Bonus chapter!! 02

414 12 0
                                        

Langit Yogyakarta mendung siang itu. Di sudut kafe kecil dekat kampus seni tempat Jendra kuliah, aroma kopi dan suara jazz lembut dari pengeras suara berpadu sempurna. Jendra duduk di dekat jendela, menatap laptop yang menampilkan proyek musiknya. Di seberangnya, Nata baru saja datang dari kampus arsitektur, masih memakai jaket abu-abu dengan logo fakultas di lengan kanan.

"Hari ini lo ngopi doang, atau nungguin aku juga?" tanya Nata sambil melepas masker.

Jendra menyambut dengan senyum. "Dua-duanya. Tapi kalo lo gak datang juga, gue tetep ngopi."

Nata mencibir. "Romantis banget pacar gue."

"Kan udah jadi suami simulasi lo sejak SMA," jawab Jendra santai sambil menyeruput kopi.

Tiga tahun sudah berlalu sejak malam di bukit itu. Mereka lulus dari SMA dan memilih kuliah di kota yang sama, walau di jurusan berbeda. Tapi komitmen mereka masih sama: saling bersama, apa pun yang terjadi. Hanya saja, menjadi dewasa ternyata tak seindah puisi. Kadang lelah datang tanpa aba-aba, dan dunia tak selalu mendukung kisah cinta manis mereka.

Nata membuka kotak makanan kecil dari tasnya. "Tadi kamu makan belum?"

"Belum. Kamu bawa?"

Nata mengangguk. "Roti isi tuna. Buat kamu."

"Wah, calon istri idaman banget," goda Jendra.

Mereka makan sambil ngobrol ringan, membahas tugas, dosen killer, dan rencana akhir pekan. Sampai akhirnya Nata berkata, "Kamu nanti sore ada acara gak?"

"Kenapa?"

"Teman-teman kelompokku ngajakin nongkrong. Di Angkringan Kopi Merapi. Aku pengen kamu ikut."

Jendra terdiam sejenak. "Hmm... bukannya itu anak-anak arsitektur semua?"

"Iya. Tapi mereka pengen kenal kamu."

"Gue kenal sama lo aja udah cukup."

Nata menghela napas. "Jen, please. Kamu gak pernah mau gabung kalau aku ajak ke acara kampusku. Aku juga kan sering datang ke gigs kamu, meski aku gak ngerti musik-musik progresif itu."

Jendra menatap Nata. Matanya lembut, tapi ada ego kecil di dalamnya. "Bukan karena gue gak mau. Tapi kadang gue ngerasa gak nyambung, Ta. Gue gak ngerti bahas arsitektur, temen lo juga gak kenal gue."

Nata menunduk. "Mereka pengen kenal kamu justru karena mereka tahu kamu penting buat aku."

Keheningan menggantung sebentar. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik. Jendra mengusap rambutnya, lalu mengangguk pelan. "Oke. Aku ikut."

Sore Hari di Angkringan

Langit sudah berubah menjadi abu-abu tua ketika Jendra dan Nata tiba di angkringan. Meja panjang dari kayu dan bangku tanpa sandaran memenuhi sisi halaman. Lilin-lilin kecil menyala di meja, menciptakan suasana hangat di tengah dingin selepas hujan.

Nata langsung disambut teman-temannya. Beberapa cewek langsung melambai.

"Nata! Eh, itu pacarnya ya?" tanya seorang cewek berkacamata bulat, rambut dicepol rapi.

Nata mengangguk. "Iya. Kenalin, ini Jendra."

"Wah, yang nyanyi pas farewell SMA itu, ya?" celetuk satu lagi, cowok dengan hoodie biru.

Jendra hanya tersenyum dan mengangguk sopan. Ia duduk di sebelah Nata, mencoba membaur. Tapi perlahan, pembicaraan mulai meluas ke dunia yang asing baginya: sketsa desain, bangunan tropis, perencanaan kota, dan istilah-istilah arsitektur lain.

Jendra diam, mencoba mengikuti. Tapi yang paling mengganggu bukan itu. Seorang cowok di ujung meja-Abyan namanya, dari gaya dan cara bicaranya, jelas dekat dengan Nata. Terlalu dekat.

Pecinta Kucing ||NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang