Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 21 ~> Tim Cupid Castle

513 32 2
                                        

{Di Studio Photo Shoot}

"Permisi, Pak." ujar Gama dan Forlan hampir bersamaan saat mereka masuk ke ruang studio.

‎Direktur yang sedang mengecek layar monitor menoleh dan menaikkan satu alis. "Saya perhatikan akhir-akhir ini kalian sering datang bareng ya. Kompak banget." nada suaranya datar, tapi senyumnya menyiratkan kalau dia menyadari sesuatu.

‎"Cepat ganti pakaian kalian. Sesi segera dimulai." ujarnya tegas.

‎Tanpa banyak bicara, Gama dan Forlan masuk ke ruang ganti. Tak butuh waktu lama, mereka keluar dengan pakaian yang serasi, elegan dan penuh gaya sesuai tema produk yang akan mereka promosikan.

‎"Oke, kalian akan foto berdua. Konsepnya kayak pasangan yang lagi promosiin produk bareng. Jadi... tolong ya, mesra dikit." ujar koordinator foto sambil tersenyum nakal.

‎Gama menghela nafas pelan. Sementara Forlan terlihat gugup, tangan dingin, tapi mencoba tersenyum.

‎"Tolong lebih deket. Lebih... intimate, ya." ujar fotografer.

‎Sedikit ragu, Forlan mendekat.
‎"Kayak gini?" bisiknya sambil pelan-pelan mengangkat tangan dan menyentuh dagu Gama, menatap matanya.

‎Gama sempat terdiam sepersekian detik. Tatapan mereka bertemu. Hening. ‎Namun Gama langsung mengalihkan pandangan ke kamera dan tersenyum tipis tapi matanya masih menyimpan sesuatu.

‎"Iya. Diam aja dulu." ujar koordinator, matanya tak lepas dari viewfinder.
‎"Jangan gerak."

Klik! Klik!
‎Momen itu berhasil diabadikan. Gama dan Forlan berdiri begitu dekat, hanya beberapa jari yang memisahkan wajah mereka. Tangan Forlan masih di dagu Gama, dan untuk pertama kalinya... tak ada yang menarik diri.

‎"Perfect! Chemistry kalian bagus banget." ujar fotografer dengan nada puas.

Hasil fotonya....

‎Sementara itu, Forlan menunduk pelan, wajahnya merah padam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

‎Sementara itu, Forlan menunduk pelan, wajahnya merah padam.
‎Gama cuma nyengir tipis, lalu membisikkan, ‎"Kalau lo terus-terusan megang dagu gue kayak gitu... bisa-bisa nanti gak fokus fotonya."

‎Forlan mendelik malu.
‎"Biarin... yang penting hasilnya bagus."

‎Mereka berdua pun tertawa kecil. Tapi... ada getaran berbeda di hati masing-masing.

‎"Satu gaya lagi ya." ujar koordinator foto sambil melihat layar kameranya.
‎"Tuan Gama, tolong pegang kepala Forlan dari belakang... kayak sedang mengelus rambut orang tersayang."

‎Gama mengangguk pelan tanpa banyak kata. Ia melangkah mendekat ke Forlan dan perlahan mengelus rambut Forlan dari belakang. Kedua lengannya berada dikepala Forlan, sementara dagunya hampir menyentuh dikepalanya.

‎"Sekarang senyum ya... tunjukkan gigi manis kalian." lanjut koordinator sambil menyesuaikan sudut kameranya.

‎Gama menatap ke arah kamera sambil tersenyum tipis namun hangat, sedangkan tangan kanannya naik perlahan, mengelus lembut kepala Forlan dari belakang. Gerakannya tenang, seolah tanpa dibuat-buat.

‎Forlan, yang awalnya sedikit kaku, akhirnya ikut tersenyum, matanya berbinar, pipinya memerah. Tangannya memegang produk yang diminta sambil mencondongkan sedikit tubuhnya ke Gama, seperti merasa nyaman di dalam pelukan itu.

Klik! Klik!
‎Suara shutter terdengar berulang kali.
‎"Perfect... tahan sebentar!"
‎teriak koordinator sambil tersenyum puas di balik kameranya.

Hasil fotonya....

Forbidden Castle ||•END•||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang