E M P A T P U L U H L I M A

1K 54 14
                                        

Perusahaan Aldevara bergerak dibidang properti yang cukup ternama. Salah satu perusahaan yang dipegang Daren secara pribadi adalah hotel yang ada di pinggir kota. Tentu tidak sebesar yang dikelola langsung oleh Skala dan para petinggi Aldevara Group. Memangnya apa yang dapat diharapkan dari pria umur 22 tahun yang masih menempuh kuliah semester awal? Yang dilakukan Daren hanyalah menyuruh bawahannya untuk bekerja keras, marah jika pendapatan terus menurun, dan akan merepotkan para asisten Skala untuk kembali menstabilkan kondisi hotel agar dapat beroprasi kembali dan tidak terancam bangkrut.

Tapi pagi ini, dengan kemeja hitam yang cukup rapi, Daren memasuki gedung utama yang berisikan para petinggi Aldevara Group yang selama ini berada dibalik nama Daren. Jauh sekali seperti yang digembor-gemborkan media jika putra tunggal Skala pandai berbisnis dan mengelola perusahaan, nyatanya Daren selama ini hanya pandai membuat onar saja.

Saat melewati lorong-lorong Daren mendapati raut wajah karyawannya pucat dan kaku saat melihatnya. Seperti takut hendak disantap, padahal Daren tidak berniat marah-marah pagi itu, hanya malas pura-pura ramah.

"Kenapa lo?" tanya Daren kepada salah satu staf resepsionis.

"M-maaf?"

"Malah minta maaf. Maka lo pucet banget. Nggak make up?"

"M-maaf—"

"Anjir, malah minta maaf lagi. Make up yang bener! Lagian siapa sih yang nyuruh lo jadi resepsionis? Udah tau muka pas-pasan, dekil, malah ditaruh bagian depan."

Baik, niat awal tidak ingin marah harus terhempaskan karena tiba-tiba suasana hati pria itu buruk. Beruntung asisten Skala cepat mengalihkan perhatian si Tuan Muda. Daren bersama rombongan naik ke ruang paling atas, tepat dimana rapat besar diadakan. Ternyata niat si tempramental datang ke hotel pinggir kota ini adalah untuk menghadiri rapat.

Setiap satu bulan sekali memang diadakan rapat yang membahas mengenai perkembangan hotel. Masing-masing perwakilan devisi akan mempresentasikan hasil selama satu bulan terakhir. Nampaknya ada perkembangan dari Daren, dari awalnya yang selalu membolos rapat dengan dalih sibuk berkuliah, kini mulai ada peningkatan, meski hanya datang untuk memarahi para staf dan bermain HP saat rapat berlangsung. Tidak ada yang berani menegur, mereka semua tahu siapa Daren dan bagaimana wataknya.

Setelah rapat selesai Daren langsung bergegas menuju kampus, ada kelas siang. Dosennya pun galak bukan main, ia pun sedang malas berdebat, jadi untuk menghindari masalah pria itu menaikkan kecepatan mobilnya karena 20 menit lagi kelas akan dimulai.

Sampai di parkiran ada hal yang menyita perhatiannya. Perempuan dengan dress baby blue motif bunga daisy dan ikat rambut putih gading yang tengah berlari kecil menuju parkiran. Dengan segera pria itu keluar dari mobil, menghalau laju sang perempuan.

"Gea? What are you doing here?"

Perempuan yang dipanggil Gaia itu tampak sedikit terkejut, namun keterkejutannya hanya bertahan beberapa detik, tergantikan dengan senyum lebar hingga matanya yang besar mengecil.

"Aku habis daftar ulang."

"Wait, daftar ulang?"

Melihat ekspresi Daren yang terlihat seperti tidak senang membuat hati Gaia mengecil, sengum di bibirnya ditarik kembali. Ia mengangguk pelan.

"Liat!" Daren menarik map coklat yang dipeluk Gaia dengan kasar. Tertera kertas bertuliskan ijazah, data diri, dan serangkaian berkas yang tidak terlalu diperhatikan Daren, namun jelas kertas itu digunakan untuk mendaftar kuliah.

Ada percikan amarah yang menyergap hati Daren. Ia tidak suka ketika kekasihnya berusaha untuk bertindak tanpa seizinnya. Tanpa sadar, Daren meremas kertas di tangannya hingga kusut, urat-urat di tangannya menonjol. Daren memotong jarak hingga ujung sepatu mereka bertemu.

Gaia menahan napas sejenak, belum terbiasa dengan aroma maskulin yang menyengat jika dihirup sedekat ini. Jari telunjuk yang dingin menyentuh dagunya, memaksa ia untuk mendongak, menatap mata tajam yang selalu berhasil membuatnya takut.

"Kenapa mulai lancang? Kenapa nggak diskusi dulu sama gue?"

Untuk menjawab pertanyaan yang dilayangkan Daren pun ia tak kuasa, kakinya gemetar bukan main. Lama sekali wanita itu tak melihat sisi lain dari Daren yang kini kembali muncul. Jemari dingin nan berurat itu mencengkram erat pinggangnya yang mulai terlihat gerak-gerik hendak mundur. "Jawab!"

Gaia tak bisa menjawab. Lebih tepatnya, gadis itu takut. Benar, ia memang perempuan lemah yang mudah diinjak-injak oleh siapapun. Benar, ia perempuan yang tidak punya keberanian, membela dirinya pun ia tak kuasa. Gaia, perempuan itu sangat jauh dari kata sempurna. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menahan tangis mati-matian agar tidak terlihat rendah dimata Daren, namun apalah daya ia, menahan tangis pun ia tak kuasa. Gaisa tertawa kecil ditengah isakannya. Sekali lagi, ia benci dirinya sendiri.

Dengan tangan mengepal, meski bergetar, Gaia menguatkan diri. "Emang kenapa kalau gue daftar kuliah? Nggak semua hal bisa lo atur. Lo bukan, Tuhan." Tenang sekali ia berucap, tidak dengan nada tinggi, tidak terdengar seperti orang yang marah.

"Gea?"

Gaia masih menunduk dalam, ia tak ingin menatap wajah Daren, takut nyali yang ia kumpulkan akan runtuh saat bertatapan dengan mata tajam itu.

"Selama ini gue hidup dalam bayang-bayang lo. Gue nggak pernah benar-benar jadi Gaia. Gue bahkan nggak tau gimana caranya hidup sebagai manusia normal." Bayangan tentang masa-masa kelam yang ia habiskan dengan psikolog dan obat-obatan yang menunjang emosinya kembali terputar. Melihat teman-teman seusinya sudah menjadi sarjana, sudah mendapat pengalaman hebat, sudah dapat nama di perusahaan, membuat hatinya tergores. Saat orang lain berlomba-lomba mengejar tujuannya, Gaia justru berdiam di tempat, bukan karena tidak ingin lari, melainkan lantaran kakinya yang sudah dipotong, tidak ada pilihan untuk bergerak selain merangkak menggunakan tangannya.

"Udah cukup selama ini lo bikin hidup gue hancur sehancur-hancurnya. Gue mau hidup, gue nggak mau hidup dibawah tekanan lo lagi." Gaia akhirnya berani mendongakkan kepala, matanya merah, penuh air mata. "Gue lebih milih mati dari pada hidup sama lo. Kalau lo mau gue hidup, berhenti perlakuin gue kayak boneka!"

Daren tersenyum miring.

TBC

Hai, maaf lama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 30, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Darenio [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang