Chapter 22

80 2 0
                                        

•••

Qasta mencoba berdiri, senyumannya mengembang saat akhirnya dirinya bisa. Perlahan dia melangkah kan kaki nya, namun masih saja goyah dan berpegangan di sofa. Qasta kembali melangkahkan kaki nya, selangkah bisa namun langkah selanjutnya ia terjatuh.

” Berdiri, kau pasti bisa. ” Ucap Mean, Qasta mengangguk lalu perlahan berdiri lagi. Dia mencoba melangkahkan kaki nya sekuat tenaganya, saat hendak di dekat Mean pemuda itu langsung menarik Omega nya.

Qasta tersungkur di pelukan Mean, dia lalu mencoba berdiri lagi menatap Mean yang sudah tersenyum hangat padanya. ” Berhasil, kan? ” Ucapnya.

Qasta mengembangkan senyuman nya lalu mengangguk antusias, dia menatap lengan kiri Mean yang terbalut perban. Tapi untunglah lengan kanan tidak kenapa-napa.

” Naik. ” Titah Mean, Qasta memiringkan kepalanya. Naik ke kasur? Tapi Mean lah pasien di sana, dan kasur juga nampak penuh tak bisa ia naiki karna tubuh Mean. Kasurnya muat satu orang saja.

” Tidak bisa. ” Ujarnya.

” Bisa, naik. ” Titah nya lagi, Qasta mengangguk lalu menaiki kasur pasien itu. Tapi tetap saja tidak muat, hingga akhirnya dia duduk di atas perut Mean karna hanya dengan itu dia bisa menaiki kasur.

” Tutup tirainya. ” Suruh Mean, kasur itu memang di kelilingi tirai berwarna putih. Qasta mengangguk dan menutup tirai yang mengelilingi mereka, setelahnya Qasta menatap heran Mean.

” Kenapa menyuruhku duduk di sini? Kalau aku duduk di sofa, kau tidak akan kesusahan seperti ini. ” Ucap nya heran, Mean tersenyum miring.

” Jika kau duduk di sofa, maka aku tidak bisa menyentuhmu. ” Qasta lagi-lagi memiringkan kepalanya bingung, setelah menyadari apa yang di maksud Mean pipi nya memerah. Ia baru sadar jika dia duduk di perut Mean, bahkan tangan kanan Alpha nya itu telah mengelus-elus paha dan beralih masuk ke dalam baju nya dan mengelus pinggangnya.

Qasta hanya diam, dia tidak membantah atau menolak sedikitpun. Dia tahu, kalau sekarang Mean adalah suaminya. Mean menatap Qasta bingung, Omega itu memejam kan matanya erat dan menggigir bibir bawah nya sendiri.

” buka matamu, jangan gigit bibirmu sendiri. Kalau mau, kau boleh menggigit bibirku. ” Goda Mean, Qasta mengerutkan keningnya dan membuang muka. Melihatnya Mean jadi terkekeh kecil.

” Hei Qasta... Kau tau apa itu cinta? ” Qasta yang awal nya menekuk wajahnya menjadi berubah ekspresi kaget, dia menatap mata Mean. Begitu kosong, dan Qasta tidak suka itu.

” Kenapa kau menanyakan itu padaku? Kau tahu itu cinta, kau merasakannya bukan? ” Jawab Qasta, Mean mendudukan dirinya membuat Qasta begitu dekat dengannya. Walau hendak terjatuh tapi tangan kanan Mean sudah sigap menahan pinggangnya.

” Merasakan? Itu makanan? rasa apa? Aku tidak pernah memakan cinta. ”

” Pufftt hahaha... ” Qasta tertawa lepas mendengarnya, melihat itu Mean mengerutkan keningnya lalu membuang muka. Melihat Qasta tak berhenti-henti tertawa Mean langsung memeluk Qasta, menenggelamkan wajahnya di leher Omega itu.

” Hei... Apa yang kau rasakan setiap kali kau melihatku. ” Qasta membalas pelukan itu, mengelus lembut rambut Mean dan menikmati hangatnya tubuh Alpha itu.

” Lucu, dan jalang. ”

” J-jalang? ”

” Kau seperti jalang, dengan hanya menatap mataku. Kau menimbulkan hasrat ku, terkadang aku berfikir apa aku mesum. Namun, ternyata tubuh Omega lain tidak membuatku tertarik. Berbeda denganmu, kau membuatku merasa ingin dan terus-menerus berada di dalam pelukanmu, dan ingin membuatku mengisi perutmu dengan anakku. ” Qasta nampak ngeblush, tidak salah apa yang Mean katakan. Namun dia tidak tahu kalau Mean mempunyai hasrat seperti itu.

Mine S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang