PK|23.Bukit teletubbies

537 16 1
                                        

Cerita hasil karangan sendiri.
Dilarang mengcopy/screenshot.Jadilah pembaca yang bijak,hati hati dalam berkomentar
TYPO BERTEBARAN⚠

Setelah Lagu Itu

Sorak-sorai penonton masih terasa di telinga Jendra, meski acara sudah mulai bubar. Ia menuruni panggung dengan langkah ringan, seolah sebagian bebannya hilang begitu lagu itu selesai ia nyanyikan. Tapi hatinya berdebar hebat. Menunggu reaksi Nata rasanya jauh lebih menegangkan dari ujian akhir semester.

Sementara itu, Nata masih duduk di kursi baris depan. Wajahnya sedikit merah, entah karena malu atau terharu. Teman-temannya sudah mulai bergerak ke luar aula, tapi ia masih terpaku di tempat. Matanya terus memandangi Jendra—si pemuda yang biasanya nyebelin dan sok cool, kini malah jadi penyanyi dadakan yang nyentuh hati.

“Udah lama ya lo diem Nat,” suara Galen yang tiba-tiba duduk di sebelahnya bikin Nata kaget.

“Gue… masih mencerna,” gumamnya pelan.

Galen cengengesan. “Lo sih beruntung, pacar lo effort. Coba liat gue, ditinggal gebetan ke cowok yang bisa ngedance. Gila, gue mah disuruh beli es krim doang…”

Nata tertawa kecil, menoleh ke arah Galen. “Tapi berkat lo juga kan gue dapet es krim gede.”

“Ah iya juga. Tapi jujur, gue gak nyangka Jendra se-effort itu. Gue pikir dia bakal ngasih lo hoodie bau keringet doang buat hadiah.”

“Bau kopi,” koreksi Nata sambil tersenyum simpul.

Baru saja Galen mau menimpali, Jendra muncul di samping mereka. “Nat, ayo.”

Nata menatapnya. “Kemana?”

“Udah ikut aja. Gak nyulik kok. Masih mau jadi pacar lo besok.”

Galen langsung berdiri. “Wah… ini kayaknya udah bukan urusan gue. Kalian berdua… jangan bikin anak dulu ya di bukit.”

“GALEN!” seru Nata sambil melemparkan bungkusan tisu kosong ke arah Galen yang langsung kabur dengan tawa puas.

Jendra menggenggam tangan Nata dan membawanya keluar dari aula. Malam mulai turun, tapi udara masih hangat. Langit bersih tanpa awan, pertanda malam yang sempurna untuk sesuatu yang istimewa.

---

Perjalanan Menuju Bukit

Di atas motor, Nata memeluk pinggang Jendra erat. Jalanan sudah mulai sepi, hanya lampu-lampu jalan yang menemani perjalanan mereka. Hembusan angin malam menampar lembut wajah Nata, membuatnya makin sadar betapa nyata semua ini.

“Aku belum bales pernyataan kamu tadi,” kata Nata pelan, suaranya nyaris tertelan angin.

Jendra tak menoleh, tapi dia mendengar. “Gak apa-apa. Aku gak minta jawaban sekarang.”

“Tapi aku pengen kamu tahu… dari tadi aku senyum bukan karena lagu kamu bagus. Tapi karena orang yang nyanyiin itu kamu.”

Motor melaju tanpa suara. Tapi di dada Jendra, suara Nata terus terngiang.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di area bukit. Jendra mematikan motor dan melepas helmnya, lalu menatap langit.

“Langitnya bersih banget,” gumamnya.

“Iya, kayak... hati aku sekarang,” sahut Nata, nyengir.

Jendra menoleh. “Gombalan dari uke biasanya cringe. Tapi dari kamu, jadi manis.”

Mereka mulai berjalan ke atas. Bukit itu bukan tempat wisata, tapi cukup dikenal di kalangan anak sekolah sekitar. Tempat pelarian, tempat kabur dari realita, atau tempat menyatakan cinta. Malam ini, tempat itu jadi saksi cerita mereka.

Pecinta Kucing ||NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang