Enam hari tujuh jam empatpuluh lima menit, begitu yang tertera pada layar gawaiku.
Penghitung waktu yang sengaja diaktifkan olehku untuk mencermati sejauh mana aku bisa bertahan. Senyum kecut kemudian tawa remeh tak bisa kutahan, muncul begitu saja menghias muka sendiri yang memanas. Sungguh untung kupilih berpaling balik badan darinya. Dengus halusku terdengar hanya olehku sendiri sembari caci maki memenuhi benak. Selalu tipikal dan seperti kuduga namun aku tetap saja gagal untuk membaik menerima pun menghadapinya. Emosi manusia tidak mudah diurus memang namun setidaknya repetisi dan semua hal yang telah diprediksi bisa menjadikan aku lebih siap. lebih bisa menerima, lebih bisa bersabar, lebih bisa memaklumi dan juga lebih bisa mengatasi dengan solutif. Rangkaian andai-andai linear yang lebih mirip coretan konseptual langsung bubar jalan saat menghadapi skema lapangan. Gegar dan hilang kata seketika. Aku kembali menghadapnya. Sejurus kupandangi baik-baik sosok yang duduk tegak di kursi roda itu.
Rambut kelabu yang masai sebatas leher, kaki yang mengecil dan membengkok, kulit pucat berbercak yang setipis gelatin nyaris hanya membalut tulang. Ringkih seluruhnya kecuali sorot matanya dan gurat keras yang tersisa di air mukanya. Sebentar ingatanku melayang pada sosok masa lalunya yang jauh dari ini. Ia selalu berdiri dan duduk tegak, tubuhnya selalu ideal dengan sinyal berkuasa yang tak bisa ditentang. Aku serta semua saudara sebaya selalu merasa serba salah saat berhadapan dengannya. Kakek kami yang berkuasa dan tak bisa ditentang. Sekarang, waktu telah menggerusnya terkecuali kuasanya. Tubuhnya memang ringkih dimakan usia namun tidak sama sekali ia pikun. Berumur panjang sampai nyaris 90 tahun, seharusnya aku menanyakan rahasia hidupnya.
"Kau, Bocah Kemarin Sore, kenapa bodoh?"
Aku, si Bocah Kemarin Sore dikatai demikian. Mulutku tidak tahu diri langsung membalas,
"Lebih bodoh yang mengharapkan Bocah Kemarin Sore menjadi pintar."
Matanya memandangku. Datar saja raut mukanya bahkan tidak ia mengeraskan rahang. Inilah yang selalu membuatku kesal. Dingin tanpa respon tiap kali disindir apalagi dipuji. Ia jadi menakutkan bagi kami yang muda-muda karena kami tak bisa sama sekali membacanya. Bahkan Ayah, Ibu dan para Paman menilainya sama seperti kami. Sejenak saja kami beradu pandang lalu terbit masam di hatiku. Sialan! Gagal lagi aku menjadi lebih baik dalam menghadapinya -seperti kuduga. Dijamin sepanjang sisa hari akan buruk perasaanku.
"Sebodoh-bodohnya orangtua ini, setidaknya tidak jatuh dalam masalah yang sama, kembali berasumsi sama, dan tetap bertingkah sama tanpa sedikitpun jadi lebih bijak saat menghadapi seorang Kakek."
Sialan dua kali.
"Apa maumu masih sama? Minta dicarikan jalan keluar?"
Aku menahan diri untuk tetap tenang, diam, tidak sedikitpun berekspresi namun yang terjadi hanyalah tubuhku menegang memberikan sinyal kalah padanya. Tanganku tidak mengepal tapi terbuka lebar sambil merapat pada sisi tubuhku. Membuatku tampil bersikap layaknya bocah tujuh tahun yang tengah ditatar oleh Kepala Sekolah akibat kurang sopan.
"Masalah yang sama, solusinya kau tahu sama. Buat apa menemui? Telepon saja kan bisa."
Aku tertawa masam, "Setidaknya, sopan santun seorang Cucu pada Tetua." sinisku.
Ia tertawa meremehkan, "Itikad seorang cucu? Baiklah, masuk akal. Setidaknya kau menjadi satu-satunya Cucu yang tidak takut kunilai hanya memanfaatkan aku sebagai Kakek yang berkuasa."
Aku mencebik, "Memangnya Kakek mengharapkan aku datang tiap minggu lalu memijati punggung?"
Ia memutar bola mata, "Kamu mau menjilat dengan cara perempuan-perempuan itu? Ah! Beberapa hari ini kau memang begitu, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fruits & Seeds
RandomKumpulan puisi -juga, cerita pendek -bahkan mikro, yang tercecer di Sweek dan gwp.co.id. Cocok untuk readers yang tidak suka dengan works lain saya yang punya bab gemuk-gemuk. cover frame from pinthemAll. @sayapwaktu
