{Di Kamar Forlec dan Brayden}
Malam harinya...
Forlec masuk duluan, di susul Brayden yang masih cemberut sejak pemilihan partner tadi siang. Tanpa banyak omong, Forlec langsung menjatuhkan diri ke kasur, seolah dunia ini bukan urusannya lagi.
Brayden berdiri bengong.
"Gua tidur di mana?"
"Lantai kosong tuh. Tinggal rebahan." jawab Forlec ketus, gak sedikit pun nengok.
Brayden mendecak pelan.
Rasanya pengen gua geprek kepala kubah satu ini.
Tapi ya sudahlah. Dari semua pilihan yang ada, melawan Forlec mungkin sama aja kaya ngebuka pintu masuk neraka.
Brayden ngalah, ambil bantal tipis dan gelar jaket di lantai sebagai alas seadanya.
Mereka pun tidur, dengan posisi membelakangi satu sama lain, diam dan gak peduli.
Beberapa jam kemudian...
"Aku tidak mau... aku tidak ingin menjadi sepertimu..."
Brayden mengerutkan kening, matanya terbuka perlahan....
"Apa sih... ini suara apaan anjir?"
"DADDY, MENJAUHLAH!! DAD!!!"
Brayden langsung duduk setengah sadar.... "Sialan... si kubah ngigau?"
Tapi suara itu... bukan sekadar ngigau. Nafas Forlec mulai berat, tubuhnya berkeringat, wajah pucat, matanya mengeluarkan air mata. Dia lagi mimpi buruk parah.
Brayden buru-buru bangkit dari lantai, panik. "Forlec! Hey! Bangun! Lo kenapa?" serunya sambil mengguncang tubuh Forlec.
Dan tanpa peringatan...
Forlec langsung menarik Brayden ke dalam pelukannya dengan erat.
Brayden terdiam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seseorang memeluknya seperti itu. Nafas Forlec masih berat, tubuhnya dingin dan gemetar.
Brayden perlahan mengangkat tangan, memeluk balik, dan mengelus pelan punggung Forlec.
"Tenang... tenang ya... ada gua di sini."
Mereka tetap begitu beberapa menit. Kemudian Brayden mencoba merebahkan Forlec perlahan ke kasur, tapi Forlec masih memeluk erat, gak mau lepas.
Sialan si kubah... gua di peluk erat banget anjing, sesek bangsat. batinnya, nyaris frustrasi tapi... ada sedikit kehangatan aneh yang gak bisa dia jelaskan.
Keesokan harinya...
Matahari pagi menembus jendela dan menusuk mata Brayden yang masih rebahan di kasur.
"Ugh... Forlec, lo udah—eh..."
Brayden bangun, mengucek mata, lalu menoleh ke sebelahnya.
Kosong.
"Si kubah kemana lagi..." gumamnya sambil berdiri dan meregangkan tubuh.
"ARGH!! SIAL!"
Terdengar suara dari dapur, seperti seseorang merintih kesakitan.
Tanpa pikir panjang, Brayden langsung lari ke sumber suara.
[Di Dapur]
Forlec berdiri dengan tangan yang tergores, wajahnya menahan sakit. Pisau dan beberapa bahan makanan berserakan di meja.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Brayden, nadanya refleks khawatir.
"Nggak usah so peduli lo!" bentak Forlec nadanya tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
Narrativa generaleMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
