{Di Rumah}
Keesokan harinya....
Pagi ini, semua orang sudah berkumpul dimeja makan kecuali Forlan, yang seperti biasa belum bangun. Tidak ada yang heran, kebiasaan bangun siang itu sudah jadi ciri khasnya.
"Gue kayaknya bakal cari kerja deh." celetuk Brayden sambil menyendok nasi.
"Lo mau kerja di mana?" tanya Nayfan, mulutnya masih penuh makanan.
"Mungkin di perusahaan gitu. Kalau gue diterima." jawab Brayden santai.
Dunfiw menoleh ke arah Savan.
"Gimana keadaan kaki lo, Savan?"
"Udah nggak terlalu sakit, Kak." jawab Savan pelan. "Tapi aku masih belum bisa jalan normal, masih agak pincang."
"Nanti berobat ya, Kakak temenin." ujar Nayfan lembut.
"Si Forlan mana sih, anjir?" keluh Phuwiniy sambil mengunyah ayam.
"Biarin lah, Phuwiniy." sela Brayden.
"Dia mungkin masih mau istirahat. Kemarin kelihatannya capek banget."
Belum sempat mereka lanjut bicara, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga, cepat dan tergesa.
Muncullah Forlan, buru-buru merapikan bajunya sambil menuruni tangga.
"Forlan, kamu mau ke mana?" tanya Savan.
"Aku ada jadwal Photo Short, Kak." jawab Forlan cepat. Ia mengambil roti isi cokelat, meneguk susu dalam sekali minum.
"Tapi, bukannya ini hari libur?" tanya Dunfiw heran.
"Aku mau ketemu Gama!" jawab Forlan singkat, lalu berlari keluar dari rumah.
"FORLAN!!" teriak Phuwiniy dari ruang makan.
"Dia masih keras kepala kayak biasa." gumam Phuwiniy sambil menggeleng.
"Biarin aja." kata Nayfan dengan nada pasrah. "Kita nggak bisa larang kalau udah kecintaan kayak gitu."
Phuwiniy mendengus. "Ngomong gitu seolah lo nggak pernah kecintaan."
Ucapan itu langsung dibalas tatapan tajam dari Nayfan.
"Maksud lo Phu—" Nayfan hendak membalas, tapi terpotong oleh suara Dunfiw.
"Udah, Nayfan! Jangan berantem." ujar dunfiw
"Kak Brayden anterin gue ke rumah sakit. Kita harus periksa kaki Savan." ujar dunfiw tenang.
"Kok gue? Ayam gue belum abis ini" ujar brayden.
"Gue aja yang bawa Savan ke rumah sakit." ujar Nayfan.
"Gimana caranya lo bawa dia?" tanya Dunfiw.
"Pake motor." jawab Nayfan santai.
"Pake motor butut lo itu?" celetuk Phuwiniy sambil nyengir.
"Phuwiniy, lo mau banget ribut sama gue ya?!" ucap Nayfan kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
General FictionMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
