yang belum hilang. "sekali lagi maaf telah membuat hatimu sakit." Gumamnya pelan.

"Ternyata tanpa sadar rencana yang gue buat ga bener bener gagal, yaa.. walaupun badan gue harus encok dikit, Tapi gapapa." Batin seseorang, smrik muncul di bibirnya. Tatapannya mengarah pada dua orang yang sedang berbicara.

Kakinya berjalan mengikuti arah Nabila yang ternyata kembali ke acara api unggun, ia kira gadis itu akan kembali ke tendanya. Dirinya ikut senang saat melihat gadisnya tersenyum lebar dan tertawa lepas walaupun itu bukan karna nya tapi ia tetap puas, Nabila-nya sudah ceria seperti semula bersama teman temannya. Untuk saat ini sepertinya ia hanya bisa mengawasi jarak jauh, gadis itu masih perlu menenangkan pikirannya.

Jika sakit mu karna ku, aku rela pergi demi bisa melihat senyum itu senantiasa mengembang. Bahkan lihat kamu nangis jauh lebih sakit daripada rasa sakit yang aku alami.

Alvino berharap bisa selalu menjaga senyum gadisnya itu, walaupun kata janji tak bisa ia ucapkan begitu saja. Takut suatu saat ia tak bisa menepati janji yang ia berikan, itu sama saja melukai tanpa menyentuh. Dia hanya bisa berdoa agar Tuhan bisa selalu menjaga gadis itu untuknya, daripada melihatnya terluka lebih baik ia yang berdarah darah terlebih dahulu sebelum gadis itu.

"Darimana aja lu boss?" Tanya Reza pada Alvino yang baru saja mendudukkan dirinya.

"Kepo banget Lo!"

"Yee! Gue tanya baik baik juga!" Kesal Reza karna boss-nya itu menjawab dengan ketus. Alvino mendengus, matanya menatap kesini-kesana mencari satu sahabatnya lagi yang tidak kelihatan batang hidungnya.

"Gilang kemana? Gue pergi bentar udah ngilang aja itu anak."

"Engga tau, tadi nyeret si Lea. Terus pergi entah kemana dua orang itu." Yang menjawab bukan Reza melainkan Danu yang sedari tadi memperhatikan Alvino. Dia merasa ada sesuatu antara boss nya dan Nabila, terlihat tadi mereka berdua datang bersama walaupun tidak bareng. Alvino mengangguk paham dengan jawaban Danu.

Semua kembali seperti semula saling bercanda ria dan mengesampingkan masalah yang membuat kepala hampir meledak itu sebentar, menikmati kebersamaan yang mungkin saja tidak bisa mereka rasakan lagi.

IMDLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang