Pagi ini.Semuanya sudah siap dengan perlengkapan serta mental masing-masing,mereka akan memulai acara tampil seperti yang dibicarakan saat itu; menyambut kedatangan kepala sekolah baru yang akan menetap di sekolahnya
"Udah lo beresin semua jen?"
Jendra berdecih lalu menjentikkan kedua jarinya "Cih.Gampang itu mah" mulutnya kembali menghisap rokok hingga mengeluarkan asap yang sangat di benci oleh para sub.Nata contohnya
Kini anak itu sedang terbatuk dan mengibaskan tangannya untuk menghilangkan asap rokok yang terus menghalangi pandangannya
"Uhuk uhuk... Jen,tolong matiin rokok nya dulu boleh? Uhuk.. Ini ga baik buat yang lain kalo kamu ngerokok di dalem ruangan" ucapnya selembut mungkin meskipun dadanya sudah mulai terasa sesak akan asap yang ditimbulkan dari rokok tersebut
Pemuda tampan tersebut langsung membuang putung rokok nya dan lalu ia injak hingga hancur di bawah sepatunya.Tangannya ia bawa untuk menarik kepala si manis bersiap memeluk hangat tubuh ringkih tersebut,mengusap surai dan juga pipi nana-nya lembut "Maaf,aku gatau kamu disini"
Sedangkan mahen kini memutar bola matanya malas menatap kedua insan yang ia yakini sedang dimabuk cinta "Cielahh yang baru seminggu jadian.Lagi bulol bulol nya nih yee,mana ampe sekarang belum di kasih pj guenya"
"Salah lo sendiri kaga dateng waktu gue ngasih pj,ga jaman banget ketinggalan info hen" celetuk jendra sewot tak ingin kalah
Nata menelusup kan kepalanya di leher sangat dominant yang sangat wangi akan bau kopi yang selalu ia suka,tak peduli sekitar yang terus melihatnya; ada yang senang,sedih,marah,kesal,bahkan ada yang menjadi fans mereka.Kebanyakn fujo guys:D
"Ngapain ayy?" Tanya jendra menatap si manis yang sibuk mengendus di area leher nya
"Suka.Bau kamu harumm" ucapnya sambil terus mencium wangi sang dominant
Tangan kanan jendra terangkat untuk mengelus pucuk kepala nata yang sehalus sutra,mengecup nya pelan dan membiarkan si manis mengendus gemas di leher nya
"Nih titipan lo,encok punggung gua antri di toko depan" ucap galen kesal karena suruhan jendra untuk membeli ice cream berukuran besar
Nata mengintip kresek yang ada di tangan sang kekasih "Itu apa? Ko kaya gede banget" ucapnya kepo akan isi dari kresek putih tersebut
"Nih,ice cream vanilla ples topping boba kesukaan kamu" ucapnya menyodorkan kresek tersebut
Matanya seketika berbinar menatap ice cream di dalamnya.Seukuran ember kecil dengan tutup berbentuk kelinci di atasnya "Buat akuu?" Tanya nya memastikan
Jendra mengangguk "Iya.Suka gaa?"
"Gatau ih,kan belum dicoba" candanya seakan tidak mengerti perkataan kekasihnya
"Maksud aku,kamu suka ga di beliin ice cream segede itu"
"Sukaaa banget,jadi makin cinta dehh.Makasihh" nata mengambil ice cream di tangan jendra lalu membukanya
"Makasih nya ke gua aja kali nat,cowo lu mah ga effrot beliin pacarnya.Gua yang di tumbalin,anak biadap emang" omel galen
Sore pun mulai merayap turun.
Acara penyambutan kepala sekolah baru berjalan dengan lancar, riuh dan hangat. Tapi perhatian Nata hanya terpusat pada satu sosok-Jendra. Si pemuda dominan dengan aroma kopi khas yang kini tengah duduk santai di panggung kecil, gitar di pangkuan.
"Ssst... Dengerin ya," bisik Jendra pelan ke arah Nata yang duduk tak jauh di barisan depan, tangannya masih sibuk menikmati ice cream jumbo yang sudah setengah habis.
"Lagu ini... buat seseorang yang aku sayang. Yang suka nyium leher aku seenaknya," candanya disambut cekikikan dari teman-teman mereka di belakang.
Nata tersipu, menunduk malu dengan pipi semerah stroberi.
Jendra mulai memetik senar. Petikan lembut gitar mengalun, lalu suaranya ikut menyusul-serak, tapi hangat dan jujur.
"Di balik manja dan cerewetmu,
Ada tenang yang selalu nyelip di pelukmu,
Bukan karena sempurna, tapi karena kamu nyata,
Dan aku... jatuh cinta, tiap hari, sama kamu."
Suara gitar terakhir menghilang seiring senja yang mulai merayap pelan. Jendra meletakkan gitarnya ke samping, lalu menatap Nata yang masih terpaku di tempat duduknya. Matanya berkaca-kaca, tapi senyum kecil terus terpahat di wajahnya-senyum yang nggak bisa dia tahan sejak bait pertama tadi dinyanyikan.
"Nat..." Jendra memanggil pelan, seakan tak ingin memecahkan momen itu.
Nata berdiri pelan, jantungnya berdetak tak karuan. Setiap langkahnya ke arah Jendra seakan memperkuat suara detakan itu. Dia berhenti tepat di depan cowoknya, menatap mata yang begitu ia kenal-mata yang dulu menyebalkan karena sering menggoda, tapi kini terasa seperti tempat paling aman di dunia.
"Kenapa bisa bikin lagu kayak gitu sih..." suaranya lirih, serak tertahan haru.
Jendra nyengir, berdiri dan mengusap pipi si manis dengan punggung jarinya.
"Karena kamu, bukan yang biasa. Kamu tuh kayak rumah... tapi bisa juga kayak perang dunia kalo lagi ngambek," katanya sambil terkekeh pelan.
Nata tertawa kecil, satu tangan mendorong dada Jendra pelan. "Nyebelin," ucapnya manja.
Tapi sebelum sempat bicara lagi, Jendra menariknya pelan ke dalam pelukannya. Erat, hangat, dan tenang. Semua teman yang melihat langsung riuh, ada yang bersorak, ada yang pura-pura muntah karena baper, dan tentu saja, ada Galen yang langsung berteriak:
"WOY CUKUP NIH PELUKAN NYA, INI ACARA SEKOLAH BUKAN SINETRON!"
Semua langsung ketawa. Tapi Nata tak peduli. Di dalam pelukan Jendra, waktu seperti berhenti.
"Aku beneran cinta kamu, Nat," bisik Jendra di telinganya. "Bukan cuma karena kamu manis, bukan cuma karena kamu suka ice cream, atau suka nempel-nempel. Tapi karena kamu bikin aku mau jadi versi terbaik dari diriku."
Nata mencubit pelan pinggang Jendra, matanya menghangat lagi.
"Kamu nggak usah jadi versi terbaik deh. Versi kamu yang nyebelin aja udah bikin aku jatuh cinta," balasnya dengan nada gemas.
"Cih. Romantis juga ya kamu sekarang," ejek Mahen dari belakang sambil nyengir. "Gue screenshot nih nanti masukin ke grup alumni."
"MAHEN-!"
Nata langsung mengejar Mahen yang tertawa kabur, sementara Jendra hanya menggeleng sambil tertawa keras.
Beberapa menit kemudian, Nata kembali dengan napas ngos-ngosan, lalu duduk di sebelah Jendra lagi.
"Hari ini... gila banget ya," gumamnya.
"Belum selesai, masih ada satu kejutan," balas Jendra sambil tersenyum misterius.
Nata mengerutkan dahi. "Apa lagi?"
Jendra hanya menggandeng tangan Nata, lalu mengajaknya keluar dari aula sekolah. Melewati lorong kelas yang mulai sepi, melintasi taman kecil tempat mereka dulu pertama kali duduk bareng pas ngerjain tugas kelompok, hingga akhirnya mereka sampai di tempat parkiran motor.
"Naik. Pegangan yang kenceng ya," kata Jendra sambil menyerahkan helm.
"Loh? Kita mau ke mana?" tanya Nata penasaran.
"Rahasia. Tapi... tempatnya tinggi. Dan indah."
TBC
Haloo!! Sorry yaa buat yang udah nungguin cerita ini,aku yakin yang baca ga banyak lagi.Akhir² ini aku gaada waktu luang buat lanjutin guyss,tp aku usahain bab selanjutnya udah end koo,maaf yaa buat yang nunggu.See you the next chap!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Pecinta Kucing ||NOMIN
Romance✪Griselxvda "Ubah sifat berandalan mu itu jendra rahardian!" ➛ Merubah sifat seorang berandalan sekolah bukanlah hal yang mudah,cukup sulit dan butuh waktu untuk merubahnya.Tapi di balik kelakuan nya itu,ada suatu cerita yang membuat jendra menjadi...
