Tentang mereka yang dulu terpisah
Tentang mereka yang tak lagi saling menyapa
Apakah Cinta Lama Bersemi Kembali?
Ataukah Cinta Lama Belum Kelar?
BUKU 3 SERI 4 SEKAWAN SAGA
Aini tidak banyak bicara. Sekalipun Tony sudah membuat dirinya terlihat konyol setengah mati, Aini masih tidak banyak bicara. Tony bukannya tak tahu apa yang ada di pikiran wanita tiga puluh tahun itu. Wanita anggun itu, tak siap menghadapi ayahnya. Pria bijaksana yang lebih memilih mundur dari pekerjaannya dari pada dia harus terus menerus dituduh menjual putrinya demi menaikkan statusnya dalam sosialita.
"Berhentilah cemas, semua akan baik-baik saja. Ayahmu akan bahagia kalau putrinya bahagia. Hmm?" Ucap Tony sembari menggenggam tangan halus kekasih hatinya dan mengelusnya penuh kasih sayang, berharap kecemasan wanitanya itu berkurang.
Aini menghela nafas dan tersenyum pada wajah matang yang sedang mengendarai mobil mewah otomatisnya itu. Benar. Ayahnya tentu akan bahagia jika putri satu-satunya ini bahagia. Aini sangat yakin akan hal itu. Dia tidak meragukan hal itu sedikitpun, tapi, Aini juga tahu, ayahnya sudah tidak mau tahu tentang keluarga Mahendra. Keluarga yang sudah menginjak-injak harga dirinya dan merendahkan putri satu-satunya. Apa mungkin, ayahnya akan luluh hanya karena cinta mereka yang belum jelas masa depannya ini? Apalagi mengingat, status Aini yang hanyalah seorang janda beranak satu.
Aini menurunkan kaca jendela mobil Tony dan menoleh ke arah jalan yang mereka lalui. Mencoba menikmati tarian angin yang seolah-olah memberinya keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Dia masih merasakan genggaman tangan kekasihnya. Merasakan kehangatan yang dulu sangat ia rindukan dan walau kini pria itu di sampingnya, tetap saja ia rindukan.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alam bumi parahyangan tak pernah mengecewakan mata yang memandangnya. Kebun teh yang membentang rapi, angin yang berbau hutan, cahaya terik tapi menyejukkan. Tony benar-benar merindukan tempat ini. Tempat dimana kenangan manisnya bersama Aini terukir abadi. Pelukan pertama itu, kegalakan si Delapan Belas tahun itu dan ciuman pertama mereka. Tony terkekeh mengingat tingkah menggemaskan Aini saat itu. Semua flash back yang membahagiakan itu masih terekam jelas dalam ingatannya.
"Ada apa?" Tanya Aini yang sudah menyusul Tony ke tepian kebun teh. Orang tua Aini belum pulang, entah kemana. Ayahnya tidak mau memberitahunya. Karena tak ada siapapun lagi di rumah Aini, merekapun memutuskan untuk berkeliling desa dan menikmati kebersamaan mereka.
Tony menoleh ke arah wanitanya dan tersenyum sehangat mentari. Sungguh, Tony tak tahan. Dia ingin sekali memeluk Aini dalam nuansa romansa ini, tapi apalah daya. Mereka sedang berada di tempat, dimana, sedikit saja cela bisa jadi binasa.
"Aku hanya bahagia. Setelah neraka berkepanjangan yang kurasakan selama dua belas tahun ini, aku tak pernah menyangka, aku akan kembali ke titik bahagia ini. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, Aini. Aku benar-benar ingin menciummu setengah mati. aku benar-benar ingin menarikmu ke penghulu saat ini juga dan menjadikanmu istriku."
Aini menatap nanar pria matang di sampingnya. Binar matanya terlalu kentara. Dan Tony berkata Aini tidak tahu apa yang ia rasakan? Sungguh, Aini tahu. Aini sangat tahu. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Apa boleh Aini mengiyakannya saat ini juga? Bukankah, mereka bisa menikah dengan sekejap mata jika di mata agama?