•••
Erlan terus-menerus menghela nafas, sembari menghirup rokok di taman rumah sakit. Dia menyendiri untuk menenangkan pikirannya, bahu nya nampak di pegang seseorang dan itu Ronald.
” Merokok lagi? " Tanyanya, Erlan mengangguk dan mematikan rokok nya lalu membuangnya ke kotak sampah.
” Hanya dua batang, tidak papa. ” Ujar Erlan, Ronald lalu duduk di samping Erlan menatap betapa banyak nya beban di raut wajah sang suami.
” Kau masih memikirkan tentang organisasi itu? " Tanya Ronald lagi, Erlan mengangguk.
” Jika meminta bantuan Melan sekarang rasanya mustahil, kalau Azril... Itu sama saja seperti memberi mereka apa yang mereka mau, aku memang tidak sekuat Papa dan Mama. ” Pasrah Erlan, kepergian Erga saja Releana bisa menstabilkan keluarga semula setiap kali di landa masalah.
Sedangkan dia, berkutik pun tak bisa hanya karna beberapa masalah. Dirinya memang sangat amatiran untuk menjaga keluarga Atthaya.
” Erlan... Mungkin, kita harus meminta bantuan Lian. ” Erlan lalu menatap Ronald, dia kembali menghela nafas.
” Kau tau kan, Lian itu bukan siapa-siapa keluarga Atthaya maupun Alexandra. Bagaimana bisa kita meminta bantuan kepadanya sedangkan dia tak ada keuntungan dari itu. ”
” Aku tau, tapi hanya itu pilihan terakhir. Aku sudah lama sekali tidak berkomunikasi pada Lian, semenjak umur Mean 5 tahun dia sudah pergi untuk mengelilingi dunia. Aku juga sudah sangat merindukannya begitupun Azril dan Crish pastinya. ” Erlan lagi-lagi menghela nafas lelah.
” Baiklah, aku akan menelfon Thor untuk masalah ini. ”
•••
Di saat semuanya di buat sibuk dan pusing atas masalah yang menimpa Atthaya dan Alexandra ini, Crish tidak sedikitpun memikirkan masalah itu. Bahkan Azril yang selaku suami pun malah mengabaikan semuanya, terdengar egois di tambah masalah ini ada karna adanya mereka di kehidapan kedua keluarga ini. Namun keduanya memilih tidak peduli, demi keluarga dan demi kebahagiaan mereka.
” Aku ingin pulang. ” Ujar Crish, Azril yang duduk di sampingnya memiringkan kepala.
” Sebentar aku tanya pada Erlan dan kak Ronald dulu. ” Balas Azril, dia hendak pergi namun tangannya Crish cekal.
” Aku tidak jadi pulang, aku ingin di sini. Bersamamu. ” Ucap nya, Azril kembali mendudukan dirinya dan memandang Crish saksama.
” Kenapa? Ada yang membuatmu kepikiran, kata dokter kau tidak boleh banyak pikiran. ”
” Aku tau, tapi... Mau di paksakan tidak memikirkan nya, aku tidak bisa... ” Azril menggenggam tangan Crish, menatap raut wajah Crish yang kini tengah sangat ketakutan.
” Yang mereka inginkan sebenarnya adalah aku, yang di tulis ke surat itu semuanya bohong. Tentang janin, kau, mereka menyebutkan kau itu hanya karna mereka ingin aku terpancing dan menyerahkan diri sebagai ganti nantinya. Rencana mereka mudah di baca, jadi jangan khawatir. ”
” Tentu aku khawatir, kau ingat dulu? Saat aku menceritakan masa lalu ku sebelum masuk ke Mansion jalang, aku adalah anak desa yang menjijikan. Tapi kau tidak membenciku, dan malah mau berteman denganku... Kalau mereka memang ingin mengambilmu, maka aku bukan hanya kehilangan suamiku, tapi juga sahabat ku Azril! ” Crish melepaskan genggaman tangan Azril, mengelap butiran bening yang telah jatuh tanpa permisi dari matanya.
” Aku itu bisa menjaga diri, sekarang aku adalah Alpha bukan? ”
” Mau seberapa kuat kau, seberapa tangguh dan hebat dirimu sekarang. Se mengerikan apapun aurahmu, Azril adalah Azril! Maniak game, suka bersantai dan bermalas-malasan. Aku tidak mau kehilangan sahabatku, kau bukan Azril... Azril yang ku kenal bukan sok tangguh seperti ini... ”
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine S2
General FictionS2 dari 'Mine' Bagi yang belum baca S1 di sarankan untuk membaca terlebih dahulu.
