Tiga Puluh Empat

30 4 0
                                        


Minggu ke minggu telah terlewati, kini siswa siswi itu sedang di sibukkan dengan ujian tak terkecuali Nabila, Alvino serta teman teman keduanya.
Ia masih ingat janji pemuda itu dengannya beberapa hari yang lalu.

"Kita lomba, peringkat siapa yang lebih tinggi. dia bakal nurutin permintaan yang menang" tantang Alvino pada Nabila, gadis itu tersenyum mengejek.

"Hemm? Boleh, kalo menang gue bakal minta ke Lo- Taman! Kita pergi ke taman." Sahutnya semangat.

Alvino hanya mengangguk mengiyakan, dan ikut tersenyum ketika melihat gadisnya ceria.

Sekarang hari itulah di mulai, dimana waktu terasa lebih berharga tiap menitnya. di dalam kelas nampak semua murid sedang serius mengerjakan soal, detikan jam membuat jantung mereka berpompa lebih cepat. waktu tersisa beberapa menit lagi, tapi Alana belum mengisi satu soal pun.

"nasib banget gara-gara semalam begadang nonton horor, jadi enggak ada waktu buat gue belajar." Gumam nya kesal pada diri sendiri, pandangan nya melihat kearah kanan dan kiri. teman temannya tampak sangat serius dan teliti, tiba-tiba tercetus satu ide di otak nakalnya.

"Bu, izin ke toilet!" Teriak Alana sebelum guru itu menjawab, ia sudah melesat duluan keluar kelas. Karna jika tidak pasti tidak akan diizinkan, saat ini gadis itu sudah ada di dalam toilet. entah bakal ada hal mengejutkan apa yang akan diperbuat Alana kali ini.

ia melipat lengan bajunya hingga siku, dan mengambil pulpen yang dia kantongi sebelum lari keluar kelas tadi. "Untung inget buat bawa pulpen." Dia mengambil sebuah kertas yang dia selipkan di dekat pintu toilet, jawaban yang sudah ia salin sebelum bel tadi.

Dia mulai menyalin jawaban itu ke lengannya, hingga lengan itu penuh dengan coretan. "Gue emang paling pinter!" Serunya senang dan menutup pulpen itu, seragam nya mulai ia rapikan kembali. Alana berjalan santai menuju kelas dengan senyum yang mengembang.

Setelah sampai kelas dia pun duduk seperti biasa, tidak ada raut takut terlihat di wajahnya. Padahal jam terus berjalan dan waktu semakin sedikit.
"Aduh! Gatel banget ini tangan, kayaknya gara- gara nyamuk deh!" Ucap nya sedikit kencang sambil pura pura menggaruk lengannya.

Ia melihat guru yang ternyata tidak menghiraukannya sama sekali, dia tersenyum licik dan mulai menyalin jawaban sambil sesekali melihat ke arah guru. Teman temannya nya pun sudah tidak heran, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Tanpa gadis itu sadari Nabila beserta yang lainnya, bersekongkol untuk menukar jawaban di kertas yang Alana contek. Demi memberi pelajaran pada gadis itu, untuk tidak selalu mengandalkan contekan tapi harus berusaha dengan usaha sendiri.

Diam diam mereka cekikikan dan lanjut mengerjakan soal hingga waktu yang di tentukan habis. dan bel pun berbunyi, guru itu keliling kelas sambil menarik kertas jawaban, tidak perduli jika sudah selesai atau belum.

"Huhh! Tadi jawaban gue bener apa engga, ya?" Tanya Natasha pada dirinya sendiri sambil mengacak acak rambutnya frustasi.

"gue kayaknya ada yang kelewat deh tadi." Azalea pun ikut cemberut karna tadi ia belum memeriksa kembali kertas ujiannya, tapi sudah di ambil duluan oleh pengawas.

"yaudahlah, berdoa aja semoga bener semua." kata Nabila menenangkan, walaupun dirinya sendiri juga ikut pusing memikirkan itu.

gadis-gadis itu berjalan beriringan menuju keluar kelas, tepat saat mereka sampai pintu. Mereka berpapasan dengan Alvino serta kawan- kawannya, wajah mereka tak kalah kusut bahkan kantung mata terlihat di wajah mereka. Mungkin karna semalaman begadang untuk belajar, mungkin.

"kenapa? kok lemes gitu?" tanya Gilang lembut pada Azalea yang nampak cemberut sambil bergelayutan di lengannya. Azalea melirik sekilas sebelum menjawab, "laperr.." keluhnya pada sang kekasih. membuat Gilang terkekeh geli melihat aksi gadisnya itu.

Xavier pun melihat kearah gadisnya. wajah yang tidak berubah, datar. namun entah bagaimana bisa ia begitu tergila-gila pada gadis kutub utara itu. setiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit bahkan detik. ia selalu ingin di dekat Alexa-nya. rasanya jika kesayangannya itu tak terlihat di depan matanya ia akan mengubrak-abrik dunia untuk menemukannya.

"Kenapa kusut gitu mukanya?" Xavier bertanya pelan sambil tangan pria itu mulai merengkuh mesra pinggang Alexa, hingga membuat gadis itu sedikit risih. melihat hal itu, Xavier bukannya melepaskan malah semakin posesif memeluknya. Alexa berdecak pelan, "gapapa, cuma ngantuk." jawabnya singkat.

"beneran? bukannya karna kangen aku, ya?" Alexa yang mendengar itu pun mendelik, percaya diri sekali pria itu.

"percaya diri sekali anda, tuan." mendengar itu Xavier tersenyum kecil, wajah datar kekasihnya menunjukkan ekspresi lain dan itu cukup membuat mood nya baik.

"mau langsung pulang?" tanya Danu dan dibalas anggukan lemas oleh gadis gadis itu. mereka berjalan beriringan keluar sekolah, ketika sampai parkiran Nabila dan anak anak perempuan lainnya menunggu para pria mengambil motornya.

setelah selesai, gadis gadis itu mulai menaiki motor. duduk di belakang sambil memeluk orang yang mengemudikan motor itu, dan menyandarkan kepala ke punggung pemuda-pemuda itu.

karna perbedaan arah mereka berpisah ketika sudah melewati gerbang,mereka saling men-tlakson satu sama lain dan sesudahnya saling mengangguk.

sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian dan suara berisik oleh motor-motor lain, sebelum Alvino memulai percakapan karna tidak tahan dengan kecanggungan ini.

"gimana sama hari ini? ada yang kesulitan engga pas ngerjain soalnya tadi?" tanyanya memulai percakapan.

Nabila sempat terdiam sejenak sebelum menjawab, "engga ada, semuanya aman." sahutnya agak sedikit kencang karna takut tidak kedengaran.

"Lo kalau disuruh nunggu- mau enggak?"

"Nunggu? nunggu siapa?" alis Nabila berkerut heran dengan pertanyaan tiba-tiba itu, buat apa ia menunggu.

"Gue."

"Lo? mau kemana?" sahut Nabila cepat, perasaannya kini semakin gelisah. sebenarnya ada rahasia apa yang ia tidak tau.

"ada pokoknya." kata Alvino sok misterius dan semakin meninggalkan tanda tanya dikepala Nabila.

"Lama engga?" Nabila sengaja tidak membahas hal yang tadi, karna ia cukup tahu diri untuk tidak terlalu ikut campur masalah pria itu. kalaupun bukan masalah besar pria itu pasti langsung memberi tahunya tanpa harus bermain teka-teki seperti ini.

"Gue sendiri juga engga tau." banyak pertanyaan menyerang pikiran gadis itu setelah mendengar jawaban dari Alvino, apakah pemuda itu akan pergi jauh.

"dan Gue harap apapun yang terjadi, Lo harus percaya sama Gue." lanjut Alvino. ia tau dari cara pria itu bicara, dia berharap besar.

"Gue bakal selalu nunggu Lo, soal percaya.. Gue pasti bakal percaya sama Lo." kata Nabila meyakinkan, setelahnya gadis itu mendengar helaan nafas lega dari pemuda di depannya.

"jangan pergi ya? Lo alasan gue buat selalu tersenyum." Alvino diam, perkataan gadis itu membuat dia kehilangan kata-kata. tak menjawab justru pria itu malah semakin melajukan motornya, berusaha menahan air mata yang menerobos ingin turun.

Lagi dan lagi.

Maaf, gue engga bisa janji.

bahagia selalu Abil.

IMDLCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang