Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 38 ~> Malam yang Sunyi🔞⚠️

469 24 3
                                        

{Di Hotel Jaide}

Dunfiw berdiri diam di dekat jendela kamarnya, matanya menatap pemandangan luar Hotel Jaide yang terbentang indah di bawah cahaya malam. Dari ketinggian, bangunan hotel tampak megah dengan desain modern yang melengkung, deretan balkon dan jendela tersusun rapi, diterangi lampu-lampu hangat yang menciptakan suasana tenang dan nyaman.

Di bawah sana, taman hijau tertata rapi dengan jalan setapak berbatu yang berkelok di antara pepohonan dan tanaman tropis. Lampu taman kecil menyala temaram, menerangi jalur pejalan kaki dan kolam kecil yang airnya berkilau memantulkan cahaya malam.

Suasana begitu sunyi dan damai, hanya ditemani angin dan cahaya yang menenangkan hati. Dunfiw menarik napas pelan, lalu berkata....
"Indah banget pemandangannya." gumam Dunfiw pelan.

Raychen melihat Dunfiw yang berdiri tenang di dekat jendela hotel, matanya menatap pemandangan malam yang berkilau di luar sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Raychen melihat Dunfiw yang berdiri tenang di dekat jendela hotel, matanya menatap pemandangan malam yang berkilau di luar sana. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah mendekat lalu memeluk Dunfiw dari belakang, merasakan hangat tubuhnya. Kepalanya ia sandarkan dibahu Dunfiw, senyum kecil terukir di wajahnya.

"Indah ya, sayang?" ucap Raychen lembut.

Dunfiw melirik pelan ke samping, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Makasih ya... udah bawa aku kesini." ujarnya.
"Aku senang banget bisa lihat pemandangan seindah ini. Rasanya nyaman."

Raychen mengeratkan pelukannya sebentar, lalu Dunfiw perlahan membalikkan badan. Mata mereka bertemu, saling menatap dalam diam yang hangat. Dunfiw tersenyum, dan Raychen tanpa sadar mendekat, menyentuh bibir Dunfiw dengan ciuman lembut. Dunfiw tak menolak, justru membalasnya pelan.
"Mmphhh..."

Tangan Raychen memegang pinggang Dunfiw, sementara tangan Dunfiw bertumpu di dada Raychen yang terasa hangat dan kokoh. Saat Raychen mulai memasukkan tangannya ke dalam baju Dunfiw tiba-tiba Dunfiw mendorongnya pelan, napasnya sedikit gugup.
"Chen..." panggilnya lirih.

Raychen langsung tersadar, ia mundur sedikit dan menunduk.
"Maaf... aku kebablasan." katanya tulus.

Dunfiw menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Mau olahraga bareng?" ucapnya tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana.

Raychen mengangkat alis, jelas kebingungan.
"Olahraga?" tanyanya, sebelum Dunfiw menarik tangannya menuju tengah ruangan.

"Oke, jadi pertama-" ucapan Dunfiw terpotong ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan saat melangkah mundur. Dunfiw terjatuh ke lantai, dan refleks menutup mata. Belum sempat ia terjatuh, Raychen sudah lebih dulu menahan tubuhnya, ikut terjatuh dan berakhir tepat diatasnya. Jarak mereka kini begitu dekat, hanya dipisahkan oleh napas yang saling beradu pelan.

 Jarak mereka kini begitu dekat, hanya dipisahkan oleh napas yang saling beradu pelan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Forbidden Castle ||•END•||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang