Kumpulan puisi -juga, cerita pendek -bahkan mikro, yang tercecer di Sweek dan gwp.co.id. Cocok untuk readers yang tidak suka dengan works lain saya yang punya bab gemuk-gemuk.
cover frame from pinthemAll.
@sayapwaktu
Kau pernah bertanya padaku bagaimana cara Tuhan melukis langit dengan pelangi.
Kau juga pernah bertanya padaku, tentang Malaikat-malaikat yang bercahaya.
Aku juga tidak lupa kalau kau pernah mengatakan sebuah kebohongan besar tentang semesta.
Semesta.
Apa kau gila?
Begitu batinku kala mendengar kau katakan dusta itu dulu.
Atau, mungkinkah, kau sesungguhnya tak paham arti semesta? Bagaimana mungkin kau bilang padaku dengan berbisik lembut bahwa akulah semesta. Tak lupa kau tatap mataku lalu kau kecup lembut pelipisku.
Bodohnya, dulu itu aku malah hanya menunduk dan ikut lupa arti semesta terlalu besar untuk bersanding dengan debar hati juga hangat tubuhmu. Sialnya, seperti belum cukup, bualanmu berlanjut dengan segala akan kau berikan untuk aku.
Sekarang, saat aku sudah bisa bernafas benar, kepalaku kesetrum mengingat janji lama yang sekarang kembali kau ucap.
Tentang semestamu adalah aku.
Tunggu sebentar,
sudah berapa bintang yang menghilang dari langit semenjak kau berkata kalau sinar mataku lebih indah?
Tapi,
aku tak pernah ingat kau berikan bintang-bintang itu padaku.
Lihat,
mataku tidak seindah dulu lagi.
Ada apa ini?
Apa kau mencurinya?
Kemudian kau terdiam.
Tunggu dulu,
aku ingat.
Ya,
aku ingat.
Kau memang memetik mereka,
beberapa bintang yang berkerlipan saat gelap.
Bukan untuk aku,
tetapi dia.
Kulihat juga kemilau di setiap kerling matanya.
Bahkan rambutnya gemerlapan bak sungai mengalir kala disinari rembulan penuh.
Aku abai, sampai akhirnya Venus bertanya padaku akibat bingung kehilangan beberapa pemuja.
Sekarang aku mengerti,
tiadalah artinya semua tanyamu tentang Tuhan dan Malaikat-malaikat.
Pun aku sebagai semestamu hanyalah omong kosong.
Tapi,
tenang saja.
Aku tidaklah punya hati seperti dia,
gadis berambut sungai yang kautaburi gemintang curian.
Aku hanya di sini untuk sekedar berkata,
kalau semua janji yang sempat terucap darimu untuk aku dan tergadaikan,
bukan aku yang akan menagih.
Akan kubiarkan para Malaikat mengejarmu,
sementara aku akan kembali memintal kelam dengan rambut suramku untuk selimuti Bumi dari Mentari sejenak.
Perlulah kau juga tahu kalau bintang-bintang itu adalah hadiah dari Embun Pagi,
yang berterimakasih atas malam yang kurajut.
Kenangan dari para Bidadari pelukis Pelangi yang memanen emas di ujungnya.
Semestaku tak sebatas semestamu,
yang sebatas rasa gelora hangat dalam dadamu,
kala kala kau menatap mataku.
*****
23.06.2020
PM 20:15
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.