Chapter 24

104 3 0
                                        

•••

Mean menatap bulan yang terang, pikirannya terus berputar pada kejadian pagi dan siang tadi.

” Papa, sebenarnya apa yang kau lakukan sampai-sampai tadi pagi aku tidur dengan Kiano. ” Mean menghela nafas, dia lalu menatap Qasta yang terlelap tidur di ranjang. Mean menatap bulan kembali dan memejam kan mata.

~Bulan yang terang menjadi indah.
Karna kau yang menjadi bulannya.
Dan aku malam, yang selalu kau singgahi untuk tempat mu menyala.
Dirimu tidak akan selembut ini.
Tanpa ada nya malam di pelintasan masa ini.
Aku terlalu merasa atas sikap mu yang begitu lembut dengan tatapan seperti mengintimidasi.
Atau kau yang memang ingin aku terbuai dalam keindahan pada hidup ku yang kedua kali.

Mata Mean membulat, nafasnya terengah-engah. Suara yang baru saja ia dengar bukan lah suara yang pernah ia dengar sebelumnya.

” Ini pasti ingatan Papa selagi mengendalikan tubuhku, siapa yang berbicara itu? ” bingungnya, Mean kembali menarik nafas dalam dan menghebuskannya secara perlahan lalu memejam kan mata kembali.

Mahen...

” Huek... ” Seketika Mean kembali muntah, dan kali ini muntah Mean begitu banyak. Suara yang ia dengar begitu tenang, terasa penuh kehangatan. Namun bayang-bayang orang itu kabur, sentuhan nya terasa hangat. Mean bisa merasakan itu, kala itu tubuh nya bergetar, memeluk erat bayang-bayang yang terus berbisik menyebutkan 'Mahen'

Mean meremas dadanya, dirinya terus batuk-batuk dan darah yang keluar dari mulutnya masih memaksa untuk keluar. Samar-samar juga Mean dapat mendengar, merasakan, serta melihat secara samar orang yang bersama Mahen saat mengendalikan tubuhnya.

Mean lalu menatap ke bulan, dia tau. Kala itu Mahen terus memengucapkan 'Aku merindukanmu' berulang-ulang, sembari memeluk erat bayang-bayang itu.

” Kean... Apa itu kau? ” Gumam Mean, dia lalu bergegas mengambil tissue dan mengelap darah di pinggir-pinggir bibirnya. Dia menatap muntahannya lalu tersenyum miring, Brukk tubuh Mean ambruk di atas ranjang. Untung saja Qasta tak bangun, karna alat yang ia pakai di telinga itu sedang rusak karna terbakar.

Flashback, ke ingatan Kean.

” Ahhkk kepalaku sakit. ” Jemari nya memegang kepala dan meremasnya, Kean yang kini berada di tubuh Kiano hanya bisa terdiam. Perlahan Kean berdiri, dia menatap sekitar. Matanya terpaku pada seorang pemuda yang tidur di atas ranjang sembari tengkurap dengan bekas luka cambukan di punggungnya.

” K-kak—

Tok tok.

Secara reflek Kean menoleh ke arah belakang saat suara ketukan kaca terdengar, mata Kean membesar saat menatap orang yang mengetuk kaca dari luar. Dia langsung membuka jendela itu, dan memandang mata yang tajam menatapnya.

” T-tuan. ” Gumamnya, Mahen menatapnya datar. Mahen menerobos masuk melewati jendela, dia lalu menatap ada cctv di sana. Mahen tersenyum miring lalu memandang tubuh Qasta.

” Dia Erick, tetapi dengan tubuh yang berbeda. ” Ujar Mahen, Kean masih terdiam. Dia masih terpaku menatap Mahen, tubuh Mahen terlihat lebih muda tapi ia tau bahwa itu adalah Alphanya.

” Oh ya, bagaimana kabar mu hmm? ” Tanya Mahen, Mahen lalu menatap wajah Kean. Dia kaget saat mengetahui bahwa Kean sudah menahan air mata nya, tatapan Mahen meneduh melihat itu.

Grep.

Kean memeluk Mahen dengan erat, lalu menangis meraung memanggil nama Mahen. Kean mengatakan semua kerinduannya, yang dia ingat dulu. Dia hanya bisa berharap Mahen berdiri di depannya dan memeluk nya seperti ini, namun dulu dia hanya bisa melihat gundukan tanah yang berbatu nisan Mahendra Alexandra saja.

Mine S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang