"Apa yang udah jadi milik gue, akan selalu jadi milik gue."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saat hendak menuju toilet, Alvino melihat seorang pemuda yang sedang menatap kearah lapangan. Ditangan pemuda itu memegang ponsel dan mengarahkan kamera, memotret diam-diam seorang gadis yang nampak fokus pada kegiatannya.
Langkahnya semakin mendekat, setiap ketukan sepatu mengandung emosi yang terpendam. tangannya terkepal kuat, siap untuk membogem siapapun yang berani mengusiknya— mengusik ketenangannya. Tatapan buas serta seringai tajam menghiasi wajah tampan bak Dewa Yunani itu.
Jika dirinya memegang pistol, sudah pasti sedari tadi ia menarik pelatuk dan mengarahkannya pada pemuda brengsek itu. Memotret gadisnya diam-diam? apakah cowo itu mau cari perkara? Sepertinya sudah sangat lama ia tidak menggunakan tinju nya.
Membayangkan gadisnya menjadi objek fantasi laki-laki lain membuat emosinya seketika meningkat, Gadis yang ia jaga dirusak secara tidak langsung oleh pemuda itu. Membiarkan pria itu berpikiran buruk tentang gadisnya membuat Alvino ingin sekali melempar cowo itu ke Neraka.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika gadis itu tau perlakuan laki-laki itu padanya. Bahkan sebuah tamparan keras saja tidak cukup untuk menebus semua perlakuannya, segala macam sumpah serapah pun tak akan ada habisnya jika untuk diucapkan pada pemuda itu.
Pemuda itu Reno, salah satu adik kelas nya yang cukup populer dikalangan para gadis. Dia beberapa kali mendengar gosip tentang pria itu, yang kerap kali menggoda adik kelas atau bahkan kaka kelas sekali pun. perangai nya yang brengsek tertutupi oleh wajahnya yang tampan, pernah satu hari ia tak sengaja melihat pria itu sedang mendekati seorang gadis. Berduaan, dengan tangan pria itu yang lancang berkeliaran kemana-mana. Dan anehnya cewe itu tidak teriak atau bahkan menepis tangan pria itu.
Mungkin saja cewe itu diancam atau sebagainya. Dilihat dari tatapannya yang menatap cemas dan tangan yang bertaut gelisah, perempuan itu tertekan.
Dari pakaiannya sepertinya gadis itu anak baik-baik, dan terlihat layaknya anak rumahan. Wajah polos nan lugu, Alvino tau jika cewe di atas pangkuan Reno sedang dalam bahaya.
Bagaimanapun juga ia masih punya rasa simpati, membayangkan Adek atau gadisnya yang berada diposisi itu— tak bisa meminta tolong, tertekan, dan bahkan terancam. ia tak sanggup bahkan hanya dengan bayangan saja.
Bukh!
"Cowo brengsek!" serunya sambil memukuli pria itu dengan bogeman mentah. Cewe yang tadi berada di pangkuan Reno seketika berdiri dan sedikit menjauh, gadis itu menutup mulutnya sambil melotot kaget.
"Bangun lo bangsat! Cowo kaya lo ga pantes ada di bumi!!"
Bukh!
Bukh!
Bukh!
Beberapa orang mulai mendekat penasaran, kedua pria yang sedang beradu tinju itu dikelilingi oleh banyak warga yang berdatangan. Seorang Keamanan disana pun datang untuk melerai keduanya, tapi usahanya itu gagal.
Mata Alvino berkilat marah, dan kembali meninju wajah pria itu hingga meninggalkan banyak bekas. Dan sesekali menendangnya hingga terpental beberapa meter. "Mati lo ke Neraka!"
"Sudah-sudah, ada apa ini kalian berkelahi?" Tanya keamanan disana.
Alvino diam tak membalas, tatapannya masih tertuju pada Reno. Yang sedang menyeka darah yang terdapat di sudut bibirnya secara kasar, penampilan pria itu berubah berantakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IMDL
Romancehanya ada kesunyian di antara keduanya sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sang gadis untuk memecah keheningan. "Avinn, Aku kalo jadi princess cocok gak?" Tanya Nabila sambil menatap berbinar ke arah Alvino. "Cocok.. " "jadi nenek sihir n...
