Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 9 ~> Memasak Bareng

603 38 0
                                        

sebelum Gama dan Forlan ketemu Raychen dan Dunfiw diruang tengah....

{Di Kamar Gama dan Forlan}

Malam harinya...

Mereka memasuki kamar dengan wajah lesu dan suasana hati yang nggak bisa lebih buruk dari itu.

"Males banget sebenernya gue milih lo." celetuk Forlan sambil buang muka.

"Gue juga nggak berharap di pilih sama lo." balas Gama sinis, menutup pintu sedikit lebih keras dari seharusnya.

"Besok lo harus bangun pagi buat masakin gue. Dan karena cuma ada satu kasur, kita tidur bareng. Tapi jangan ge-er. Gue nggak bakal nyentuh lo! Itu hal yang bahkan nggak bisa gue bayangin." nada Gama tajam.

"Sekarang tidur, Forlan."

Forlan cuma mendecak pelan.
"Dih, gue juga. Kalo suka sama cowok, gua milih-milih. Nggak sudi di sentuh cowok kayak lo." celetuknya sambil memanjat kasur, merebahkan diri disisi yang paling jauh dari Gama.

Kasur itu cukup luas, tapi heningnya lebih luas lagi. Mereka tidur bersebelahan tanpa saling melihat, hanya punggung bertemu punggung.

Pagi harinya...

Gama menggeliat pelan di kasur, kelopak matanya masih setengah tertutup saat tiba-tiba...

Ciuman bau masakan masuk ke hidungnya. Bukan aroma gosong. Tapi wangi yang... anehnya enak.

"Hmm... kalau gue liat dapur udah kayak kapal pecah, gua bakal pegang pinggang Forlan." gerutunya setengah sadar, lalu bangkit dan jalan ke dapur.

Begitu sampai... dan Yap!. Ini bukan kapal pecah lagi, ini kapal ambruk, kebalik, terus meledak.

"Lo bisa masak nggak sih?!" bentaknya sambil masih ngucek-ngucek mata, nyaris nabrak panci yang entah kenapa udah di lantai.

"Bisa elah! Lo tunggu aja di meja makan, jangan ganggu gue." balas Forlan yang lagi sibuk bergulat dengan api dan wajan.

"Ck. Gua bantu deh." ucap Gama, lalu langsung mendekati Forlan.

"Udah gua bilang—" ucap Forlan terhenti... karena tiba-tiba Gama memegang pinggangnya dari belakang.

"Lo ngapain, anjing?!" Forlan melotot.

"Bantuin lo."

"Maksud gua, lo ngapain pegang pinggang gue?!"

"Gua bingung mau bantuin apaan. Jadi gua pegang lo aja, takutnya lo tiba-tiba bakar dapur, biar gampang gua angkat."

"Orang gila anjing! Lo malah bikin gua susah gerak, kocak."

"Udahlah, cepet masak. Gua laper." rengek Gama, nyenderin dagunya dipundak Forlan.

Forlan cuma bisa mendengus. Mau protes juga percuma. Terpaksa ia lanjut masak sambil mencoba mengabaikan tangan Gama yang masih melingkar di pinggangnya dan kepala berat yang nempel dipundaknya.

Beberapa menit kemudian...

"Huft... akhirnya jadi juga makanannya. Sekarang lepasin pinggang gue!" ucap Forlan tegas.

Gama dengan santai melepaskan tangannya, lalu langsung duduk dimeja makan.

Aroma harum nasi goreng perlahan menyusup dari arah tangga, menyelinap hingga ke ruang tengah.

Gama yang tengah duduk santai langsung bangkit, mencium bau itu sambil mengernyit penasaran.

"Hmm... bukan bau daging mentah. Tapi... ini menarik."

Forbidden Castle ||•END•||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang