Sesampainya di depan pintu gudang, tangannya gemetar saat mendorong pintunya perlahan.
Ceklek...
Pemandangan di dalam membuat tubuhnya membeku. Terlihat di sana Savan mengenakan pakaian oversize dengan celana pendek, sedang didekati oleh Raychen dan Gama.
Winan yang menyaksikan kejadian itu langsung terdiam, tak mampu bergerak sedikit pun.
"K-kalian ngapain?!" suara Winan terdengar pecah karena kaget.
"Winan... tolong..." suara Savan bergetar, tangisnya tertahan.
Sesuatu di dalam dada Winan serasa sesak. Amarah yang bahkan tidak ia mengerti asalnya.
"Dia nggak inget apapun. Sekarang lo milik gue!" ucap Raychen tersenyum.
"Milik gue juga nggak sih?!" ujar Gama menarik rahang milik Savan mendekati bibirnya. Belum sempat bibir Savan mengenai bibir Gama.
Winan langsung maju. ia langsung mendorong Gama dan Raychen sampai mereka berdua terjatuh, entah mengapa tenaga Winan bisa sekuat itu membuat Raychen dan Gama terhuyung lemari tua yang berada di gudang itu.
"Akkh—"
"Brengsek—"
"Apa yang kalian lakukan sama Savan?!" bentak Winan. Suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang nyaris tak tertahan.
"Nyentuh Savan." jawab Gama lantang tanpa rasa bersalah. Ia melangkah mendekat dan menarik paksa tangan Savan.
"Gama!" Winan langsung mendorongnya keras.
"Kamu udah keterlaluan!"
Tubuh Gama terdorong ke belakang, tapi ia malah tersenyum sinis.
Savan yang sejak tadi ketakutan akhirnya runtuh. Tangannya mencengkeram baju Winan, tubuhnya gemetar hebat. Winan refleks memeluknya erat, menutup kepala Savan ke dadanya.
"Gak apa-apa... aku di sini." bisik Winan, mencoba menenangkan Savan.
"Ayolah, Winan." sela Raychen dengan nada setengah bercanda, setengah meremehkan.
"Gua bosen sama cewek terus..."
Kalimat itu membuat Winan kesal.
Ia melepaskan pelukannya dari Savan, melangkah mendekati Raychen dengan mata merah menyala.
"Bosen sama cewek?" suaranya rendah, tajam.
"Jadi... Kak Raychen udah sering ngelakuin hal kayak gini?"
Raychen tersenyum miring.
"Iya." katanya tanpa penyesalan.
"Gua bukan Abang baik yang lo kira. Gua nggak sebaik yang lo pikirin!"
Raychen mendorong bahu Winan kasar.
Dorongan itu—
membuka sesuatu di kepala Winan.
Kilasan bayangan masa lalu menyeruak.
Bayangan itu muncul lagi....
dirinya yang dulu, berdiri di tempat yang sama.
[ Dalam ingatannya.... ]
"Tolong siapapun tolong, Kak Nayfan hiks... hiks..." tangis Savan.
"Berteriaklah sesuka hati lo, kamar ini anti suara." ucap Gama tersenyum simrk.
"Lo mau bagian mananya?" tanya Raychen.
"Emang dia bakal kuat sama kita berdua? Gua yakin dia bakal nangis kejer sih." ucap Gama tersenyum membuat Satang takut, kini tubuhnya sudah gemetar.
BRAKK!
Pintu kamar terbuka dengan keras, membanting ke dinding.
Winan berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap, rahangnya mengeras.
"Winan?! Kok lo bisa mas—"
Gama belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Lo boleh nyentuh jalang manapun... tapi jangan Savan!" bentak Winan, suaranya tajam penuh amarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
Fiksi UmumMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
