Chapter 29

89 6 0
                                        

•••

Esok nya, ntah apa maksud Melan mengumpulkan semuanya. Awal nya kehadiran Mahen, Kean, Alfin dan Erick itu menjadi sesuatu yang mengherankan bagi mereka semua. Namun Mean menjelaskan kenapa bisa ke-4 nya ada, dan pemuda itu juga menepati perkataanya pada Mahen untuk tidak memanggil Mahen dengan sebutan papa.

” Kau benar-benar tidak papa kan? " Tanya Rayya pada Juan, Juan mengangguk. Mata Juan memandang Ayah nya itu dengan saksama, ada yang aneh tetapi dia tidak tau letak nya bagaimana.

” Apa ayah baik-baik saja? ” Tanyanya balik, Rayya tertegun sebentar lalu mengangguk. Juan lihat Rayya seperti orang depresi, baru beberapa minggu dia meninggalkan rumah namun kondisi sang ayah sudah begini.

" Jadi... Aku akan langsung ke intinya saja. " Melan yang tengah duduk di sofa itu mulai berdiri, pria itu lalu mengambil satu berkas yang di berikan bodyguardnya.

” Aku akan berpisah dengan Rayya. ”

Deg.

Semuanya ikut berdiri mendengar itu, bahkan Juan yang mengamati Rayya itu langsung melihat Melan dengan tak percaya.

” Apa kau gila?! ” Teriak Juan, semua pasang mata lalu menatap ke pemuda yang mengenakan kursi roda itu.

” Kenapa? Bukan kah Papa selalu saja bersama Ayah, bahkan saat aku kecil tidak ada waktu bagi kalian bersamaku. Karna kalian sibuk bermesraan, lalu kenapa sekarang ingin pisah?! ”

” Kau tidak mengerti Juan. " Balas Melan, kini untuk yang pertama kali Melan menatap putranya itu secara dalam. Selama ini Melan mengabaikan Juan, karna menurutnya Juan adalah sumber masalah di dalam rumah tangga nya.

Namun Melan tau, ketidak dewasaan lah yang membuat rumah tangga nya hancur. Dia menikah di usia yang masih sangat muda, jadi wajar jika rumah tangga itu tidak akan bertahan.

” Aku tidak setuju! ” Tekan Juan, dia menatap kesal Melan sekarang. Di saat dia sudah menerima keduanya mengabaikannya, kenapa sekarang malah ingin pisah? Itu tidak masuk akal.

” Sudah ku katakan, kau tidak mengerti. ” Ucap Melan lagi, dia lalu memberikan berkas itu pada Rayya.

” Tanda tangan, maka besok kita bisa langsung kepengadilan. ” Pinta nya, Rayya menatap berkas itu kosong.

” Aku tidak ingin pisah. ” Gumam Rayya pelan, Melan menelan ludah nya kasar.

” Jangan bohongi dirimu sendiri. ” Ujar Melan, Rayya lalu meneteskan air mata nya dan mendongak memandang Melan.

” Juan ingin kita bersama, jadi aku tidak mau pisah—

” Bisa kau melupakan semuanya untuk saat ini? Pikirkan perasaan mu, tidak perlu memaksa. ”

” Aku—

” TANDA TANGAN! ” Melan melemparkan berkas itu tepat di depan Rayya, pria itu lalu mengepalkan tangannya dan pegi begitu saja membuat semuanya shock.

” Melan! ” Panggil Ronald yang hanya menyimak sedari tadi, tidak seperti biasanya Melan seperti itu.

” Biar aku yang susul. ” Ucap Mahen, Alfin yang hendak menyusul itu menatap Mahen yang mulai berjalan santai ke arah Melan pergi.

” Adik, dia Omega yang rentan dulu nya. Kenapa saat jadi Alpha malah lebih rentan? " Heran Alfin.

” Dia memang Alpha dari dulu, akting nya saja yang mengelabui mu. ” Balas Mahen, Alfin menatap khawatir.

Melan itu adalah peninggalan terakhir Merania kepada mereka, jadi anak itu spesial bagi Alfin maupun Mahen.

Brak.

Mine S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang