Jangan lupa Vote and Komen.
Happy reading :]
•••
Pagi berubah siang, terik matahari membuat Qasta membuka matanya. Dia sempat tertidur saat sudah susah payah untuk naik ke kursi roda namun sia-sia, perlahan dia menutup matanya dan meletakan lengannya untuk tak membuat mata nya silau.
Perlahan sentuhan lembut di lengannya membuat Qasta langsung membuka matanya, Qasta terkejut saat melihat seseorang yang membenarkan kursi roda nya. Qasta perlahan mendudukan dirinya, menatap orang itu yang sedang memeriksa kursi roda nya.
Perlahan bibir orang itu bergerak seolah menanyai dan berbicara padanya, namun pemuda itu tidak tahu. Dia hanya fokus pada wajah teduh yang tersenyum begitu manis di hadapannya, mengetahui Qasta tak mengerti orang itu tertawa.
" Ke-na-pa ka-u di si-ni? " Eja orang itu, wajah Qasta nampak berbinar melihatnya. Dia tersenyum dan menggeleng lalu membalas senyuman teduh yang sedari tadi dia lihat, menenangkan.
Perlahan Qasta menggapai tangan orang itu untuk membantu nya, dia pun masuk kembali ke Mansion.
Saat berada di Mansion mata Qasta menatap tangga, mendapati Mean yang turun dari tangga dengan perlahan.
" Mean, makan yuk. Kau belum makan siang kan, ayo. "
" Tumben kau bersama Qasta? " Mean menatap Qasta yang hanya tersenyum, Ronald tersenyum manis.
" Aku melihatnya tertidur di taman Mansion, ku rasa dia terjatuh dari kursi nya dan tidak bisa naik lagi. " Ronald sedikit terkekeh kecil, dia juga sempat sebelumnya melihat Qasta yang jutek dan melempari kursi roda nya dengan batu krikil. Lalu tak lama Qasta memilih berbaring dan malah tertidur di sana.
Mean perlahan mendekati Qasta dan berjongkok di depan pemuda itu.
[ Ikut lah denganku, bisa kan? ] Gerakan tangan Mean membuat Qasta bingung.
[ Kemana? ]
[ Ketempat yang pasti kau suka. ]
Mata Qasta berbinar lalu mengangguk, di kepalanya hanya satu. Bermain bersama Kiano di taman atau di manapun itu asal rasa bosannya hilang.
Qasta sudah siap menunggu di depan Mansion, berharap Mean cepat datang dan membawanya ke tempat yang Mean janjikan. Harapan untuk yang pertama kali Qasta inginkan, selama ini jarang sekali dia berharap untuk nya. Dia hanya berharap kebahagiaan Kiano, melihat senyum Kiano, dan semuanya tentang Kiano. Namun saat ini, di banding Kiano, Qasta menginginkan kebahagiaan untuk nya walau masih ada sedikit ingin adanya Kiano.
Qasta terlonjak kaget saat tiba-tiba di sentuh dari belakang oleh pemuda yang ia kenal, Qasta dengan heran memiringkan wajah nya mengetahui pemuda itu sedikit pucat.
" Mau kemana kau? " Tanya Juan, dia sengaja diam-diam ke mansion Atthaya demi menemui Qasta untuk minta maaf karna membuat Omega itu shock.
" Oh ya aku lupa. " Seketika Juan memukul jidatnya, melihatnya Qasta jadi tambah heran dengan pemuda Alpha di depannya ini.
[ Maaf. ] Qasta terdiam melihat tangan Juan, ada sedikit tidak mau memaafkan tetapi melihat tatapan sendu di tambah penuh penyesalan itu membuat Qasta menjadi iba.
Baru saja Qasta ingin menjawab iya tangannya telah di tangkup dan tubuh nya di peluk dari belakang, Qasta merasakan bahu kirinya menampa dagu seseorang. Qasta lalu menolehkan pandangannya, lalu di hadiahi senyuman manis dari orang yang memeluknya.
" Ada perlu apa kau bersama tunangan ku Juan? " Dingin Mean, dia mulai berdiri menghadapi Juan yang sudah tertunduk lesu.
" Aku hanya ingin minta maaf. " Mendengarnya Mean menaikan alisnya sebelah dan memandang Juan remeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine S2
Fiction généraleS2 dari 'Mine' Bagi yang belum baca S1 di sarankan untuk membaca terlebih dahulu.
