Juntai bintang-bintang,
tak lagi dicari.
Gebyar meriah warna warni bau mesiu,
jadi penghias kisah romansa masa masa belakangan.
Ambang batas nalarku sudah hampir selesai,
menua renta jadi kabut tiada makna.
Kelabu warna mataku jadikan buram pula segala yang kubisa saksikan.
Sayang, belum habis masaku.
Baru sejengkalan saja,
Namun, sudah kurindukan ia yang pernah mengurusi hujan dan tanah ini
Sesungging senyumnya begitu saja jinakan angin yang marah.
Dia raib suatu malam
Setelah ribuan tanya diajukan padanya
Mengapa ia tak bisa rintikan hujan,
menjadi emas pelambang diri.
Menghilang bak asap
dengan air mata merah
Kemudian, seratus gunung mengguncang tanahku, tenggelamkan hal-hal.
hanya kami yang diam saja yang tak turut musnah diraup tanah berpijar bergolak-golak.
konon ia yang terakhir yang masih bisa berkeluh kesah langsung pada Tuhan.
setelah hadirnya tiada, tak pernah lagi damai hadir.
hanya ada sunyi.
hening.
yang diam sembunyikan amuk mengintai di baliknya.
kenangku sungguh telah berkerak,
tak lagi kuingat bagaimana ia dulu kupanggil,
kuhanya tahu jika aku merindunya.
Makin merindunya sejalan waktu.
****
28.Juni.2025
Prayan
KAMU SEDANG MEMBACA
Fruits & Seeds
RandomKumpulan puisi -juga, cerita pendek -bahkan mikro, yang tercecer di Sweek dan gwp.co.id. Cocok untuk readers yang tidak suka dengan works lain saya yang punya bab gemuk-gemuk. cover frame from pinthemAll. @sayapwaktu
