Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 4 ~> Menjelajahi

808 68 4
                                        

{Di Rumah}

Pagi harinya....

Brayden memanggil semua Adik untuk berkumpul diruang tamu.

"Ngapain sih, Kak? Pagi-pagi gini nyuruh kita ngumpul segala." keluh Forlan sambil mengucek matanya.

Brayden berdiri di tengah, wajahnya berbinar. "Kita... AKAN MENELUSURI HUTAN UNTUK MENCARI CASTLE! YEAAAY!!"

"APA?!!"
Semua serempak kaget kecuali Forlan yang malah makin bingung.

"Sumpah, Kak..." ucap Nayfan menggelengkan kepala. "Gue nggak nyangka lo beneran mau masuk hutan cuma buat nyari Castle dari buku lo itu."

"Lo serius, Kak? Itu hutan, bukan taman bermain." timpal Dunfiw, masih tak percaya.

"Hutan itu tempat apa, Kak?" tanya Forlan polos.

Brayden tersenyum penuh semangat.
"Menurut buku yang gue baca, tempat itu jarang di temui banyak orang. Gimana... tertarik nggak lo, Dek?" ujar Brayden meyakinkan adeknya.

"Wah... itu pasti seru, AKU IKUT KAK!!" teriak Forlan kesenengan.

Tapi Dunfiw buru-buru mengingatkan Forlan.... "Forlan, hari ini kamu ada jadwal photo shoot, inget? Sebaiknya kamu pergi, bisa telat nanti."

"Forlan pengen ikut ke hutan..." gumam Forlan kecewa.

"Tenang, kita nggak berangkat hari ini kok. Ini baru ngobrol-ngobrol aja." kata Nayfan menenangkan.

"Yaudah deh, aku pergi dulu ke photo shoot nya ya, byee~" Forlan pun pamit dan berlari keluar.

Nayfan menatap Brayden serius.
"Lo serius, Kak?"

"Serius lah. Di buku itu udah jelas-jelas di tulis, lokasi Castle nya ada di hutan ini."

"Kita harus banget bawa Forlan? Kita nggak tau di sana kayak apa... gimana kalau ada binatang buas?"

"Kalian ini terlalu parno. Kalo nggak ada yang mau ikut, ya gue pergi sendiri." ucap Brayden santai.

"Gue ikut, Kak. Gue penasaran juga, kayak gimana sih hutan itu." kata Phuwiniy antusias.

"Savan juga pengen ikut." timpal Savan dengan senyum tipis.

"Bagus! Besok pagi kita berangkat. Gue mau belanja perlengkapan dulu ke supermarket." ucap Brayden, lalu bangkit dan pergi.

Dunfiw menatap kedua adik laki-lakinya....
"Kalian serius mau ikut?"

"Ayolah, Kak. Kapan lagi kita main ke tempat kayak gitu." bujuk Savan sambil nyengir.

Dunfiw mengeluh pasrah.
"Huft... terserah deh. Kalo kalian semua ikut, masa gue diem aja dirumah?"

Nayfan mencibir. "Dunfiw! Lo kok malah ikutan juga sih?"

"Mau gimana lagi, Nayfan? Nggak mungkin kita biarin mereka masuk hutan sendirian..."

Nayfan mendecak, lalu bersandar lemas di sofa.
"Ck... yaudah deh, gue ikut juga."

Meski dengan berat hati, Nayfan dan Dunfiw akhirnya setuju. Mereka tahu, tak mungkin membiarkan Adiknya pergi ke hutan sendirian... apalagi kalau ternyata isi hutan itu bukan sekadar pepohonan.

{Di Studio Photo Short}

"Maaf, Pak... saya telat." Forlan datang terburu-buru, napasnya tersengal, keringat masih menetes di pelipisnya.

"Telat lagi..." gumam seorang pria berambut rapi sambil melirik jam tangan.

"Ck, lama!" celetuk Gama, rekan sesama model yang sudah menunggu sejak tadi.

Forbidden Castle ||•END•||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang