Bonus chapter!! 06 end

668 17 1
                                        

Lima tahun telah berlalu sejak Kirana lahir.

Hari ini, taman kota tempat Kirana biasa bermain diterangi cahaya sore yang hangat. Daun-daun bergerak perlahan ditiup angin, dan anak-anak kecil berlarian di antara ayunan dan seluncuran. Di bangku kayu dekat pohon besar, duduklah Jendra dan Nata. Mereka memperhatikan Kirana dari jauh.

“Dia makin mirip kamu ya,” gumam Nata sambil tersenyum kecil, memperhatikan Kirana yang sibuk ngobrol dengan anak-anak lain seolah dia guru TK.

“Mirip kamu kalau lagi ngambek,” sahut Jendra, mencubit pelan tangan Nata.

“Eh?”

“Galak, tapi disayangin semua orang.”

Nata tertawa. Tawa yang masih sama seperti pertama kali Jendra dengar di ruang musik SMA bertahun-tahun lalu. Bedanya, kini tawa itu diselingi kerutan kecil di mata, bekas begadang, dan sisa lelah dari membesarkan anak bersama.

Tapi untuk Jendra, tawa itu tetap jadi nada favoritnya.

Pagi di Rumah yang Ramai

Rumah mereka tidak besar, tapi hangat. Dindingnya dihiasi foto-foto momen keluarga—pertama kali Kirana belajar jalan, potret mereka di acara wisuda S2 Nata, momen liburan ke pantai dengan Kirana mengenakan pelampung kebesaran.

Di dapur, Jendra sekarang punya hobi baru: bikin bekal untuk Kirana.

“Hari ini kamu mau nasi bentuk panda atau bintang?” tanya Jendra sambil menunjukkan cetakan.

“Panda, tapi pipinya pink ya!” seru Kirana, duduk di kursi tinggi sambil menggambar.

Nata muncul dari kamar dengan daster kebesaran dan rambut masih diikat seenaknya. “Panda pipi pink? Kayak kamu kalau malu.”

Kirana tertawa, menutup pipinya. “Malu enggak, kok! Aku kuat!”

Jendra dan Nata saling pandang.

“Anakmu makin jago ngegas,” kata Nata.

“Anak kita,” balas Jendra sambil menepuk bahunya.

Mereka tertawa kecil. Di dapur sederhana itu, cinta mereka tumbuh jadi kebiasaan. Dari mengusap rambut di tengah masak, sampai saling ganti jaga kalau satu sakit. Tidak lagi tentang bunga atau lagu, tapi tentang siapa yang ngalah ketika cucian piring menumpuk.

Dan justru di situlah cinta yang sebenarnya berakar.


Sore itu, setelah menjemput Kirana dari sekolah TK, mereka bertiga mampir ke danau kecil di dekat kota. Angin berhembus pelan, air memantulkan sinar matahari yang mulai jingga.

Kirana duduk di pangkuan Jendra, mendengar cerita ayahnya tentang “lagu yang dulu bikin Ibu malu setengah mati di perpisahan SMA.”

“Dan waktu Ayah nyanyi lagu itu, Ibu nunduk terus. Tapi senyum-senyum sendiri,” jelas Jendra sambil menggoda Nata.

Nata melempar kerikil ke danau. “Karena waktu itu aku pikir: ini cowok... gila, tapi hatinya tulus.”

Jendra menoleh, memandang istrinya lama.

“Dan sampai sekarang, aku masih gila. Tapi makin cinta.”

Kirana menatap mereka, bingung. “Ayah, Ibu... kok kayak sinetron?”

Mereka bertiga tertawa. Lalu, dalam hening kecil yang hangat, Jendra mengeluarkan sebuah gitar kecil—ukulele.

“Masih inget lagu itu?” tanya Jendra pelan.

Nata mengangguk. Kirana memperhatikan saat ayahnya mulai memetik senar, menyanyikan versi pelan lagu “Yang Tak Biasa”, lagu pertama yang mempertemukan mereka.

Kini, diiringi suara burung sore dan angin lembut, lagu itu terdengar lebih dewasa. Lebih dalam. Tidak lagi hanya tentang deg-degan remaja, tapi tentang dua orang yang memilih untuk tetap saling memeluk meski badai datang berkali-kali.

Dan Kirana, duduk di antara mereka, ikut bersenandung kecil.

Penutup: Setelah Semua Lagu Itu

Malam itu, setelah Kirana tidur, Jendra dan Nata duduk di beranda rumah. Angin malam membawa wangi daun dan kopi yang masih mengepul.

“Kamu inget gak, dulu kita sering takut… kita berubah?” tanya Jendra sambil menyesap kopinya.

“Inget banget,” jawab Nata. “Tapi ternyata bukan berubah yang menakutkan. Tapi lupa saling liat.”

Jendra mengangguk. “Makanya aku seneng... kita gak pernah lupa saling liat. Bahkan pas rambut kamu lepek dan baju penuh bubur bayi.”

Nata menyenggol kakinya. “Dan kamu juga gak pernah lupa bilang ‘terima kasih’ bahkan cuma karena aku bawain charger.”

Mereka terdiam sejenak.

“Aku bersyukur, Nat,” bisik Jendra. “Dari semua keputusan nekat di hidup aku, nyamperin kamu hari itu, waktu SMA... itu yang terbaik.”

Nata menatap matanya. “Dan aku bersyukur, kamu gak pernah nyerah walau aku kadang keras kepala banget.”

Lalu mereka saling berpegangan tangan.

Tak ada pesta besar, tak ada musik dramatis, hanya dua manusia yang telah berjalan bersama melewati ribuan hari. Menjadi kekasih, pasangan, orang tua, sahabat, dan tetap—tempat pulang bagi satu sama lain.

Di atas mereka, langit malam tenang. Di dalam rumah, Kirana tertidur, membawa mimpi tentang keluarga kecilnya yang selalu bernyanyi—dalam tawa, pelukan, dan diam yang saling memahami.

Karena setelah lagu itu… cinta mereka tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berganti bentuk—tapi tetap bernyanyi.

TAMAT

Makasii buat semua yang udah tamatin cerita ini dan nunggu sampe ending guyss,ada yang mau dibuatin s2 ga nih.Hehehe,tentang kehidupan nomin waktu udh

Pecinta Kucing ||NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang