Bonus chapter!! 01

616 16 1
                                        

Pstt!!
Chapter ini aku panjangin,semoga kalian ga bosen yaa bacanya
Happy reading guyss!

Suara Detik yang Tak Bersuara

Angin malam menyisir lembut rambut Nata, membawa aroma dingin yang menenangkan. Mereka masih duduk di puncak bukit, menyelesaikan sisa ice cream yang hampir cair seluruhnya. Sesekali tangan mereka bersentuhan, dan tak ada yang berniat menarik diri.

Jendra memandangi Nata lama, seolah ingin mengukir setiap detik itu ke dalam ingatannya.

“Nat,” katanya akhirnya.

“Hm?”

“Kalau suatu hari gue nyebelin lagi, lo bakal cabut?”

Nata menoleh cepat. “Gue gak pacaran buat cabut, Jen.”

“Cuma pengen yakin.” Jendra tertawa kecil, agak kikuk. “Gue tahu kadang gue ngeselin. Males gerak. Suka jawab singkat-singkat. Kadang ngilang pas lo lagi pengen cerita.”

Nata menggenggam tangan Jendra. “Tapi kamu juga selalu ada pas aku paling butuh. Itu yang lebih penting.”

Jendra menunduk, lalu mengecup punggung tangan Nata. Gerakannya lembut, seperti takut tangan itu pecah kalau disentuh terlalu kuat.

“Gue janji bakal belajar. Buat jadi lebih baik. Buat bisa nyamain kamu.”

“Kita gak harus nyamain siapa-siapa. Kita cukup cocok.”

Dan dengan kalimat itu, malam mereka terus bergulir, ditemani obrolan kecil tentang hal-hal sederhana—film kesukaan, makanan yang bikin mereka kangen rumah, sampai mimpi aneh yang mereka alami semalam. Semua terasa mudah, karena bersama.

-----

Mereka turun dari bukit sekitar pukul sepuluh malam. Jalanan sudah hampir kosong. Di atas motor, kali ini Nata tidak hanya memeluk, tapi menempelkan pipinya ke punggung Jendra. Kehangatan tubuhnya menembus jaket tipis yang ia kenakan.

“Kamu kedinginan?” tanya Jendra, tak menoleh.

“Enggak. Tapi... bisa pelan-pelan aja? Aku pengen perjalanan ini lama.”

Jendra mengangguk, meski Nata tak bisa melihatnya. Ia menurunkan kecepatan motornya. Lampu-lampu jalan berkelebat lambat, menciptakan kesan seolah mereka berada dalam dunia sendiri.

Saat melewati lapangan basket kosong di dekat sekolah, Nata menunjuk. “Ingat gak tempat itu?”

“Tempat lo marah besar karena gue ngegodain cewek lain?”

“Bukan godain. Lo ngajak dia main basket dua jam, padahal lo janji mau nemenin gue belajar.”

Jendra tertawa pelan. “Itu satu-satunya kali gue nyoba flirting. Gagal total.”

“Dan sejak itu, kamu belajar jadi cowok baik?”

“Sejak itu, gue tahu siapa yang gue pengen bahagiain.”

----

Hubungan mereka tak berubah drastis. Jendra tetap Jendra—pendiam, kadang cuek, tapi sekarang jadi lebih sering nyapa duluan. Nata tetap Nata—ramah, ekspresif, dan selalu ingat hari ulang tahun orang-orang terdekatnya.

Yang berubah adalah detail kecil. Seperti sekarang mereka selalu pulang bareng. Atau cara Jendra membawakan dua bungkus roti, satu untuknya dan satu buat Nata. Atau bagaimana Nata akan diam-diam memotret Jendra dari jauh saat cowok itu tertidur di perpustakaan.

Suatu hari, saat makan siang, Galen duduk di antara mereka.

“Gue pengen bilang satu hal penting banget,” katanya serius.

Pecinta Kucing ||NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang