{Di Castle}
Pagi harinya....
Forlec, Brayden, Raychen, Dunfiw, Gama, dan Forlan berkumpul didepan kamar untuk bermain petak umpet. Suasana masih terasa hangat dan sedikit mengantuk, tapi tawa kecil sudah mulai terdengar di antara mereka.
"Huahhh..." Raychen menguap lebar.
"Kenapa mainnya pagi banget sih sayang?" tanya Raychen sambil mengucek mata.
"Biar seru, Chen." ujar Dunfiw bersemangat.
"Forlec, Raychen, Gama, ayok gambreng!" seru Brayden.
"Hompimpa alaiyum gambreng! Gambreng! Gambreng!" teriak mereka serempak.
Forlec, Raychen, dan Gama menampilkan telapak tangan putih, sedangkan Brayden, Dunfiw, dan Forlan menampilkan telapak tangan sebaliknya.
"Kalian jaga." ujar Forlan cepat.
"Hah? Kok kita yang jaga?" protes Gama.
"Kalian sama semua tangannya, berarti kalian yang jaga." jawab Brayden.
"Lho, kalian juga sama!" celetuk Forlec tidak terima.
"Kita kan lagi main petak umpet kelompok." timpal Dunfiw.
"Huft... iya deh, ngalah aja kita." ujar Raychen akhirnya.
"Kalian ngitungnya di kamar masing-masing ya." kata Brayden.
"Kenapa gak bareng aja?" tanya Forlec.
"Nanti curang kalau barengan." sahut Dunfiw.
"Ribet banget kamu, Dunfiw... untung aku sayang." kata Raychen dengan nada manja.
"Cepetan ihhh!" ujar Forlan.
"Iya-iya, masuk nih." balas mereka bertiga hampir bersamaan.
"Satu... dua... tiga..." ucap Raychen, Forlec, dan Gama di kamar masing-masing.
Sementara itu, Brayden, Dunfiw, dan Forlan turun tangga perlahan menemui Phuwiniy dan Savan dibawah.
"Udah kumpul semua?" tanya Brayden dengan suara tegas tapi bergetar.
"Udah, Kak. Ayok!" jawab Nayfan pelan, baru saja turun dari kamarnya.
"Barang-barang udah di bawa semua, kan?" sahut Dunfiw memastikan.
"Udah... ayok, tinggal berangkat." ujar Phuwiniy dengan nada berat.
Tiba-tiba suara Raychen terdengar dari lantai atas.
"Dunfiw? Kenapa pintunya dikunci?"
Dunfiw terdiam, matanya menatap kosong ke arah tangga.
"Forlan! Kamu kalo curang jangan dikunci dong~" teriak Gama dari balik pintu, membuat Forlan menahan tangisnya.
"Brayden? Kamu masih di luar kan?" teriak Forlec dengan nada cemas.
Brayden menarik napas panjang setelah mendengar itu.
"Yaudah... ayo cepat keluar dari sini." ucapnya pelan.
Di luar Castle....
Mereka keluar satu per satu, langkah kaki berat seakan menahan hati yang masih tertinggal di dalam. Wajah-wajah mereka muram karena ini bukan sekadar perjalanan, tapi meninggalkan cinta mereka untuk kedua kalinya.
Baru beberapa langkah dari gerbang, terdengar suara lantang dari belakang.
"Savan!" panggil seseorang.
Savan langsung terhenti. Jantungnya berdegup kencang, karena ia sangat mengenal suara itu-suara Winan.
"Kak... kita tunggu di mobil." ujar Forlan cepat, lalu berlari menyusul Brayden, Dunfiw, Nayfan, dan Phuwiniy. Mereka tahu ini bukan percakapan yang bisa mereka ganggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
General FictionMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
