•••
Mean kini tertawa lepas, menatap Wira beserta Opa Oma nya Qasta dan Kiano. Tangan Mean berlumur darah para bodyguard, Mean tidak takut jika di kroyok dan mati di situ. Dia yakin, bahwa nyawanya tidak akan melayang hanya karna beberapa peluru.
Dengan santai dia melepaskan jambakannya pada kepala bodyguard yang masih bernafas, lalu di tembak nya sampai bodyguard itu tiada.
” Jadi... Kau ingin menikahi Kiano? ” Tanya Mean, Wira sudah jaga-jaga takutnya Mean menyerang tiba-tiba.
” Yeah... Lalu kenapa? Kau ingin marah? Hahaha... Kiano itu tunanganmu bukan? ”
” Tunanganku? Ohh... Jadi kau kira aku tunangannya, memang belum ku umumkan kepada dunia. Tapi Kiano bukan tunanganku, melainkan Juan. ” Mean mulai menurunkan todongan pistolnya, amarah nya seketika hilang saat mengetahui niat Wira itu menikahi Kiano.
” Oh... Kalau begitu, kenapa kau membunuh para penjaga di sini? Tidak ada keperluan kau di sini bukan? ” Heran Wira saat mengetahui situasi sudah mendingin, tetapi todongan pistolnya masih dia arahkan pada Mean.
” Tidak ada? tentu aku ada. Di mana Qasta, aku akan menjemputnya. ”
” Qasta? Buat apa, Qasta akan menikah denganku juga besok—
Dor
" Ahhkkk! KEPARAT! TUNGGU APA LAGI SERANG DIA! ” Wira merintih kesakitan, semua bodyguard mulai menyerang Mean.
” STOP! ”
DOR DOR DOR.
Tembakan di luncurkan ke atas, semuanya menatap ke belakang Mean.
” Berani kalian sentuh Putraku, ku cabut nyawa kalian satu persatu. ” Teriak Erlan, semua bodyguard bergidik ngeri saat melihat aurah dari Alpha dewasa itu.
” Kita selesaikan dengan kepala dingin, kalau memang kalian tidak mau. Maka kita selesaikan dengan pertarungan, kalian yakin? Bisa menang, walau jumlah kalian banyak, tapi lihat. Satu pemuda saja sudah membuat kalian kehilangan banyak anggota. ” Para Bodyguard menjadi ragu, benar kata Erlan. Mean saja sudah membunuh lebih dari sepuluh orang, sedangkan mereka belum memberi goresan luka pada pemuda itu.
” Nak Wira, kau tidak papa? " Opa menatap Wira, pemuda itu terus merintih kesakitan karna Mean yang menembak kakinya. Peluru bersarang dan darahnya terus keluar.
” Kembalilah besok! Besok kita tentukan, siapa yang menang dan kalah nya! ” Titah Oma, Mean tersenyum miring. Dia kembali menodongkan pistol nya pada Oma bersiap untuk membunuh nenek tua itu.
” Mean stop, jangan buat nyawa seseorang bagaikan mainan bagimu. Jika Oma Qasta tiada, pasti Qasta akan sedih. Kau mau membuat Qasta menangis? ” Tanya Juan, yang datang hanyalah Juan, Melan, dan juga Erlan. Rayya dan Ronald tak di izinkan masuk, takutnya ada yang berbahaya di tambah suara tembakan dari luar begitu jelas.
Mean menurunkan arahannya, dia berbalik menatap Juan yang masih tenang-tenang saja. Padahal Kiano sedang di sekap, tapi Juan masih bersikap tenang.
” Bagaimana bisa kau setenang itu? Kau mau mempercayai mereka, bisa saja mereka membawa Qasta dan Kiano pergi selagi kita di rumah. ”
” Itu tidak akan, jika mereka kabur. Kau boleh membunuh mereka sesukamu, tidak ada yang akan menghalangi mu lagi. ” Mean menampilkan senyum evil nya, dia menatap Oma dan Opa beserta Wira yang terus merintih.
” Begitu katanya, peluruku masih cukup untuk membunuh kalian. Jika lari, maka aku cukup berburu kalian saja. ” Mean menampilkan senyumannya, lalu melangkah pergi dari sana karna takut emosinya meluap dan membunuh semua orang di situ.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine S2
Ficção GeralS2 dari 'Mine' Bagi yang belum baca S1 di sarankan untuk membaca terlebih dahulu.
