Menceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit di luar gelap total, hanya sesekali cahaya bulan menembus tirai jendela.
Savan menutup pintu perlahan. Dia menatap Winan yang duduk disamping ranjang, tapi sorot matanya penuh beban.
Tanpa banyak pikir, Savan segera menghampirinya, duduk di samping Winan dan memeluknya dari samping.
"Winan... kamu kenapa? Sejak Madam pergi, muka kamu kelihatan khawatir banget." bisiknya pelan.
Winan terdiam sejenak, menunduk. Lalu pelan-pelan membuka suara, dengan suara yang berat, "Savan... setelah sebulan ini... apa gue nggak akan lihat lo lagi di castle ini?"
Savan menarik nafas panjang. "Winan... aku dan saudara-saudaraku disini sebagai tahanan. Kita cuma dikasih waktu sebulan. Setelah itu... entah apa yang bakal terjadi, kita akan pulang ke kehidupan normal."
Winan langsung menoleh, matanya berkaca-kaca. "Tapi Savan... gue suka sama lo, sejak awal ketemu. Gue nggak peduli lo manusia... gue cuma nggak mau lo pergi."
Savan tersenyum kecil, penuh rasa sedih yang ditahan. Tangannya meraih pipi Winan, menyentuhnya lembut.
"Winan... aku juga suka sama kamu."
Winan menatap matanya Savan. Tangannya gemetar sedikit saat menggenggam tangan Savan.
"Savan... jangan tinggalin gue ya. Jangan per-"
Belum sempat kalimat itu selesai...
Savan memajukan tubuhnya dan menciumnya. Bibir mereka saling menyapa dalam keheningan malam. Tak ada suara lain selain detak jantung dan nafas mereka yang mulai menyatu.
Pelan-pelan, Winan memeluk pinggang Savan, membiarkan semua rasa yang selama ini tertahan mengalir lewat ciuman itu. Mereka tak bicara... karena kadang, rasa tak perlu dijelaskan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Winan melepaskan ciumannya, lalu menatap Savan lekat-lekat.
"Boleh kan?" tanyanya dengan suara rendah, namun penuh keraguan.
Savan menelan ludah. Matanya menatap mata Winan, lalu tersenyum samar. "Boleh, Winan..."
Dengan gerakan perlahan, Winan melepaskan baju Savan begitu dengan Winan melepaskan bajunya sendiri, lalu mencium leher Savan dengan lembut, seolah ingin menanamkan rasa sayang dan luka yang belum sempat terucap.
Desahan lembut keluar dari bibir Savan, tapi bersamaan dengan itu, tubuhnya menegang. Winan yang larut dalam perasaan dan kerinduan mulai kehilangan kendali sampai suara lirih itu terdengar:
"Eunghh... Winanhhh..."
Winan meniduri tubuh kecil Savan dikasur, kini mereka masih ciuman tangan Winan mengelus paha mulus Savan dan meremasnya.... "Ahh... Winhhh... hhh..." rintih Savan.