Pagi itu, sinar matahari masuk pelan lewat jendela kamar. Nata terbangun dengan perasaan campur aduk. Perutnya terasa agak mual, dada sesak, dan kepalanya pusing ringan—tanda-tanda khas kehamilan yang mulai memasuki trimester kedua. Ia menoleh ke samping, melihat Jendra yang masih terlelap dengan wajah santai.
Nata mengusap perutnya dengan lembut. “Hari ini aku pengen tahu bulat,” pikirnya dalam hati. Ini sudah hari kelima sejak ngidam tahu bulat itu muncul, tapi Jendra belum juga mewujudkan permintaannya.
Setelah Jendra bangun dan mulai menggerakkan tubuhnya, Nata memberanikan diri. “Jen, tolong ya, aku pengen tahu bulat malam ini. Jangan lupa beli, ya.”
Jendra membuka matanya perlahan, tampak masih setengah mengantuk. “Ah, itu lagi. Kan tadi malam aku bilang aku capek banget, besok aku beliin, ya?”
Nata mengerutkan dahi. “Besok? Besok itu udah nggak enak, Jen. Kalau kamu nggak beliin sekarang, aku bisa jadi mood swing parah lho.”
Jendra menghela napas panjang, setengah mengeluh. “Ya udah deh, aku keluar bentar. Tapi jangan banyak drama, ya.”
Nata tersenyum kecil, menahan hati yang sedikit bimbang. “Aku nggak drama, cuma pengen perhatian.”
Jendra keluar rumah, meninggalkan Nata duduk sendirian di sofa. Ia mengelus perutnya sambil menatap langit-langit ruangan. Ada rasa rindu dan harap yang bercampur—rindu pada Jendra yang perhatian, harap agar suaminya bisa mengerti betapa pentingnya hal kecil itu.
Beberapa menit kemudian, Jendra pulang dengan kantong plastik berisi tahu bulat panas. “Ini buat kamu,” katanya, wajahnya sedikit lesu.
Nata langsung tersenyum lebar, matanya berbinar. “Ah, makasih, Jen! kamu emang pahlawan tahu bulatku.”
Jendra cemberut. “Bukan pahlawan tahu bulat, tapi tukang telat.”
Mereka tertawa bersama, tapi Nata tahu, di balik cemberut itu, Jendra berusaha keras jadi suami terbaik walau kadang malas dan kurang peka soal hal-hal kecil.
Hari-hari berlalu dengan ritme yang kadang bikin mereka berdua lelah. Nata dengan segala ngidam dan perubahan mood yang tak terduga, Jendra yang semakin sibuk dengan kerjaan yang menumpuk, hingga rasa letih yang mudah mengganggu suasana hati.
Suatu sore, Nata duduk di ruang tamu sambil menonton drama Korea favoritnya. Ia berharap Jendra ikut menemani, tapi suaminya malah tenggelam dalam dunia game, dengan headset terpasang di kepala.
“Jen, boleh nggak kita nonton bareng?” tanya Nata manja, berusaha menarik perhatian.
Jendra cuma mengangguk tanpa melepas pandang dari layar. Nata menghela napas panjang. “Kalau gini, aku lebih baik sendiri aja,” ujarnya lirih, lalu berbalik ke sofa.
Jendra baru sadar dan segera melepas headset-nya. “Astaga, maaf, Nat. Aku nggak peka ya.”
Nata tersenyum kecil, menatap suaminya. “Aku ngerti kok. Tapi kamu harus belajar peka, ya.”
Jendra mengangguk, memegang tangan Nata erat. “Iya, aku janji.”
Malamnya, Nata mulai merasa tidak nyaman. Perutnya tiba-tiba kram dan dia harus sering ke kamar mandi. Jendra yang melihat itu segera memeluk dan mengelus punggung istrinya dengan lembut.
“Aku takut kamu capek, Nat,” katanya pelan.
“Aku juga takut, Jen. Tapi ini bagian dari proses,” jawab Nata, mencoba tersenyum.
Mereka berbagi kehangatan di bawah selimut, saling menguatkan satu sama lain.
Hari lain, di pagi yang cerah, Nata mengalami ngidam yang unik: dia tiba-tiba ingin makan es krim rasa durian. Jendra yang sedang sarapan, mendengar permintaan itu dan mengangguk serius.
“Ini serius, ya?” tanyanya sambil menahan tawa.
“Iya, ngidam bukan buat bercanda, Jen.”
Jendra memutuskan untuk memenuhi permintaan itu, walau agak geli. Ia pergi ke minimarket terdekat, membeli es krim durian dan pulang sambil tersenyum.
Saat menyerahkan es krim itu, Nata langsung menyantapnya dengan penuh antusias. “Makanya, jangan remehkan ngidamku.”
Jendra tersenyum, “Iya, iya, pahlawan es krim durian sudah datang.”
Waktu terus berjalan, dan semakin besar perut Nata, semakin besar pula perjuangan mereka berdua menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Kadang, Jendra lupa hal-hal kecil yang penting bagi Nata. Seperti suatu malam saat Nata ingin tidur dengan suhu kamar hangat, tapi Jendra lupa menyalakan heater.
Nata menggigil, mencoba menutupi diri dengan selimut tebal. Jendra baru sadar saat melihat istrinya yang menggigil-gigil.
“Waduh, maaf, Nat. Aku lupa,” ucapnya sambil segera menyalakan heater.
Nata tersenyum, tapi tak bisa menyembunyikan ekspresi sedikit kecewa. “Kamu kan janji lebih perhatian.”
Jendra mengangguk, “Iya, aku belajar. Makanya ingetin terus, ya.”
Suatu hari Minggu, mereka memutuskan untuk memasak bersama. Nata ingin sekali membuat masakan favoritnya, sayur asem lengkap dengan tahu bulat goreng.
Jendra, walau tidak jago masak, berusaha membantu. Ia mencuci sayur, mengaduk kuah, dan sesekali mencicipi rasa.
“Gimana rasanya, Jen?”
“Lumayan, lumayan. Tapi kayaknya kurang asem.”
Nata tertawa, “Ya iyalah, kamu kan bukan chef.”
Mereka makan bersama di meja makan kecil, bercanda, dan menikmati suasana hangat yang sederhana.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Ada kalanya pertengkaran kecil muncul, biasanya karena kesalahpahaman.
Seperti saat suatu malam, Jendra pulang larut karena lembur. Nata sudah menunggu dengan rasa lelah dan kesal.
“Kenapa gak bilang dulu, Jen? Aku khawatir,” kata Nata dengan suara sedikit meninggi.
Jendra mengeluh, “Aku sibuk, Nat. Gimana aku mau bilang?”
“Kalau aku nggak sabar, gimana? Aku juga capek, lo tahu kan?”
Mereka terdiam. Ada jarak yang tiba-tiba terasa membentang.
Tapi setelah itu, Jendra mendekat dan memeluk Nata erat. “Maaf ya, aku nggak mau bikin kamu sedih. Aku janji akan coba lebih terbuka.”
Nata membalas pelukan itu, “Aku juga mau coba sabar. Kita sama-sama belajar.”
Beberapa minggu kemudian, di salah satu check-up rutin ke dokter kandungan, Nata dan Jendra mendapatkan kabar bahagia: janin yang mereka tunggu tumbuh sehat.
Mereka keluar dari klinik dengan senyum lebar. Jendra menggenggam tangan Nata erat.
“Kita nggak sendirian lagi, ya,” katanya.
Nata mengangguk, “Iya. Kita harus lebih kuat.”
Di rumah, mereka mulai menyiapkan kamar bayi. Penuh dengan tawa dan obrolan ringan tentang masa depan.
“Aku pengen anak kita jadi seniman kayak kamu,” kata Jendra sambil memasang poster warna-warni.
Nata tertawa, “Atau psikolog yang bisa bikin semua orang tenang.”
“Boleh juga. Yang penting bahagia.”
Malam menjelang, mereka duduk bersama di sofa, berbagi secangkir teh hangat. Nata bersandar di bahu Jendra, perutnya yang makin membesar terasa hangat.
“Aku senang kita bisa lewati semua ini bersama,” ucap Nata pelan.
“Aku juga, Nat. Cinta kita bukan cuma lagu atau cerita. Ini nyata.”
Nata tersenyum, “Dan setelah lagu itu, cerita kita terus bernyanyi.”
Kehidupan mereka mungkin sederhana dan penuh tantangan, tapi cinta yang mereka punya membuat semuanya berarti. Jendra dan Nata terus belajar dan saling menguatkan, dalam suka, duka, ngidam, dan tawa kecil sehari-hari.
Cerita mereka belum selesai. Masih banyak bab yang harus ditulis, tapi satu yang pasti: cinta mereka tumbuh dan bertahan, meski dalam segala keadaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pecinta Kucing ||NOMIN
Roman d'amour✪Griselxvda "Ubah sifat berandalan mu itu jendra rahardian!" ➛ Merubah sifat seorang berandalan sekolah bukanlah hal yang mudah,cukup sulit dan butuh waktu untuk merubahnya.Tapi di balik kelakuan nya itu,ada suatu cerita yang membuat jendra menjadi...
