Hari itu langit cukup teduh, awan menggantung di atas kampus Universitas Paramita, tempat Jendra dan Nata kuliah sekarang. Mereka tidak satu jurusan, bahkan berbeda fakultas. Jendra masuk ke Fakultas Seni Pertunjukan, sementara Nata memilih Fakultas Psikologi.
Meski jadwal kuliah sering tidak sinkron, mereka tetap menyempatkan waktu untuk bertemu. Entah itu sekadar makan siang bareng di kantin, duduk bareng di taman kampus sambil dengerin musik, atau saling nyamperin ke ruang kelas pas break.
Hari ini, kampus sedang ramai karena ada acara tahunan: Festival Ekspresi Mahasiswa. Sebuah ajang yang menampilkan kreativitas dari berbagai fakultas, dari pentas seni, bazar makanan, sampai lomba mural.
Jendra tentu ikut tampil. Ia menjadi penanggung jawab pentas musik.
Sementara Nata jadi panitia stand psikologi yang ngadain permainan psikotes ringan buat pengunjung. Lucunya, stand itu bukan hanya tempat “menguji kepribadian”, tapi juga jadi tempat curhat dadakan. Nata sibuk, tapi telaten. Senyumnya yang khas jadi magnet bagi banyak mahasiswa baru yang gugup.
Di tengah keramaian siang, Nata baru saja selesai melayani peserta yang penasaran dengan hasil tes MBTI-nya.
“Lo INFJ ya?” tanya Nata ke salah satu mahasiswa.
“Serius? Gue kira extrovert!”
“Kadang emang suka gitu. Sifat luar kita bukan selalu cerminan yang dalam.”
Tiba-tiba, suara gitar terdengar dari arah panggung utama.
Nata refleks menoleh. Jendra sudah berdiri di atas panggung, mengenakan kemeja flanel digulung di lengan, dengan jeans belel dan sepatu yang mulai butut.
Dia duduk di kursi tinggi, menyiapkan mic dan gitar. Lalu tersenyum ke arah penonton.
“Lagu ini… gue bawain buat seseorang. Yang dulu bikin gue deg-degan pas nyanyi di acara perpisahan SMA. Dan sekarang masih suka bikin deg-degan, tapi pas nanya tugas kuliah dan deadline praktik.”
Tawa penonton pecah, termasuk Nata yang hanya bisa menunduk malu.
“Apa gue keliatan lebay? Gak peduli. Karena rasa ini emang gak pernah biasa.”
Jendra mulai memetik gitar, menyanyikan lagu ciptaannya sendiri yang dulu ia simpan di folder bertajuk “Belum Berani”. Kini lagu itu akhirnya diberi nama: Yang Tak Biasa.
Nata menatapnya. Di balik keramaian, mereka tetap punya dunia sendiri. Dunia kecil yang diisi tawa, gurauan, dan kadang adu mulut tentang siapa yang harus ngalah pas ngambek.
Sore Hari Setelah Acara
Langit mulai berubah warna jadi oranye kemerahan. Festival mulai sepi, dan para panitia sibuk beres-beres. Nata baru saja selesai membereskan meja ketika Jendra datang dengan dua cup kopi plastik.
“Ini buat penyembuh stres,” katanya sambil menyodorkan satu cup.
Nata mencium aromanya. “Pahit banget, Jen.”
“Cinta juga kadang pahit.”
“Kalau pahit doang, itu bukan cinta. Itu kopi expired.”
Mereka tertawa kecil. Lalu duduk berdua di bangku dekat taman belakang kampus, tempat yang jarang dilewati orang. Tempat favorit mereka kalau butuh waktu tenang.
“Lo capek ya?” tanya Jendra, memandangi mata Nata.
“Lumayan. Tapi puas. Seru juga bisa ngobrol sama banyak orang.”
“Gue seneng liat lo sibuk tapi bahagia.”
Nata memandang langit. “Tapi... gue kadang ngerasa kita mulai jarang banget ngobrol dalam. Kita bareng terus, tapi kadang kayak cuma lewat doang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Pecinta Kucing ||NOMIN
Romance✪Griselxvda "Ubah sifat berandalan mu itu jendra rahardian!" ➛ Merubah sifat seorang berandalan sekolah bukanlah hal yang mudah,cukup sulit dan butuh waktu untuk merubahnya.Tapi di balik kelakuan nya itu,ada suatu cerita yang membuat jendra menjadi...
