MY HOME
🎂
(22) Kill The Romeo
🎂
Malam itu turun perlahan, seperti sengaja memberi ruang bagi seseorang untuk memperlambat kegiatannya. Langit mendung, tapi tidak hujan hanya dingin yang menusuk, membuat setiap tarikan napas seperti datang dari ruang kosong.
Tepat di ujung gang yang tampak sepi, seseorang sedang mengunci pintu tokonya. Pemuda awal dua puluhan, bekerja sendirian hingga larut karena bosnya tak pernah peduli soal jadwal. Para tetangga ataupun pelanggan sudah tahu bahwa anak itu sering dipaksa lembur tanpa dibayar, sering jadi sasaran kemarahan pelanggan, sering pulang dengan bahu turun karena rasa lelah secara fisik dan lelah akan hinaan yang diterimanya.
Dan seseorang memperhatikan semuanya.
Sudah berhari-hari seorang pria mengamati, bagaikan bayangan yang berdiri di tengah kegelapan. Ia memantaunya tapa ketahuan.
“Ketidakadilan,” gumamnya
Ia melangkah perlahan, tidak tergesa. Ia berjalan pelan dengan hanya membawa tali tipis dan sesuatu yang terlihat seperti alat listrik kecil yang dimodifikasi.
Pemuda itu tersentak saat seseorang menyentuh lengannya.
“Ah, iya? Ada yang bisa saya—”
Suara itu langsung terputus.
Tangan pria itu menutup mulutnya dari belakang, tubuhnya diseret masuk ke dalam lorong sempit antara dua bangunan, tempat lampu-lampu tidak pernah masuk. Hanya suara napas teredam dan gesekan sepatu di lantai beton.
Pria itu menunduk, menatap mata pemuda itu dengan datar tanpa amarah, tanpa dendam.
Yang ada hanya… penilaian.
“Kau bekerja keras,” bisiknya pelan tampak menikmati tatapan memohon yang di tunjukkan padanya.
“Tidak pernah didengar. Tidak pernah dihargai. Dunia membuatmu tidak terlihat.”
Pemuda itu kembali meronta, namun tali telah mengunci kedua lengannya.
Mulutnya dipaksa bungkam oleh kain yang telah di sumpalkan.
“Aku hanya… menyamakan keadaan,” ujarnya sebelum meletakkan alat listrik kecil itu di leher pemuda yang tampak semakin gelisah dan memberontak.
Satu hentakan.
Tubuh pemuda itu kejang, mata membesar, suara tersedak yang terputus-putus memenuhi ruang sempit itu.
Pria itu menunduk lagi, memperhatikan.
Ada semacam kepuasan aneh di sudut bibirnya...bukan senyum, tapi juga bukan juga seuatu yang lain. Lebih seperti seseorang yang akhirnya melihat kenyataannya yang sangat ia impikan.
Beberapa menit kemudian semuanya kembali hening. Tubuh pemuda itu di seret menuju sebuah mobil yang terletak tak jauh dari tempat itu. Ia membawanya ke sebuah ruangan serba putih dan membiarkannya tergeletak rapi di sebuah meja berwarna putih bersih. wajahnya dibersihkan, dan akhirnya ia kembali mulai eksekusi keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HOME
Fiksi Penggemarkalian adalah rumah kedua bagiku, rumah di mana aku bisa tersenyum, tertawa dan merasa bebas namun juga tempat di mana aku bisa merasakan takut dan menangis
