Happy Reading
🏠
(19) Goyah dan Runtuh
🏠
"Hyung," panggil Taerea saat matanya menangkap sosok yang ia kenal, pintu terbuka tak lama setelahnya dan sosok itu tersenyum padanya.
"Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Jiwoong menatap beberapa perban yang kini terpasang di kaki serta pelipis Taerea saat ini.
"Kondisiku sudah lebih baik Hyung, kenapa baru datang? Kenapa tidak dengan yang lain tadi?" tanya Taerea menatap wajah Jiwoong dengan sesama, ia sudah mendengar ceritanya apa yang terjadi di drom saat mendengar kabar tentangnya dan rasa bersalah mulai hinggap di hatinya terutama setelah ia melihat wajah Jiwoong yang tampak begitu lelah.
"Apa penyembuhannya akan lama?" tanya Jiwoong mengalihkan pembicaraan dan Taerea mengerti maksudmu nya hingga ia memutuskan untuk hanya mengikuti alur pembicaraan yang Jiwoong inginkan.
"Kemungkinan hanya untuk beberapa minggu," jawab Taerea yang tak mengalihkan pandangannya dari Jiwoong yang masih menghindari tatapannya.
"Benakah? Bukankah biasanya akan lama?" tanya Jiwoong namun Taerea tak menanggapinya hingga akhirnya Jiwoong pun memberikan diri menatapnya, itu dia. Taerea menatapnya dengan sendu.
"Hyung... maaf, karena aku kembali mengingatkanmu pada luka lamamu," ucap Taerea yang kini menggenggam tangan Jiwoong dengan erat
"Maaf... karena membuatmu ketakutan... maafkan aku," sesal Taerea yang lantas membuat air mata yang sejak awal Jiwoong tahan keluar begitu saja, Taerea menariknya dalam pelukan hangat menepuk pundaknya dengan halus dan kata-kata yang begitu menenangkan.
"Sudah," ucap Jiwoong yang akhirnya melepaskan pelukan terlebih dahulu, ia segera menghapus air matanya dan menatap Taerea yang kini tersenyum lebar menatapnya
"Jangan tertawa," ujar Jiwoong namun hal itu justru membuat tawa Taerea pecah seketika
"Hyung kau begitu menggemaskan," ujar Taerea yang lantas membuat Jiwoong tersenyum malu.
"Jangan tertawa," ujar Jiwoong yang akhirnya membuat Taerea menghentikan tawanya dengan helaan nafas lelah.
"Aku serius sekarang,... Hyung aku baik-baik saja... sungguh, "
Jiwoong menatapnya dengan ekspresi yang sulit dimengerti namun Taerea tak berhenti menampilkan senyumnya dan menggenggam tangan Jiwoong semakin erat.
"Bahkan jika sejak awal aku tau hal seperti ini akan terjadi... aku tetap tak akan mundur," lanjut Taerea yang kembali membuat Jiwoong terdiam mendengarnya.
"Bagi mereka aku lah harapan satu-satunya, meskipun mungkin aku terluka dan keluargaku terancam... entah mengapa rasanya aku benar-benar tak berpikir untuk mundur, setidaknya... hanya satu orang yang dapat memberikan mereka harapan untuk berbicara meskipun seluruh dunia menyuruhnya untuk diam... bukankah itu sangat berarti?" tanya Taerea yang kini menatapnya dengan senyuman manis yang terlukis di wajahnya.
"Aku berpikir bagaimana jika aku berada di posisi keluarga korban, ditinggalkan oleh orang yang sangat ku cintai dan di bungkam oleh seluruh pihak hingga teriakan ku hanya sampai di tenggorokan ku saja, rasanya... pasti sangat menyakitkan hingga kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mati dari pada bertahan di sebuah rumah yang telah rubuh,"
Jiwoong semakin tertunduk menatap tangannya yang kini di genggaman erat oleh Taerea ada rasa panas yang kini mulai membakar dadanya nafas nya terasa panas dan pikirannya melayang entah kemana.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HOME
Fiksi Penggemarkalian adalah rumah kedua bagiku, rumah di mana aku bisa tersenyum, tertawa dan merasa bebas namun juga tempat di mana aku bisa merasakan takut dan menangis
