Biasanya aku tidak pernah peduli dengan orang lain. Diriku, seperti kebanyakan teori tentang seorang cowok remaja, selalu bersikap praktis dan cenderung cuek. Anak yang tak pernah ambil pusing jika ingin buang sampah namun tak ada satu pun tempat sampah―atau terlalu jauh sepuluh langkah darinya―dan bisa langsung membuang benda tersebut dimanapun dia suka, adalah aku.
Atau, kalau aku sedang cinta lingkungan, akan kusimpan sampah itu dalam saku―yang selalu berakhir di mesin cuci sehingga mencemari pakaian lainnya, membuatku terkena omelan ayah karena harus membeli kemeja putih empat kali dalam jangka waktu satu setengah bulan.
Yah, seharusnya dia tahu itu salah satu resiko mendidikku menjadi dirinya.
Begitu juga dengan ketidakpedulianku pada penampilan. Tidak, bukannya aku tahu aku ini sebegitu tampannya atau bagaimana hingga tak butuh melirik bayangan, tapi coba pikirkan―apa sih yang bakal berubah dari wajahku? Toh aku tidak melakukan apa-apa. Juga tak ada komentar 'Eh wajahmu kenapa?' atau sejenis itu, yang bisa menjadi alasan untukku menatap kaca.
Jadinya aku nyaris tak pernah menatap cermin sebesar tubuh dalam kamar. Selalu melewati benda yang menempel di dinding itu tanpa melirik sekalipun. Lagipula, sebagai sesama lelaki, ayah yang membelikan cermin tersebut hanya berpikir itu sebagai dekorasi tambahan. Untuk memenuhi kamar anak tunggalnya saja.
Jadi, sangat mengherankan sekali―bahkan bagi diriku saat aku menyadarinya―kalau aku tiba-tiba tertarik pada sesuatu dan memberi hampir separuh perhatianku pada hal tersebut dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Aku pikir aku hanya sedang bosan. Atau melamun. Yah, memasuki minggu pertamaku sebagai murid di salah satu sekolah menengah atas negeri dan seperti kebanyakan murid baru lainnya, kami canggung satu sama lain. Atau yang lebih ekstrem, ada beberapa yang sok akrab, dan membuatku tambah jengah.
Tapi tidak dengan sosok yang sekarang duduk di kolom sebelah kiriku, tepat sebaris di depan.
"A boy," gumamku tanpa sadar, tengah menopang dagu dengan tangan kanan, menutupi mulut dengan jemariku yang kurus panjang. Aku menggerakkan kepala agar pandanganku tak terhalangi oleh poni yang dibiarkan tumbuh dan dipotong acak-acakan oleh ayah beberapa hari lalu.
Ya. Sebenarnya fakta itu lebih aneh lagi. Kenapa pula aku harus memberi perhatian pada sesama gender, alih-alih para gadis cantik mirip artis yang berkumpul di sisi kanan ruang kelas, asyik mengobrol dan tertawa malu-malu sambil meliriki kaum Adam calon pacar baru?
Tak usah ambil pusing. Aku, mungkin―mungkin―sedang ingin berteman.
Aku tahu siapa nama anak itu. Cowok dengan rambut lurus semi-gondrong warna hitam pekat yang terlihat halus dan lembut. Kacamata dengan frame ultramarine bercorak membingkai mata sipitnya. Ekor matanya tajam, sama dengan alisnya yang mendukung―berbaris tipis-tipis dan panjang.
Dia Ravendi. Namanya hanya itu, tak ada 'Mohammed' atau 'Christian' yang bisa memberi penjelasan sedikit tentang agama, atau 'Syah' dan 'Lee' sebagai nama keluarga. Hanya satu nama tersebut, seperti penegasan tepat hanya ada satu Ravendi di muka bumi, sementara Raven-Raven lainnya hanya pemenuh.
Kupikir itu bukan masalah. Mungkin Ravendi tipe anak kaku dan cenderung pemalu, namun ditutupi dengan sikap terlampau dingin. Kebanyakan murid baru rada begitu. Lihat saja jika satu caturwulan telah selesai. Bengalnya mereka bakal kelihatan, biasanya juga lebih parah ketimbang di SMP dulu.
"Hai."
Baik Ravendi maupun aku menoleh ke arah sumber suara. Bisa kulihat seorang gadis berambut sebahu dan memiliki lesung pipi manis sudah menghampiri Ravendi tepat di samping meja, membuat cowok itu harus menoleh agak menengadah saking dekatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alter Ego [in ed.]
RomansaYang aku tahu dari dirinya hanyalah sebuah nama: Ravendi. Orang memanggilnya Raven. Okay then, what's so interesting about him anyway. Karena dari awal pandangan matanya bisa membuat orang bergidik. And if a stare could kill, aku yakin sudah mengge...
![Alter Ego [in ed.]](https://img.wattpad.com/cover/46068776-64-k938787.jpg)