Bonus chapter!! 05

404 12 0
                                        


Trimester kedua berjalan dengan cukup stabil untuk Nata. Mual-mualnya mulai berkurang, dan energinya perlahan kembali. Tapi emosi? Masih sering naik-turun seperti roller coaster.

Pagi itu, mereka sedang sarapan bareng. Nata duduk sambil mengoles selai stroberi ke rotinya, lalu tiba-tiba berhenti. Wajahnya cemberut.

"Kenapa?" tanya Jendra, menaruh cangkir kopi.

"Selainya habis. Padahal aku pengen banget," gumam Nata.

Jendra melirik toples kosong itu. “Nanti aku beliin, ya.”

“Enggak nanti. Sekarang, Jen,” suara Nata mulai cempreng.

Jendra bingung. “Tapi aku belum mandi…”

Nata mendesah, lalu mulai berkaca-kaca. “Yaudah… kalau nggak pengen, aku bisa sendiri.”

Jendra panik. “Ya ampun, oke, oke! Aku pergi sekarang! Tunggu, tunggu!”

Beberapa menit kemudian, Jendra pulang dengan dua toples selai stroberi dan sekotak kecil cookies cokelat.

"Buat jaga-jaga kalau besok kamu ngidam yang lain."

Nata memeluknya erat. “Kamu pahlawan hari ini.”

Jendra mengusap kepala Nata lembut. “Aku tiap hari pahlawan kamu, tahu nggak?”

Hari-hari berlalu, dan dengan perut yang makin besar, langkah Nata jadi makin lambat. Jendra dengan sigap memegangi tangannya setiap kali mereka turun tangga, duduk di trotoar taman sore-sore, atau sekadar menyeberang ke minimarket.

Tapi tak selalu mulus. Suatu malam, Nata kesal karena Jendra lupa beli lotion khusus stretch mark. Ia duduk sambil mengelus perut, matanya penuh amarah.

"Kamu janji! Tapi lupa lagi!"

Jendra, yang baru pulang kerja, menaruh tasnya dan menghela napas. “Aku tuh ngantuk banget, Nat…”

“Kamu pikir aku nggak capek?” suara Nata meninggi. “Aku bawa dua badan, kamu cuma satu!”

Jendra terdiam. Ia tahu tak ada gunanya debat.

Beberapa menit kemudian, ia keluar rumah lagi, jalan kaki ke apotek yang masih buka 24 jam, lalu pulang dengan lotion dan seikat bunga kecil dari toko sebelahnya.

“Maafin aku. Aku pengen tetap jadi suami yang kamu bisa andalkan.”

Nata menangis, bukan karena marah, tapi karena haru.



Malam-malam mereka kini berubah. Jendra terbiasa bangun tengah malam hanya karena Nata ingin kentang goreng atau tiba-tiba merasa perutnya ‘keras sebelah’. Mereka mulai paham istilah-istilah aneh dari dokter kandungan. Nata mulai rajin menonton video tentang pernapasan saat kontraksi, dan Jendra pun belajar cara membantu istrinya saat persalinan.

Suatu sore, Jendra mendapati Nata di kamar bayi yang belum selesai dibereskan. Ia duduk di lantai, memeluk satu baju bayi mungil sambil menangis.

“Kok nangis?” tanya Jendra, cepat-cepat duduk di sampingnya.

“Aku takut… Kalau nanti aku nggak bisa jadi ibu yang baik…”

Jendra menatapnya dalam. “Aku juga takut nggak bisa jadi ayah yang hebat. Tapi tahu nggak? Kita nggak harus sempurna. Cukup hadir, cukup sayang. Itu udah luar biasa.”

Mereka saling berpelukan, dikelilingi mainan bayi dan baju mungil-mungil yang belum dicuci.

Semakin dekat ke bulan kedelapan, Nata jadi makin gampang capek. Kadang kakinya bengkak, kadang dia sesak napas hanya karena naik tiga anak tangga.

Pecinta Kucing ||NOMINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang