Chapter 25

129 6 0
                                        

•••

Dring...

Mean terbangun dari tidur nya, nampak Qasta yang mengelap hidung dan sudut bibirnya menggunakan tissue yang di basahi dengan air.

” Kau tidak papa? ” Tanya Qasta, Mean mengangguk dan duduk. Kepalanya terasa sakit dan pusing, penglihatannya pun mengabur dan seolah berputar hingga tisak dapat melihat secara jelas.

” Apa kau bisa mendengarku? ” Tanya Mean, Qasta mengangguk.

” Aku menemukan alat bantu dengar di dalam lemari mu, maaf membukanya sembarangan. Aku ingin mengganti baju mu yang penuh dengan darah, dan tidak sengaja menemukannya. ” Ucap Qasta, Mean lalu menatap sekeliling. Matanya tertuju pada jari manis Qasta yang terpasang cincin.

” Oh ya, ada yang menelfon mu dari tadi. ” Ucap Qasta, perlahan dia memberikan ponsel Mean. Mean menatap panggilan tak terjawab dari Jonathan dan Zoy, dia menghela nafas dan menatap jam yang sudah 8 pagi.

Mean memencet nomor Zoy dan menelfon balik pria tua itu.

” Ada apa menelfon ku. "

( Tuan, semuanya telah selesai. )

” Baik, aku akan datang ke sana 1 minggu lagi mungkin. Karna Juan sedang sakit, dan tangan ku pun sedang dalam proses pemulihan. ”

( Baik, jika anda ingin cepat sembuh. Mungkin Pf. Jonathan mempunyai obat yang lebih ampuh. )

” Ya, kirimkan itu. Dan juga, obat pemulihan Istriku jangan lupa di kirim juga. ”

( Baik. )

•••

Kiano kini terdiam, ia menatap Rayya yang melamun ke arah Juan dengan mata sembab. Sedangkan Melan, pria itu menatap sedih ke Rayya. Perlahan Kiano menatap Juan, pemuda itu kini sudah bangun dan telah menyadari kondisi nya yang tanpa kaki satu, Juan nampak terdiam memakan bubur.

” Bubur nya hambar. ” Gumam Juan, Rayya yang mendengar itu langsung mengambil bubur putranya.

” J-jika kau ingin ku buatkan bubur baru, a-aku—

” Tidak perlu, buburnya memang hambar, tapi masih dapat di terima oleh mulut ku. " Ucap Juan, pemuda itu tersenyum pada Rayya. Semua orang termasuk Melan tau, senyum itu bukan lah senyum bahagia.

” Ayya, kau belum makan. Kita pulang sebentar ke rumah, sekalian untuk membawa baju Kiano. ” Ujar Melan, Rayya menatap Melan.

” Aku tidak perlu makan. ” Balasnya, mendengarnya Melan mengerutkan keningnya.

” Kau butuh, siapapun butuh makan. Ayo pulang, hanya sebentar. ” Ajak Melan, Rayya tetap tidak mau. Al hasil Melan kesal dan menggendong Rayya seperti karung beras, tentu Omeganya itu memberontak, memaki nya dan menangis berteriak untuk di turunkan.

” Paman Rayya sangat mengkhawatirkan mu, bahkan dia rela keluar dari kamar rawat nya untuk menjaga mu. ” Gumam Kiano, Juan tersenyum kecut.

” Entah aku harus sedih atau senang, sekarang dapat ku rasakan kehangatan kedua orang tuaku. Tapi, lihat kondisiku sekarang, menyedihkan. ” Juan tersenyum, hati Kiano sakit mendengarnya.

” Aku akan menjagamu, sampai kapanpun. ” Ucap Kiano, Juan tersenyum.

” Lebih baik kau cari Alpha lain saja, Alpha cacat seperti ku tidak—

” Aku saja bisa bersama dengan kakak ku, tidak mungkin aku tidak bisa bersamamu. Kau seperti ini karna diriku, aku akan membalasnya dengan hidup ku untuk mu selama sisa hidupmu. Aku berjanji. ” Tekad Kiano begitu kuat, melihatnya Juan menghela nafas. Perlahan Juan meletakan bubur yang terasa hambar itu di atas nakas, dan merebahkan tubuhnya.

Mine S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang