{Di Castle}
[seminggu telah berlalu]
Pagi harinya....
Meski hari berganti, rasa di hati mereka tetap sama, penuh rindu dan bayangan cinta yang tertinggal.
Nayfan, Phuwiniy, Forlan, Savan, Dunfiw, dan Brayden duduk dalam diam, seolah ada lubang besar yang tak bisa ditambal oleh waktu.
"Kita gak bisa diem terus di sini. Gila, ini nyiksa banget." ujar Forlan kesal, menendang pelan kursi didepannya.
"Gua mau ketemu Winan..." ucap Savan lirih, matanya kosong menatap jendela.
"Tapi kita gak bisa nemuin mereka begitu aja... kalian lihat sendiri kan masa lalu Madam." kata Dunfiw dengan nada berat.
"Tapi tetep aja, gua pengen ketemu Patwan..." lirih Nayfan sambil memainkan tangannya sendiri.
Phuwiniy menatap Brayden yang sejak tadi hanya duduk diam, seperti menimbang sesuatu.
"Kak... lo masih punya buku Forbidden Castle itu gak? Yang bisa bawa kita kesana..."
Brayden mendongak pelan.
"Masih... gue simpen baik-baik. Gue rasa sekarang... kita harus pake lagi."
Mereka semua langsung mengangkat tangan tanpa ragu. Masing-masing tahu, rasa yang mereka pendam selama ini terlalu besar untuk terus ditahan.
"Kalau gitu... kita pergi sekarang. Kita buktiin ke Madam, kalau cinta kita lebih berharga dari semua uang yang dia kasih." ucap Brayden, suaranya tegas tapi bergetar karena emosi.
Mereka pun membawa uang yang dulu diberi Madam. Tak satu pun dari mereka menyentuh uang itu, bukan karena tak butuh, tapi karena hati mereka lebih butuh seseorang yang kini terpisah jauh.
Dengan mobil yang melaju menembus hutan gelap, mereka hanya bermodalkan keyakinan dan cinta yang tidak pernah pudar.
{Di Castle}
Malam harinya...
Fenaly menggeliat dalam tidur yang gelisah. Tubuhnya berkeringat, bibirnya bergetar... dalam mimpinya atau mungkin kenangan, dia melihat Veno berdiri dengan tubuhnya yang mulai menghilang.
"Fenaly... kamu akan merasakan hal yang sama sepertiku... bahkan lebih sakit dari ini..." ucap Veno lirih. Suaranya hancur, bersama luka masa lalu yang belum pernah sembuh.
Fenaly teriak histeris dalam tidurnya. Air mata mengalir deras dari sudut matanya.
"Tidak... tolong jangan... aku tidak mau ini terjadi..." isaknya, tubuhnya menggeliat tak karuan.
Anak-anaknya yang mendengar jeritan itu langsung panik.
"Madam!" seru Patwan sambil mendekat.
"Madam, kumohon sadar!" ujar Gama mengguncang tubuhnya, mulai menangis.
Dalam detik yang mencekam, akhirnya mata Madam perlahan terbuka. Nafasnya berat, tapi hidup. Anak-anaknya langsung memeluknya erat-erat: Winan, Raychen, Forlec, Gama, Patwan, dan Naravan.
Untuk pertama kalinya, Madam benar-benar merasakan pelukan yang utuh... dari anak-anak yang kini mencintainya apa adanya.
"Jangan tinggalin kami lagi, Madam..." ucap Naravan dengan suara pecah menahan tangis.
Madam mengelus lembut kepala mereka semua. "Tenang, Nak... Madam di sini. Madam tidak akan pergi kemana-mana..." ucapnya pelan, tersenyum hangat walau tubuhnya masih lemah.
"Maafin kami... Madam..." tangis Forlec sambil menunduk.
"Kalian gak salah, Nak... yang penting sekarang kita bersama lagi." jawab Madam, menatap mereka satu per satu.
DORR! DORR! DORR!
Suara keras dari pintu Castle menggema seperti petir.
Semua langsung menoleh.
"Siapa yang berani menggedor pintu castle ini?!" seru Madam dengan suara lantang, auranya kembali muncul sebagai pemimpin.
Mereka semua berlari turun tangga, waspada. Winan, Raychen, Forlec, Gama, Naravan, dan Patwan berdiri di belakang Madam yang berjalan paling depan.
Dan lalu...
BRUKK!!
Pintu castle terbuka lebar dan BLEBLAK! enam sosok langsung terjatuh ke lantai marmer dengan pose-pose tak beraturan.
"ARGHH!" rintih Forlan.
"ADUH DENGKUL GUE!" teriak Savan.
"GUE KETIMPA PHUWINIY!" teriak Brayden
Savan, Nayfan, Brayden, Dunfiw, Forlan, dan Phuwiniy tergelatak seperti domino berjatuhan.
Semua didalam castle kaget, lalu...
"....."
Beberapa detik hening.
"Untuk kedua kalinya gue jatuh dari pintu castle ini..." celetuk Phuwiniy sambil memegang pinggangnya,
"...ini pintu apa trampolin sih?!"
"Kenapa lo jatuhnya selalu di atas gue, sih?" keluh Dunfiw yang ketindih.
"Lo jangan salahin gue, gravitasi gak milih-milih orang..." jawab Nayfan dengan gaya dramatis sambil nahan sakit.
Madam menatap mereka semua yang kini sedang berusaha bangkit dari lantai dengan napas ngos-ngosan dan baju berantakan.
Dia tersenyum kecil, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Anak-anak ini... selalu datang dengan cara yang... mengejutkan." ucap Madam dengan nada datar, namun penuh makna.
Lalu Madam beranjak menuju ruang tamu dengan anggun, langkahnya tenang dan penuh wibawa.
"Sini, ikut Madam." ujarnya dengan suara yang mengandung sedikit nada perintah, namun entah kenapa terasa seperti undangan yang hangat.
"Mampus... mau digoreng kayaknya kita." celetuk Savan pelan kepada Forlan, matanya melirik ke arah Madam yang sudah berjalan ke ruang tamu. Keringat dingin mulai mengalir di dahi mereka.
Mereka mengikuti Madam dan duduk di sofa, tetapi anehnya... mereka tidak duduk berdampingan dengan pasangan mereka. Semua duduk terpisah, masing-masing dengan jarak yang lebih jauh dari pasangan mereka. "Kenapa duduknya misah? Kalian gak duduk bareng pasangan kalian?" ujar Madam dengan nada datar yang langsung membuat mereka semua terkejut. Ini benar-benar serius, Madam nggak bercanda.
"Madam kenapa, njir? Ini trik awal penggorengan kah?" celetuk Phuwiniy dengan nada panik, sambil melirik ke Forlan yang duduk di sebelahnya.
Madam hanya mengangkat alisnya, lalu berkata, "Silahkan pindah, jangan saling pandang."
Mereka pun buru-buru pindah tempat, dengan canggung duduk berdampingan dengan pasangan mereka: Savan duduk disamping Winan, Phuwiniy disamping Naravan, Brayden disamping Forlec, Forlan disamping Gama, Dunfiw disamping Raychen, dan Nayfan disamping Patwan.
Posisi mereka sangat canggung, seperti anak kecil yang baru pertama kali pacaran, tangan saling berpegangan tapi tangan lainnya cemas di atas paha, saling menghindar pandang.
"Kayaknya dia lagi siapin minyak buat goreng deh. Tapi, biarin kita bucin dulu aja." celetuk Forlan sambil melihat Madam dengan penuh tanda tanya.
Madam, yang sepertinya menikmati kekacauan ini, tiba-tiba bertanya dengan santai, "Kalian gak pelukan untuk merasakan rindu, karena sudah seminggu berpisah?"
Mendengar itu, semua langsung bereaksi cepat, seperti mendapat lampu hijau untuk saling memeluk. Mereka berpelukan erat dengan pasangan masing-masing, seolah ini adalah momen terindah yang telah lama dinanti. Begitu hangat, rasanya seperti baru bertemu setelah sekian lama berpisah.
"Gila... gue disuruh pelukan! Ini bukan mimpi kan?" celetuk Nayfan dengan wajah kaget, matanya masih nggak percaya.
Madam yang melihat mereka saling memeluk itu tersenyum tipis, hatinya merasa lega melihat anak-anaknya bahagia. Lalu pandangannya beralih ke enam koper yang dulu diberikan kepada mereka. Koper itu masih tergeletak di sudut ruangan, seakan menunggu untuk diberi jawaban.
"Kenapa kalian bawa koper ini kembali?" tanya Madam dengan nada serius, matanya menatap tajam.
Brayden yang sedikit gugup meremas tangan, mencoba untuk mencari kata-kata yang tepat. "Kami... tidak butuh uang itu, Madam."
Madam tersenyum tipis, lalu dengan gerakan yang seolah dilakukan tanpa usaha, dia menghilangkan koper-koper itu dari ruangan dengan satu gerakan tangan. Semua terkejut, seperti melihat sihir di depan mata.
"Mampus... ini waktunya kita dipotong-potong." celetuk Dunfiw dengan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Raychen yang duduk di sebelahnya langsung menutup mulut Dunfiw, takut kalau ucapan itu malah jadi kenyataan.
Madam tertawa kecil, "Tenang saja, anak-anak. Kalian sudah membuat keputusan yang benar. Uang itu tidak akan pernah bisa menggantikan apa yang kalian rasakan sekarang."
Sementara itu, Savan yang masih memeluk Winan, menundukkan kepala. "Gue rasa... kita benar-benar bisa buktiin kalau cinta lebih kuat dari segalanya."
Dan begitu mereka semua duduk bersama, dalam suasana yang lebih tenang, mereka merasa lebih dekat dari sebelumnya. Keputusan yang berat dan perjalanan panjang, tapi disini, bersama Madam dan pasangan mereka, segala rasa cemas dan ragu terasa menghilang, digantikan dengan kehangatan yang tak tergantikan.
Madam akhirnya buka suara setelah mengamati mereka cukup lama. Tatapannya tajam, serius, tapi entah kenapa tetap terasa seperti seorang ibu yang penuh rasa sayang.
"Kalau saya membuat pilihan untuk kalian..." ucapnya perlahan.
"Kalian lebih pilih uang... atau cinta?"
Ruangan langsung hening, semua menatap Madam... sampai Forlan buka suara. "Aku nggak terlalu butuh uang..." Forlan nyender ke sofa, gaya sok cool kayak photoshoot majalah fashion edisi, "...karena aku model. Uangku banyak. Tapi Gama... penting buat aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
Narrativa generaleMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
